Social Icons

Pages

Tampilkan postingan dengan label ceritacintaislami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ceritacintaislami. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 Februari 2017

Menangislah Karena Bidadari Itu Terlalu Sempurna Untukmu - Cerpen Cinta Islami



MENANGISLAH KARENA BIDADARI ITU TERLALU SEMPURNA UNTUKMU
Karya Rifki Reza Rahmana

Pagi itu masih dingin,kota Padang yang semalaman diguyur hujan lebat sehingga masih terlihat sisa-sisa guyuran hujan yang membuat ranting-ranting pohon dan dedaunan disekitar Wismaku banyak yang berguguran karena begitu lebatnya hujan yang mengguyur Padang dan sekitarnya tadi malam sehingga efeknya juga dirasakan oleh rekan-rekan seperjuanganku yang ada diwisma ibarat sebuah rutinitas musiman ketika musim hujan sudah datang kamar mandi yang biasanya antri tiap pagi ketika musim panas tapi sangat kontras dengan yang terjadi ketika musim hujan hanya beberapa orang ikhwah yang tampak untuk sekedar memercikan air dikamar mandi karena sebagian mereka lebih memilih untuk beramah tamah dengan selimut diatas kasur karena sulitnya untuk bangkit karena suasana pagi yang cukup dingin seakan selimut begitu menggoda untuk tetap dalam cengkramannya,kulihat jam yang ada ditanganku sudah hampir jam 7 akupun bergegas untuk mengkemasi seluruh keperluan kuliah hari ini sengaja aku percepat kekampus karena ada janji denga Ustdz

Isran di Mesjid kampus pagi ini,sesampai dikampus kutegakkan shalat Tahiyatul mesjid disusul denga 4 rakaat shalat dhuha lalu kutadahkan tanganku ketas sembari berdoa,akupun menyambung ibadah paginya dengan membaca Al-Qur’an sembari menunggu Ustadz datang,selang beberapa menit kemudian seorang Ikhwah menghampiriku akupun menutup bacaan Qur’anku dan kemudian menyalami ikhwah yang menghampiriku
“Assalamualaikum akhi Rahman”sapa ikhwah kepadaku
“walaikumsalamwarahmatullahhiwabarakatu,apa kabar Akhi…? Jawabku sambil tak lupa bertanya
“Alhamdulillah ana baik,gimana dengan antum? Ana dengar kabar udah siap nikah ni…mata ikhwah menggerling menggoda kearahku.Akupun Cuma tersenyum dan tak berniat untuk menanggapi gurauanya
“akh disini ada bidadari”
“bidadari?”darahkupun berdesir mendengar ucapannya
“sini ana tunjukkan akhwatnya,,,beliau akhwat yang luar biasa,anak Psikologi serta ketua bidang kaderisasi akhwat dikampus ini,akhwat yang cerdas,aktivis,mengagumkan dan ibadah yang sudah tidak diragukan lagi serta akhlak yang begitu sempurna beliau adalah Mentor adik ana cocok untuk antum!ikhwah itu menjelaskan panjang lebar yang membuatku semakin penasaran.

Lalu tunjuknya mengarah kesosok seorang akhwat,tak lama sesosok yang dibilang bidadari itu muncul dengan jelas
“Subhanallah…”gumanku dalam hati,seakan darah ini semakin berdesir setelah memandangnya tapi cepat-cepat kupalingkan pandanganku dengan mencoba untuk menunduk dan mengalihkan pembicaraan
“udah dulu Akh ana ke Perpus dulu Assalamualaikum” belum sempat aku melangkah seorang Ikhwah memanggilku
“Akhi Rahman….ni ada titipan surat untuk antum dari Ustadz Isran”

Akupun membalikkan badanku kearah ikhwah yang memanggilku dan menerima surat yang dititipkan untukku oleh ustadz Isran.
“afwan Akhi…ustadz tadi pesan beliau ndak bisa nemui antum sekarang karena beliau ngantar istrinya yang sedang sakit,,,oh ya nanti setelah antum baca isi surat tu Taffadol hubungai ustadz Isran langsung”
“hmmm…Ya akh Syukron suratnya,,,afwan ngerepotin antum Assalmualaikum”
“Afwan Akh…Walaikumsalam”
Akupun melangkahkan kakiku menuju keperpustakaan sembari memasukkan surat yang dititipkan Ustadz kedalam tasku,sesampai dipustaka tepatnya dilantai empat akupun mencari tempat yang agak sepi agar aku lebih leluasa untuk membaca biodata Akhwat yang diberikan ustadz untukku,”Bismilla hirrahma nirrohim” kumantapkan hati untuk membaca huruf demi huruf yang ada dalam biodata tersebut “akhwat luar biasa”gumamku dalam hati,usianya hampir sebaya denganku nampaknya Ibu dan Ayah pasti senang melihanya,dengan hati yang berbunga-bunga ku ambil selembar foto yang ada didalam Amplop,tapi ketika Foto itu baru akan keluar tiba-tiba Akhwat yang dikatakan bidadari oleh Ikhwah tadi lewat persis disampingku dengan gugup langsung kumasukkan kembali foto beserta biodata akhwat dari ustadz kedalam amplop dan langsung bergegas menuju lantai bawah perpustakaan karena takutnya aku tidak sanggup menahan pandangan kepada akhwat tersebut.

Setelah selesai kuliah jam ke tiga tepatnya pada pukul 12:10 akupun bergegas menuju Mesjid kampus untuk bersiap menunaikan Shalat Dzuhur,selesai shalat akupun langsung bergegas menuju wisma ku yang tidak begitu jauh dari kampus tempatku kuliah sesampai diwisma dengan bergegas ku kunci pintu kamarku dan langsung mengambil foto Akhwat dari dalam amplop,akupun terkejut bukan main ketika melihat foto akhwat tersebut ternyata akhwat yang dibilang bidadari oleh ikhwah tadi yang ditawarkan Ustadz kepadaku dengan tetesan air mata akupun langsung sujud syukur

Ya Allah engkau yang maha mendengar dan maha mengetahui
Apabila dia benar seseorang yang kau pilihkan untukku
Seseorang yang akan menjadi ibu bagi anak-anakku
Seorang yang akan menjadi teman didalam setiap perjuanganku
Maka jadikan lah dia sebagai penyemangat dan pengingat bagiku dalam perjuangan
Dakwah ini,jangan sampai dia menjadi penghalang bagiku untuk memperjuangkan
Dakwah ini Ya Allah,Ya Allah lancarkanlah segala urusanku dalam menempuh proses
Selanjutnya Ya Allah……Amin

Taaruf yang kujalani dengan Ukhti Dina nama akhwat yang disodorkan Ustdz Isran kepadaku sangat wajar dan baik-baik saja,aku didampingi oleh Ustadz Isran sedangkan Ukhti Dina didampingi istri beliau,komunikasi berjalan dengan baik,penyatuan persepsi lancar,pengungkapan kondisi keluarga dan latar belakangnya juga lancar,akupun merasa deg-degkan dan was-was ikhtiar ini gagal ketika orang tua Dina mengujinya.
“Abi sudah mendengar kebaikan akhlak dan aktivitasmu dikampus,sekarang Abi ingin dengar bacaan Qur’an mu,Abi tidak ingin menyerahkan putrid Abi kepada orang yang tidak bagus bacaan Qur’annya”
“Itulah Ujiannya,Alhamdulilah lancar meskipun masih banyak catatan-catatan yang dipesankan orang tua dina kepada ku” sekarang aku hanya menunggu hari proses pengkitbahan yang akan melibatkan keluargaku.
2 minggu kemudian
Hingga tibalah waktu yang dinanti. Hari ini seharusnya aku dan keluargaku datang untuk mengkhitbah Dina. Hari ini seharusnya rombongan berangkat dengan wajah berseri. Namun, Allah membuat rencana yang sangat berbeda. Aku yang semalam penuh diliputi senyum simpul, kini banyak menunduk dan beristighfar.Sungguh siapa sangka, lamaran kali ini gagal. Dina, sang aktivis dakwah yang telah menjual diri dan jiwanya untuk berjihad fii sabiilillah, pulang ke rumah orang tuanya, bukan untuk dilamar, melainkan untuk dimakamkan.


Motor yang dikendarainya sehabis pulang dari Ta’zia kerumah salah satu akhwat seperjuangannya dikampus yang ayahnya meninggal dunia,menabrak trotoar jalan sehingga sangat sulit dikendalikan dan iapun terpental jauh ke aspal dan langsung dilindas sebuah mobil pick up.Akupun tercenung menatap tanah merah basah di pekuburan itu. Di dalamnya bersemayam jasad sang mujahidah. Bidadari yang hendak aku sunting. Semilir angin menghembuskan wangi kesturi, wangi para syuhada.Dalam desah akupun bergumam,
“Kau ternyata wanita agung. Kau lebih mulia daripada bidadari. Akupun tak diizinkan Allah untuk sekedar mengkhitbahmu, apalagi memilikimu. Maafkan aku, yang dulu terlambat untuk mengenal dan meminangmu” akupun hanya tertunduk dalam. “Subhanallah… aku tak mengira bahwa kau adalah bidadari yang diturunkan Allah untukku. Allah menurunkanmu bukan untuk kumiliki, tetapi untuk menegurku dari segala kesombongan.

***TAMAT***

Rabu, 01 Februari 2017

Cerita Cinta Menyentuh Hati - Aku Ingin Mencintaimu Dengan Sederhana


BY ADMIN SELASA, 10 APRIL 2012 1 COMMENT
Setiap cinta memiliki cerita yang berbeda-beda , ada yang menjalani cinta dengan keadaan yang baik namun juga ada yang dalam keadaan buruk misalkan saja tidak di setujui oleh orang tua dll. Cerita cinta yang menyentuh hati biasanya akan membuat pelakunya selalu ingat dan tak akan terlupakan karena sangat berkesan, itulah jalan cerita yang di bawa setiap orang berbeda-beda dan kita harus tetap mensyukuri setiap apa yang ada pada diri kita.

Bagi kalian yang ingin membaca cerita cinta menyentuh hati mungkin cerita yang nanti akan saya share kepada anda dapat membuat anda terpaku ( sok tau nih saya.hheee ) , Inilah lakon / perjalanan cinta yang memiliki cerita cinta menyentuh hati bagi siapa saja yang membacanya. Jadi nikmatilah cerita cinta di bawah ini :


Aku memandang kalender yang terletak di meja dengan kesal. Sabtu, 30 Maret 2002, hari ulang tahun perkawinan kami yang ketiga. Dan untuk ketiga kalinya pula Aa’ lupa. Ulang tahun pertama, Aa’ lupa karena harus rapat dengan direksi untuk menyelesaikan beberapa masalah keuangan perusahaan. Sebagai Direktur keuangan, Aa’ memang berkewajiban menyelesaikan masalah tersebut. Baiklah, aku maklum. Persoalan saat itu memang lumayan pelik.

Ulang tahun kedua, Aa’ harus keluar kota untuk melakukan presentasi. Kesibukannya membuatnya lupa. Dan setelah minta maaf, waktu aku menyatakan kekesalanku, dengan kalem ia menyahut,” Dik, toh aku sudah membuktikan cintaku sepanjang tahun. Hari itu tidak dirayakan kan tidak apa-apa. Cinta kan tidak butuh upacara…”

Sekarang, pagi-pagi ia sudah pamit ke kantor karena harus menyiapkan beberapa dokumen rapat. Ia pamit saat aku berada di kamar mandi. Aku memang sengaja tidak mengingatkannya tentang ulang tahun perkawinan kami. Aku ingin mengujinya, apakah ia ingat atau tidak kali ini. Nyatanya? Aku menarik napas panjang.

Heran, apa sih susahnya mengingat hari ulang tahun perkawinan sendiri? Aku mendengus kesal. Aa’ memang berbeda dengan aku. Ia kalem dan tidak ekspresif, apalagi romantis. Maka, tidak pernah ada bunga pada momen-momen istimewa atau puisi yang dituliskan di selembar kertas merah muda seperti yang sering kubayangkan saat sebelum aku menikah.

Sedangkan aku, ekspresif dan romantis. Aku selalu memberinya hadiah dengan kata-kata manis setiap hari ulang tahunnya. Aku juga tidak lupa mengucapkan berpuluh kali kata I love you setiap minggu. Mengirim pesan, bahkan puisi lewat sms saat ia keluar kota. Pokoknya, bagiku cinta harus diekspresikan dengan jelas. Karena kejelasan juga bagian dari cinta.

Aku tahu, kalau aku mencintai Aa’, aku harus menerimanya apa adanya. Tetapi, masak sih orang tidak mau berubah dan belajar? Bukankah aku sudah mengajarinya untuk bersikap lebih romantis? Ah, pokoknya aku kesal titik. Dan semua menjadi tidak menyenangkan bagiku. Aku uring-uringan. Aa’ jadi benar-benar menyebalkan di mataku. Aku mulai menghitung-hitung waktu dan perhatian yang diberikannya kepadaku dalam tiga tahun perkawinan kami. Tidak ada akhir minggu yang santai. Jarang sekali kami sempat pergi berdua untuk makan malam di luar. Waktu luang biasanya dihabiskannya untuk tidur sepanjang hari. Jadilah aku manyun sendiri hampir setiap hari minggu dan cuma bisa memandangnya mendengkur dengan manis di tempat tidur.

Rasa kesalku semakin menjadi. Apalagi, hubungan kami seminggu ini memang sedang tidak baik. Kami berdua sama-sama letih. Pekerjaan yang bertumpuk di tempat tugas kami masing-masing membuat kami bertemu di rumah dalam keadaan sama-sama letih dan mudah tersinggung satu sama lain. Jadilah, beberapa kali kami bertengkar minggu ini.

Sebenarnya, hari ini aku sudah mengosongkan semua jadual kegiatanku. Aku ingin berdua saja dengannya hari ini dan melakukan berbagai hal menyenangkan. Mestinya, Sabtu ini ia libur. Tetapi, begitulah Aa’. Sulit sekali baginya meninggalkan pekerjaannya, bahkan pada akhir pekan seperti ini. Mungkin, karena kami belum mempunyai anak. Sehingga ia tidak merasa perlu untuk meluangkan waktu pada akhir pekan seperti ini.

”Hen, kamu yakin mau menerima lamaran A’ Ridwan?” Diah sahabatku menatapku heran. ”Kakakku itu enggak romantis, lho. Tidak seperti suami romantis yang sering kau bayangkan. Dia itu tipe laki-laki serius yang hobinya bekerja keras. Baik sih, soleh, setia… Tapi enggak humoris. Pokoknya, hidup sama dia itu datar. Rutin dan membosankan. Isinya cuma kerja, kerja dan kerja…” Diah menyambung panjang lebar. Aku cuma senyum-senyum saja saat itu. Aa’ memang menanyakan kesediaanku untuk menerima lamaranku lewat Diah.

”Kamu kok gitu, sih? Enggak senang ya kalau aku jadi kakak iparmu?” tanyaku sambil cemberut. Diah tertawa melihatku. ”Yah, yang seperti ini mah tidak akan dilayani. Paling ditinggal pergi sama A’ Ridwan.” Diah tertawa geli. ”Kamu belum tahu kakakku, sih!” Tetapi, apapun kata Diah, aku telah bertekad untuk menerima lamaran Aa’. Aku yakin kami bisa saling menyesuaikan diri. Toh ia laki-laki yang baik. Itu sudah lebih dari cukup buatku.

Minggu-minggu pertama setelah perkawinan kami tidak banyak masalah berarti. Seperti layaknya pengantin baru, Aa’ berusaha romantis. Dan aku senang. Tetapi, semua berakhir saat masa cutinya berakhir. Ia segera berkutat dengan segala kesibukannya, tujuh hari dalam seminggu. Hampir tidak ada waktu yang tersisa untukku. Ceritaku yang antusias sering hanya ditanggapinya dengan ehm, oh, begitu ya… Itupun sambil terkantuk-kantuk memeluk guling. Dan, aku yang telah berjam-jam menunggunya untuk bercerita lantas kehilangan selera untuk melanjutkan cerita.

Begitulah… aku berusaha mengerti dan menerimanya. Tetapi pagi ini, kekesalanku kepadanya benar-benar mencapai puncaknya. Aku izin ke rumah ibu. Kukirim sms singkat kepadanya. Kutunggu. Satu jam kemudian baru kuterima jawabannya. Maaf, aku sedang rapat. Hati-hati. Salam untuk Ibu. Tuh, kan. Lihat. Bahkan ia membutuhkan waktu satu jam untuk membalas smsku. Rapat, presentasi, laporan keuangan, itulah saingan yang merebut perhatian suamiku.

Aku langsung masuk ke bekas kamarku yang sekarang ditempati Riri adikku. Kuhempaskan tubuhku dengan kesal. Aku baru saja akan memejamkan mataku saat samar-samar kudengar Ibu mengetuk pintu. Aku bangkit dengan malas.

”Kenapa Hen? Ada masalah dengan Ridwan?” Ibu membuka percakapan tanpa basa-basi. Aku mengangguk. Ibu memang tidak pernah bisa dibohongi. Ia selalu berhasil menebak dengan jitu.

Walau awalnya tersendat, akhirnya aku bercerita juga kepada Ibu. Mataku berkaca-kaca. Aku menumpahkan kekesalanku kepada Ibu. Ibu tersenyum mendengar ceritaku. Ia mengusap rambutku. ”Hen, mungkin semua ini salah Ibu dan Bapak yang terlalu memanjakan kamu. Sehingga kamu menjadi terganggu dengan sikap suamimu. Cobalah, Hen pikirkan baik-baik. Apa kekurangan Ridwan? Ia suami yang baik. Setia, jujur dan pekerja keras. Ridwan itu tidak pernah kasar sama kamu, rajin ibadah. Ia juga baik dan hormat kepada Ibu dan Bapak. Tidak semua suami seperti dia, Hen. Banyak orang yang dizholimi suaminya. Na’udzubillah!” Kata Ibu.

Aku terdiam. Yah, betul sih apa yang dikatakan Ibu. ”Tapi Bu, dia itu keterlaluan sekali. Masak Ulang tahun perkawinan sendiri tiga kali lupa. Lagi pula, dia itu sama sekali tidak punya waktu buat aku. Aku kan istrinya, bu. Bukan cuma bagian dari perabot rumah tangga yang hanya perlu ditengok sekali-sekali.” Aku masih kesal. Walaupun dalam hati aku membenarkan apa yang diucapkan Ibu.

Ya, selain sifat kurang romantisnya, sebenarnya apa kekurangan Aa’? Hampir tidak ada. Sebenarnya, ia berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakanku dengan caranya sendiri. Ia selalu mendorongku untuk menambah ilmu dan memperluas wawasanku. Ia juga selalu menyemangatiku untuk lebih rajin beribadah dan selalu berbaik sangka kepada orang lain. Soal kesetiaan? Tidak diragukan. Diah satu kantor dengannya. Dan ia selalu bercerita denganku bagaimana Aa’ bersikap terhadap rekan-rekan wanitanya di kantor. Aa’ tidak pernah meladeni ajakan Anita yang tidak juga bosan menggoda dan mengajaknya kencan. Padahal kalau mau, dengan penampilannya yang selalu rapi dan cool seperti itu, tidak sulit buatnya menarik perhatian lawan jenis.

”Hen, kalau kamu merasa uring-uringan seperti itu, sebenarnya bukan Ridwan yang bermasalah. Persoalannya hanya satu, kamu kehilangan rasa syukur…” Ibu berkata tenang.

Aku memandang Ibu. Perkataan Ibu benar-benar menohokku. Ya, Ibu benar. Aku kehilangan rasa syukur. Bukankah baru dua minggu yang lalu aku membujuk Ranti, salah seorang sahabatku yang stres karena suaminya berselingkuh dengan wanita lain dan sangat kasar kepadanya? Bukankah aku yang mengajaknya ke dokter untuk mengobati memar yang ada di beberapa bagian tubuhnya karena dipukuli suaminya?

Pelan-pelan, rasa bersalah timbul dalam hatiku. Kalau memang aku ingin menghabiskan waktu dengannya hari ini, mengapa aku tidak mengatakannya jauh-jauh hari agar ia dapat mengatur jadualnya? Bukankah aku bisa mengingatkannya dengan manis bahwa aku ingin pergi dengannya berdua saja hari ini. Mengapa aku tidak mencoba mengatakan kepadanya, bahwa aku ingin ia bersikap lebih romantis? Bahwa aku merasa tersisih karena kesibukannya? Bahwa aku sebenarnya takut tidak lagi dicintai?

Aku segera pamit kepada Ibu. Aku bergegas pulang untuk membereskan rumah dan menyiapkan makan malam yang romantis di rumah. Aku tidak memberitahunya. Aku ingin membuat kejutan untuknya.

Makan malam sudah siap. Aku menyiapkan masakan kegemaran Aa’ lengkap dengan rangkaian mawar merah di meja makan. Jam tujuh malam, Aa’ belum pulang. Aku menunggu dengan sabar. Jam sembilan malam, aku hanya menerima smsnya. Maaf aku terlambat pulang. Tugasku belum selesai. Makanan di meja sudah dingin. Mataku sudah berat, tetapi aku tetap menunggunya di ruang tamu.

Aku terbangun dengan kaget. Ya Allah, aku tertidur. Kulirik jam dinding, jam 11 malam. Aku bangkit. Seikat mawar merah tergeletak di meja. Di sebelahnya, tergeletak kartu ucapan dan kotak perhiasan mungil. Aa’ tertidur pulas di karpet. Ia belum membuka dasi dan kaos kakinya.

Kuambil kartu ucapan itu dan kubuka. Sebait puisi membuatku tersenyum.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Lewat kata yang tak sempat disampaikan

Awan kepada air yang menjadikannya tiada

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Dengan kata yang tak sempat diucapkan

Kayu kepada api yang menjadikannya abu. *

For vieny, welcome to your husband’s heart.

*dikutip dari Aku ingin mencintaimu dengan sederhana karya Sapardi Djoko Damono.



Sumber : Majalah Ummi, edisi 12/XIII/2002 & http://ceritacinta.net/2007/11/01/aku-ingin-mencintaimu-dengan-sederhana/

Senin, 30 Januari 2017

CINTA YANG TERTUNDA KARENA TAKDIR ALLAH






Di bawah pohon yang rindum terdiamlah anak yang bernama “Sani” yang sedang memikirkan hendak kemana dia akan meneruskan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Setelah di pikirkan matang-matang akhirnya dia menemukan jalan keluarnya.

            Sani  pulang dengan langkah nan pasti. Ketika sampai dirumah, tepatnya di ruang keluarga, ayahnya bertanya “ San, hendak kemana kamu akan meneruskan sekolah”, Sani menjawab dengan penuh percaya diri “aku mau ke MA MIFTAHUL ULUM yah. Sambil mondok, hehe.” “ya udah kalau begitu, ayah Cuma bisa mendo’akan dan membiayaimu saja, kamu kan sudah besar, jadi kamu harus bisa membedakan antara yang baik dan yang buruk. Jangan lupa, belajar dan shalat tidak boleh kamu tinggalkan” , sani menjawab dengan tegas “ Siap yah.”

            Hari demi hari terus berlalu akhirnya sani masuk ke sekolah itu. Pada hari pertama dia minder, karena sani adalah anak yang pemalu. Dia hanya terdiam di bangku tempat dia duduk.

            Namun, setelah tiga hari di sekolah. Dia melihat seorang perempuan yang sangat anggun yaitu “Shaira” teman sekelasnya. Sharia adalah anak seorang kiai desa seberang. Sani berkata dalam benak hatinya “Subhanallah, kenapa hatiku dag dig dug seperti ini ya. Baru pertama aku merasakannya”. Tapi disisi lain hati sani membantah “sabar sani, jangan terburu-buru kamu menyukainya, kamu belum melihat gimana sifat sharia itu.”

            Bulan bersinar terang dan dibawahnya sani, arul dan mabas saling berbincang-bincang. Layaknya orang yang kurang kerjaan arul bertanya “menurut kalian, siapa orang yang paling cantik dikelas”, sani menjawab dengan kencang “sharia”. “kalau dikelas aku farah” jawab mabas dengan santai. “cie-cie sani, ada yang lagi jatuh cinta nih, semangat banget” sahut arul dengan tersenyum

            Satu bulan sani memperhatikan sharia, sani menyimpulkan bahwa sharia itu sosok yang anggun, cantik, pintar, manis, pendiem, sholehah, taat sama agama, pokoknya dia adalah tipe perempuan idaman sani banget. Sani semakin yakin bahwa sharia adalah perempuan yang tepat untuk menjadi pendamping hidupnya.
           

Akan tetapi sani tidak mau mengungkapkannya karena dia takut akan ditolak cintanya. Dia menyadari akan kelemahan dirinya jika dibandingkan kelebihan yang dimiliki sharia. “Bagaikan pungguk merindukan bulan” ujar sani dalam benak hatinya.

            Pada suatu malam arul berbicara dengan sani “san, kenapa kamu kok nggak perjuangin cinta kamu”. Sani menjabab dengan malas “bukannya ak nggak mau perjuanginnya, tapi aku takut menyakitinya”. “kalau begitu boleh nggak aku perjuangin hehe”, sahut arul. “boleh asalkan kamu jangan pernah buat dia sedih dan jangan pernah kecewain dia” jawab sani dengan nada rendah dan di dalam hatinya dia sangat jengkel dengan arul.

            Setelah berbincang-bincang dengan arul, sani menjadi anak lang lebih banyak merenung. Setiap hari dia merenung, dia beranggapan bahwa mungkin dia dan sharia itu tidak jodoh. Dan dia ingin melupakan sharia dalam waktu yang sesingkat mungkin. Dia mencoba untuk membuka hatinya untuk semua perempuan yang dianggap dia itu perempuan yang baik. Dia mencoba menggantikannya dengan si A, teapi dia merasa masih belum cocok. Kemudian ia memutuskan bahwa ia lebih baik menyendiri. Karena disatu sisi dia ingin memiliki sharia tetapi disisi lain dia tidak mau menyakiti hati sahabatnya. Dia sangat bingung + bimbang. Sani berfikir dalam lubuk hati yang paling dalam “Cinta itu tidak harus memiliki, apapun akan aku lakukan asalkan dia bahagia, dalam hidup itu pasti ada yang menang dan ada yang kalah, mungkin saat ini aku berada dalam posisi yang kalah, tapi lihatlah….. suatu saat nanti aku pasti akan menjadi seorang pemenang”.

            Pada akhirnya dia menemukan “Fia”. Sani berfikir “aku harus bisa melupakan shaira, karena hidup itu tidak harus dalam keterpurukan, aku harus bisa melakukan pembaharuan”. Sani berusaha dengan keras untuk melupakan sharia dengan cara memperhatikan fia, akan tetapi sani merasa masih belum cocok dan kelihatannya fia itu sedang jatuh cinta dengan orang lain.  “sudah jatuh tertimpa tangga pula” itulah peribahasa yang cocok buat sani.

            Sani memutuskan bahwa ia akan melampiaskannya dengan cara membaca buku karena dia beranggapan bahwa buku adalah teman, sahabat sekaligus kekasih yang paling setia, karena buku tidak mungkin mengingkari orang yang membacanya.

            Semenjak saat itu sani menjadi anak yang lebih rajin dari sebelumnya, ia terus membaca buku. Bahkan buku yang tebal sekalipun hampir ia baca semuanya. Akhirnya sedikit demi sedikit nilainya naik. Sani memegang prinsip “mungkin aku boleh kalah dalam cinta, tapi aku tidak boleh kalah dalam hal lain”.

            Saat kelas tiga MA, sani mendengar kabar bahwa arul ditolak sharia karena sharia lebih ingin focus kedalam pembelajaran di bandingkan percintaan. Cinta sani ke sharia semakin membara. Semenjak itu sani menjadi anak yang periang. Karena ia masih mempunyai kesempatan untuk mendapatkan sharia.

            Ketika sani dipanggil ke depan kelas untuk membacakan tugas, sharia juga dipanggil, hati sani serasa berdebar-debar. “san, lihat bukunya dong jangan lihat shairanya” ucap arul dengan suara sangat keras, Sani tersipu malu dengan ucapan itu. Semua orang yang berada dalam kelas mengejek sani “cie-cie sani, ada yang lagi jatuh cinta ni ya…..”. sani salah tingkah dengan kelakuannya.

            Sani berasa bahwa dia sekarang dalam posisi yang menang.

            Di hari berikutnya, sani di ejek dengan teman temannya “sani, dicariin shaira tuh”  walaupun kelihatannya dia marah tetapi didalam hatinya dia merasa sangat senang. Dan berkata dalam hati “Ya Allah semoga ejekan itu selalu ada dalam setiap hariku, karena itu adalah penyemangat hidupku”

            Sani mulai berfikir kedepan “sebelum aku mendapatkan sharia aku harus bisa menjadi lebih baik deri hari kemarin. Kalau pemimpinnya masih kurang baik apa lagi orang yang dipimpinnya”. Mulai saat itulah sani mulai mendisiplinkan untuk melaksanakan amalan sunah seperi shalat dhuha, puasa senin-kamis, shalat sunah kobliah-bakdiah, tahajud, shalat sunah istiaroh dan lain sebagainya. Dan dalam setiap do’anya “Ya Allah, kalau boleh aku meminta maka jodohkanlah aku dengan dia Ya Allah, karena dia adalah satu-satunya perempuan yang hamba cintai selain ibu hamba. Jagalah dia Ya Allah dari segala keterpurukan. Karena kebahagiaan dia kebahagiaan aku juga. Robbanaatinafiddunya hasanah wafilakhiroti hasanah wakinaazabannar. Amin amin ya robbal a’lamin”

            Lama-kelaman banyak orang yang tahu bahkan hampir satu sekolahan tahu kalau sani itu memendam rasa cinta kepada sharia. Tetapi sani tak perduli dengan itu. Karenya cintanya kepada sharia itu tulus karena Allah.

            “cinta yang tulus karena Allah ialah suatu rasa dimana kita ingin selalu menjaga kesucian orang yang kita cintai sebelum akad di ucapkan”


Sekian &
Terima Kasih…..

Jodoh Tidak Akan Pernah Tertukar... (cerita motivasi) Aku teringat kisah seorang teman...

              



Ia adalah seorang muslimah yg senantiasa terjaga. Hari-harinya senantiasa diisi dengan kegiatan bermakna.. Apalagi kalau bukan mengisi kajian, membaca buku, menulis tausyah dan sebagainya.

Suatu hari, ia memiliki permasalahan dakwah yg begitu besar. Bahkan ia bingung, kepada siapa ia harus meminta bantuan... Tak ayal, dia hanya bisa memohon dalam sujud panjangnya agar segera diberi jalan keluar terbaik.

Tak berapa lama... Ia dikenalkan dengan seorang ikhwan, tepatnya terpaut 6 tahun yg pada saat itu, ikhwan tersebut memberikan bantuan berupa masukan-masukan serta solusi mengenai problema dakwah yg sedang dialami temanku itu.

Saat itu temanku benar-benar berterima kasih serta mengucap rasa syukur sedalam-dalamnya... Karena perlahan problema dakwah yg sedang dihadapi menemui titik terangnya.

Namun, setelah titik terang ditemui.. ternyata menambah sebuah problema baru. Bagaimana tidak, kedekatannya dengan sang ikhwan tersebut.. ternyata memunculkan benih-benih cinta dalam hatinya.

Sungguh, sebenarnya temanku itu tak mau memiliki rasa seperti itu, ia pun ingin membuang jauh-jauh bayangan tentang ikhwan tersebut yg sebenarnya sudah dianggap oleh temanku itu sebagai seorang kakak. Ya! hanya sebatas kakak.

Tapi, apa mau dikata... rasa kagum karena kefahaman ikhwan tersebut akan ilmu agama serta keshalihannya ternyata mampu mengalihkan keimanan temanku itu. Ia selalu uring-uringan dan pada akhirnya hidupnya jadi tak bersemangat lagi.. Kalau dulu, ia bersujud panjang karena rasa khouf-nya yg ada.. kini dalam sujud panjangnya selalu terhadirkan genangan air mata, ingin disatukannya ia dengan ikhwan tersebut.

Sampai suatu hari, ia menceritakan semuanya padaku... dan aku pun mencoba menenangkannya. Ia terus menangis dan menangis sejadi-jadinya. Ia sudah tak tahan lagi terhadap kegalauan perasaannya. Ia takut rasa itu akan semakin mencengkeramnya dengan kuat dan akhirnya terbius oleh hawa nafsu syaitan.

Aku pun mencoba memberikan saran, untuk coba berterus terang terhadap ikhwan tersebut akan perasaan temanku ini yg sebenar-benarnya. Malah kalau perlu langsung menawarkan diri untuk minta dinikahinya. Bukankah Siti Khadijah juga menawarkan diri kepada Rasululloh, hanya saja melalui seorang perwakilan? Apakah menawarkan diri ini disampaikan melalui perwakilan atau secara langsung oleh diri sendiri terserah, asalkan caranya baik & sesuai dengan syariat Islam. Bila ingin maju tanpa perwakilan tentu harus siap dengan satu syarat: harus siap mental!.



Temanku akhirnya paham dan memberanikan diri untuk menawarkan diri terhadap ikhwan tersebut, tentu minta untuk dinikahi.. bukan untuk dipacari. Dan ia sudah siap dengan berbagai kemungkinan yg akan terjadi. Tapi bismillah saja lah, pikirnya. Toh aku bukan meminta pada ikhwan tersebut tapi sebenar-benarnya aku meminta pada Sang Pemilik ikhwan tersebut (red. Alloh), kata temanku.

Dan setelah beberapa lama, aku kehilangan kabar temanku ini. Entah apa yg telah terjadi, namun rasa keingintahuanku begitu membuncah.. Sampai pada akhirnya, aku mendapat kabar darinya.. bahwa ikhwan tersebut telah menikah, dengan akhwat yg lain.

Aku ikut bersedih, tentu ada rasa kekecewaan yg hadir terhadap diri temanku tersebut. Tapi, ketika aku menemuinya, ia begitu tegar.. dan mengatakan "Aku sudah menawarkan diri pada ikhwan tersebut, tapi ikhwan tersebut justru menyerahkan undangan pernikahannya padaku. Aku mungkin telat menawarkan diriku padanya, tapi sungguh aku yakin bahwa jodohku tak akan pernah tertukar oleh siapapun".

Degg... tiba-tiba aku terlemas. Kata-katanya begitu menghujam dalam kalbuku. Ia sungguh wanita sholehah.. Aku yakin, ia akan mendapatkan jodohnya yg terbaik kelak.

Setelah pertemuan itu. Aku tak bertemu lagi dengan temanku tersebut... Kita benar-benar loss contact sama sekali.

***

Kita kembali dipertemukan.. tepatnya ketika aku berkunjung ke toko buku. Ia masih tampak seperti yg dulu, setelah pertemuan terakhirku dengannya setahun yg lalu. Ia pun menghampiriku dan menyapaku, lalu mengajakku untuk mampir ke sebuah rumah makan yg tak jauh dari toko buku itu. Disanalah kita berbincang kembali... kemudian ia menceritakan padaku, bahwa ia sempat ta'aruf namun gagal hingga kedua kalinya. Dengan hanya karena sebuah alasan, bahwa temanku itu adalah seorang "Aktivis".

Aku tak habis pikir mendengar ceritanya, wanita seperti dia, bisa ditolak ikhwan hanya karena alasan itu??!! Huhh..!! aku emosi sekali. Jarang-jarang kan ada wanita yg seperti ini, sudah cantik, sholehah, pemahaman ilmu agamanya banyak dan aktifis dakwah pula. Apalagi sih yg dicari dari para ikhwan tersebut?!

Ahh, itu pasti karena ikhwan tersebut takut menyeimbangi kafaah yg dimiliki temanku ini. Belum maju ke medan perang, ehh.. udah mundur selangkah demi selangkah. Capekkk dah!!

Tapi sekali lagi, tak ada rasa kekecewaan yg muncul dari temanku ini.. meski aku yakin, namanya juga manusia, tentu temanku merasakan sakit yg terdalam di hatinya mengenai kegagalannya berkali-kali dalam menuju gerbang pernikahan.

***

Itu dulu.. ketika 1,5 tahun yg lalu kita bercerita... Tapi lihatlah kini, surat undangan pernikahan berwarna merah telah berada di genggaman tenganku. Akhir dari sebuah perjalanan seorang temanku.

Dan sungguh benar janji Alloh, "Perempuan-perempuan yg keji adalah untuk yg keji pula dan laki-laki yang keji untuk wanita-wanita yg keji, sedangkan wanita-wanita yg baik untuk laki-laki yg baik dan laki-laki yg baik juga diperuntukkan bagi perempuan-perempuan yg baik…” (QS. An-Nur: 26).


Ternyata apapun yg telah Alloh tetapkan bagi manusia merupakan hak-Nya, pasti ada hikmah besar di dalamnya, tergantung bagaimana kita menyikapi.

Dan sebuah pembelajaran bagiku,  tentu aku harus yakin seperti temanku ini, keyakinan bahwa "Jodoh tidak akan pernah tertukar". Insya Alloh.
♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♫•*¨*•.¸¸ﷲ¸¸.•*¨*•♫♥♥♥♥♥♥♥♥♥♥
 
Blogger Templates