Social Icons

Pages

Tampilkan postingan dengan label cerpen remaja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen remaja. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Maret 2017

Dibalik Diamnya Dinda - Cerpen Islam

DIBALIK DIAMNYA DINDA
Karya Raudina Famella

Lagi-lagi Nino pulang dengan wajah babak belur. Ia membuka pintu rumahnya. Tapi saat akan masuk, seseorang menghalangi jalannya.
“Minggir !!!” seru Nino dengan kesal. Nino menengadah. “Minggir, Tua !”
PLAK ! Sebuah tamparan keras mendarat di pipinya. Bagaimana tidak, dengan keadaan babak belur, masih sempat-sempatnya ia mengumpat Ayahnya sendiri. Ayah berkacak pinggang dan menyeret tubuh Nino menuju sofa. Ibu memandang dengan khawatir dan segera menghampiri Ayah dan Nino.
“Ya Allah, istigfar, Nino !” seru Ibu.
Ayah lalu berseru, “Darimana saja kamu ?!”
“Ya sekolah dong. Masa’ siang-siang gini dugem, yang bener aja” jawab Nino.
“Lancang kamu ! Ini lihat, surat panggilan orangtua karena kamu selalu membolos ! Memalukan !” Ayah menyodorkan secarik kertas tepat di depan wajah Nino.
“Ayah, sudah…” Ibu memegang tangan Ayah.
“Anak ini harus diberi pelajaran ! Mulai sekarang, kamu sekolah di pesantren !”
“HAH, PESANTREN ???!!!!” Nino terkejut setengah mati.
“Jangan mentang-mentang selama ini Ayah membebaskan kamu, lantas Ayah tidak tahu kelakuam liarmu di luar sana, hah ?!”
“Ayah nggak usah sok peduli deh, Ayah aja pulang kerumah seminggu sekali toh nggak ada yang ngelarang. Terus, kenapa juga Nino harus mau menuruti keinginan Ayah untuk sekolah di pesantren ? Konyol !”
“Ayah melakukan semua ini demi kebaikan kamu !” seru Ibu tersedu.
“Bu, Nino nggak mau ! Nino nggak mau sekolah di pesantren ! Pesantren itu norak dan kampungan ! Nino nggak mau !!!”
Nino berseru dengan brutal dan hendak kabur. Namun Ayah menahan tubuhnya, dibantu oleh Mang Anto, pembantu rumah tangga sekaligus tukang kebun di rumah. Ibu hanya bisa diam dan menyaksikan dengan wajah sendu. Nino kemudian dengan paksa didorong ke dalam mobil untuk segera digiring ke pesantren bersama Ayah dan Ibu.
***


Pesantren Daarul Hikam terletak di sebuah kota yang tak jauh dari Jakarta. Bandung adalah kota pilihan kedua orangtua Nino. Mungkin agar keduanya bisa dengan mudah mengunjungi Nino. Pesantren tersebut terletak di sebelah selatan kota Bandung. Dimana udara masih sejuk dan begitu asri.
“Nino, ayo turun !” seru Ayah seraya menutup pintu mobil. Nino diam. Ia tidak menggubris ucapan Ayahnya. “Kamu dengar tidak, Ayah bilang turun !”
“Ck, Iya !” Nino berdecak kesal dan kemudian turun dari mobil. Ia melihat sekeliling. Kicauan burung yang indah, pepohonan berbisik ditiup angin, sesaat seolah Nino diajak ke sebuah taman laksana padang bunga. Nino menggeleng, ia segera menepis bayangannya. Ia harus tetap pada pendiriannya untuk menentang semua ini.
***

“Ustadz Idris, kami mohon bantuannya” ucap Ayah pada Ustadz Idris, salah satu Ustadz di Pesantren Daarul Hikam yang sejak tadi berbincang dengan Ayah dan Ibu. “Tentu saja, Pak. Dengan senang hati” jawab Ustadz Idris yang mengajar sebagai guru bahasa Arab di Pesantren Daarul Hikam.
“Nino, sudah saatnya Ayah dan Ibu pulang. Mulai sekarang, kamu tinggal disini dan jangan membantah !” seru Ayah.
“Iya Nino, disini orangnya baik-baik. Semua memakai baju koko dan peci yang rapi. Di gedung sebelah sana kamu lihat para santri memakai jilbab nan rapi, cantik sekali. Kalau kamu juga jadi anak yang baik, kamu bisa memiliki istri cantik dengan jilbab indah seperti itu” Ibu tersenyum. Ustadz Idris pun ikut tersenyum. Tak lama kemudian, mobil Ayah dan Ibu pun menjauh. Tinggallah Nino bersama Ustadz Idris.
Ck, cantik apanya. Seluruh tubuh mereka saja ditutupi, mana bisa aku…batin Nino berhenti mengumpat, saat matanya menangkap sesosok bidadari berjilbab yang sangat rupawan. Ia membawa sebuah bingkisan dan menghampiri Ustadz Idris lalu menyerahkan bingkisan tersebut pada Ustadz Idris tanpa sepatah kata.
“Oleh-oleh dari Malang ya ?” tanya Ustadz Idris. Gadis itu mengangguk dan tersenyum. Nino terpaku menatap si gadis. Ustadz Idris yang menyadari hal itu, segera berkata, “Oh iya, Nino. Ini Dinda. Dia murid Madrasah Aliyah kelas 2 dari asrama putri. Dan Dinda, ini Nino, dia juga kelas 2 Madrasah Aliyah, murid baru di asrama putra”

Nino dengan semangat mengulurkan tangannya pada gadis yang baru saja ia ketahui bernama Dinda. Namun Dinda menempelkan kedua tangannya di dada, enggan menyentuh Nino. Nino terheran, ia mengerutkan dahinya tanda kecewa. Dinda lalu membungkukkan sedikit tubuhnya dan pergi menjauh. Ustadz Idris membalasnya dengan senyuman kemudian menepuk bahu Nino.
“Kamu harus terbiasa dengan yang seperti itu. Kalian bukan muhrim, tidak boleh saling menyentuh. Terlebih lagi, Dinda itu gadis yang pemalu” jelas Ustadz Idris. Nino mendengar penjelasan Ustadz Idris dengan seksama. Oh, jadi itu alasannya Dinda hanya diam sedari tadi ? Nino membuat kesimpulan sendiri dalam hatinya.
***

Ustadz Idris mengantar Nino ke sebuah kamar kemudian mengetuk pintunya dan munculah sesosok pria berkacamata dengan wajah teduh sambil tersenyum.
“Assalamualaikum” sapa Ustadz Idris.
“Waalaikumsalam, Ustadz” jawab pria itu.
“Fur, ini Nino. Teman sekamarmu yang baru, pindahan dari Jakarta. Dan Nino, ini Furqon. Fur, tolong bantu Nino ya” ucap Ustadz Idris. Furqon mengangguk dan mengajak Nino untuk masuk ke dalam kamar. Furqon pun membantu Nino membereskan barang-barangnya.
“Nggak usah, saya bisa sendiri” tolak Nino yang masih keras hati.
“Alangkah baiknya kita saling membantu. Lagipula saya tidak merasa direpotkan” ucap Furqon sambil tersenyum. Apa boleh buat, Nino tidak dapat mengelak.
“Da-darimana asalmu ?” tanya Nino ragu.
“Oh saya ? Kalau saya dekat kok, dari Subang” jawab Furqon.
“Sudah berapa lama disini ?” tanyanya lagi.
“Lumayan cukup lama, sejak memasuki Madrasah Tsanawiyah. Awalnya memang jenuh, tapi lama-lama betah juga” Furqon terkekeh. “Oh iya, ngomong-ngomong, bagaimana hidup di Jakarta, asik ya ? Kata teman-teman saya yang sudah bekerja disana, disana itu enak. Banyak gedung besar, jembatan besar, berbeda sekali dengan disini. Benar begitu ?” tanya Furqon dengan wajah polos. Nino hanya menjawab dengan tawa kecil. “Lho kok malah ketawa ?” Furqon heran. Nino tertawa lagi sedangkan Furqon menggaruk kepalanya, bingung. Pesantren ini…mungkin tidak terlalu buruk untukku, gumam Nino dalam hati.
***

Pikiran indah Nino tentang pesantren lenyap seketika. Nino tidak terbiasa dengan semua ini. Sholat berjamaah, saat Nino sedang enak-enaknya tidur siang. Dibangunkan untuk sholat malam saat Nino sedang menikmati mimpi indahnya. Bangun pagi buta sedang Nino masih terkantuk-kantuk. Mengaji setiap bada maghrib, piket menggosok kamar mandi, mencuci pakaian sendiri. Rasanya Nino ingin melempar dirinya jauh ke luar angkasa ! Tiap kali Nino mengeluh pada Furqon, Furqon hanya menjawab,
“Sabar, No. Nanti juga terbiasa” jurus terjitu yang selalu Furqon ucapkan itu membuat Nino ingin segera menghajar wajahnya. Tapi Nino sadar ia harus bersabar dulu untuk membuktikan semua ini pada Ayahnya.
***

Sudah pukul 2 dini hari, namun Nino tetap tidak bisa tidur. Ia mengintip tembok kecil yang memisahkan antara asrama putra dan asrama putri. Disana, ada sesosok gadis berjilbab duduk di lorong dan sedang menulis dengan wajah serius. Gadis itu…Dinda ! Nino bersorak dalam hati.
“Ssstt !” bisik Nino. Dinda terkejut dan mencari sumber suara. Matanya terbelalak. Nino dengan nekat memanjat dinding tersebut. Dinda memperhatikan dengan wajah bingung.

HUP ! Akhirnya Nino telah berada di kawasan asrama putri. Kebetulan saat itu tidak ada siapa-siapa. “Jangan takut” ucap Nino pada Dinda. Ia lalu duduk disamping Dinda yang terlihat masih canggung. “Tidak akan ketahuan, lagipula aku hanya sebentar” ucap Nino kemudian. “Aku…tidak bisa tidur, aku boleh sedikit bercerita ?” tanya Nino. Dinda tersenyum dan mengangguk. “Aku heran dengan peraturan disini. Ini itu harus dikerjakan sendiri. Padahal kan kita sudah bayar ? Harus bangun untuk sholat, mengganggu waktu tidur saja, kan ? Pagi-pagi harus mengepel lantai, memangnya kita pembantu ? Apa semua pesantren se-konyol ini ?!” keluh Nino. Dinda hanya menjawab dengan senyuman. “Kok cuma senyum?! Ngomong dong!” protesnya. Dinda lalu menulis sesuatu di bukunya dan merobekkan kertasnya yang kemudian ia berikan pada Nino.
“Jika kau menjalani semuanya dengan ikhlas, Insya Allah semua pertanyaanmu akan terjawab”
Nino membacanya dan mengerutkan dahi. Ia memandang Dinda yang sosoknya mulai menjauh. Gadis yang aneh. Mungkin suaranya jelek ya, pikirnya.
***

Hari ini hari Minggu, hari dimana seluruh santri berkumpul dan bekerja bakti membersihkan seisi pesantren. Baik putri maupun putra semua bekerja sama untuk membenahi pesantren, mulai dari mencabut rumput, membersihkan lapangan, mengumpulkan sampah dan lain-lain.
Nino mengelap peluh di wajahnya dengan kesal. Matanya memandang ke kiri dan kanan, semua juga tampak berkeringat, namun mereka tetap bisa tersenyum. Aneh.
“Ada apa, No. Semangat dong ! Ini kan hari Minggu, hari yang ditunggu seluruh santri !” Furqon menepuk bahu Nino. Nino mencibir. Apanya hari yang ditunggu-tunggu, kerja bakti begini, mana panas lagi ! umpat Nino dalam hati. Matanya kembali memandang ke kanan dan ke kiri. Nino menyipitkan matanya. Oh ternyata ini maksud Furqon ‘Hari minggu adalah hari yang ditunggu semua santri’ ?! Agar bisa saling melirik dengan santri dari asrama sebelah, tebak Nino dalam hati. Namun tawanya segera lenyap ketika ia mendapati sesosok bidadarinya, siapa lagi kalau bukan Dinda.
“Dinda, lagi apa ?” sapa Nino pada Dinda yang sedang mengelap jendela. Dinda menoleh dan lagi-lagi ia hanya menjawab dengan senyuman. “Din, kok nggak jawab sih?! Suaranya jelek ya ?!” Nino mulai kesal. Dinda masih tersenyum. “Ya, terserah deh !” Nino pergi meninggalkan Dinda dan terduduk di lorong kelas dengan malas.
“Nino, sedang apa ? Jangan malas-malasan, beberapa menit lagi adzan dzuhur. Kita sholat berjamaah, lalu makan siang bersama” sapa Ustadz Idris membuyarkan lamunan Nino.
“Males ah Ustadz, capek !” keluh Nino.
“Kamu pilih mencabut rumput, mengepel lapangan atau diskors ?” ancam Ustadz Idris dengan halus.
“I-iya, iya deh Ustadz !” Nino pun bangkit dari duduknya. Terlihat dari kejauhan Furqon sedang menertawakannya. Nino menggerutu sendiri sambil berjalan menuju lapangan. Saat melewati dapur, Nino mencium harum masakan yang membuat ia penasaran. Terlebih lagi dari balik jendela ia melihat Dinda juga ada disana sedang mengaduk masakan dalam panci.
“Lagi bikin apa nih, Din ?” sapa Nino. Lagi dan lagi, Dinda hanya menjawab dengan senyuman. “Din, kamu kenapa sih nggak pernah mau bicara sama aku ? Aku punya salah apa sama kamu ?” tanya Nino dengan nada agak tinggi. Dinda hanya menggeleng dan tersenyum. “Lantas kenapa ? Suaramu jelek ? Kamu malu, gitu ? Atau…KAMU BISU YA ?!” Nino tak dapat lagi menahan kekesalannya. Kali ini semua mata memandang Nino. Nino terdiam dan menjadi kikuk. Kenapa semua orang memandangku ?! Nino bertanya-tanya dalam hati.
***

“Fur, kamu kok nggak pernah bilang sih kalo Dinda itu memang…bisu ?” protes Nino pada Furqon. Nino sejak tadi gelisah, ia terus mondar-mandir di dalam kamar.
“Kamu tidak tanya kan ?” Furqon malah balik bertanya. Pertanyaan Furqon membuat Nino benar-benar gemas ingin mencubit hidung teman sekamarnya itu. “Makanya, kalau bicara hati-hati, jangan sembarangan. Pikirkan dulu akibat dari ucapanmu, No. Dasar, anak Jakarte” Furqon terkekeh.

Akhirnya Furqon segera menceritakan segala hal yang ia ketahui tentang Dinda ketika Nino benar-benar hendak mencekik lehernya karena kesal. Dinda cacat sejak lahir, Ayahnya meninggal ketika Ibunya mengandung dirinya. Dan saat ini ia hanya tinggal bersama Ibunya di Malang. Banyak kisah tentangnya, tentang masa lalu Dinda yang suram. Dinda selalu dicemooh oleh teman-temannya, bahkan Dinda pernah mencoba untuk bunuh diri. Akhirnya, Ibunya membawanya kesini. Disini, Dinda merasa sangat senang. Ia menemukan teman-teman yang sangat baik. Bahkan ia terus mengasah bakatnya menulis puisi.
“Puisi Dinda pernah menjadi juara nasional lho !” seru Furqon. Nino mendengarkan cerita Furqon dengan seksama sambil mengangguk-anggukan kepalanya. Nino tidak menyangka, banyak orang yang tak seberuntung dirinya. Nino menyesal. Nino ingin berubah. “Oh iya No, kabarnya, Dinda mau pindah dari pesantren ini. Ibunya menikah lagi dengan pria asal Cairo dan Dinda pun akan melanjutkan sekolah disana. Wah, beruntung sekali ya Dinda itu !” seketika semua lamunan Nino buyar oleh kabar yang baru saja Furqon beritahukan padanya.
“Yang benar, Fur ?! Kapan pindahnya ?”
“Kalau tidak salah sih…besok” gumam Furqon.
“Besok ?!” Nino terkejut setengah mati.
***

Pagi-pagi sekali, setelah sholat subuh, Nino segera keluar dari kamarnya. Ia mengintip asrama putri dari balik dinding mencari sosok Dinda. Nino sangat menyesal atas kejadian kemarin. Ia ingin segera meminta maaf pada Dinda.
“Nino, sedang apa ?” sapa Ustadz Idris. Nino terlonjak. Ia menoleh sembari cengengesan. Malu, karena tertangkap basah oleh Ustadz Idris.
“Eh, Ustadz…ini, anu…nggak ada apa-apa kok Ustadz. Cuma lagi olahraga aja” Nino tertawa dipaksakan.
“Olahraga, olahraga, cepat masuk ke dalam. Hari ini giliranmu piket” ucap Ustadz Idris. Nino mengangguk cepat. Setelah Ustadz Idris menjauh, ia kembali mengintip. Ia melihat Dinda sedang berjalan diiringi teman-temannya dengan membawa tas ransel menuju gerbang pesantren. Nino segera berlari mengejarnya.
“Dinda !” seru Nino. Dinda dan teman-temannya menoleh. Ia tersenyum. “Din, MAAF ! Aku bener-bener minta maaf ! Aku tahu ucapanku menyakitkan, aku mohon maafin aku ya, Din !” seru Nino sambil menunduk, ia tak sanggup menatap wajah Dinda. Dinda lalu memberikan secarik kertas pada Nino dengan tulisan ‘Terima Kasih’. Nino terheran.
“Dinda tidak mau menjawab maafmu bukan karena dia tidak mau memaafkan kamu, tapi karena Dinda tidak pernah marah padamu. Dinda berterima kasih padamu, karena dia memiliki teman sebaik kamu” jelas Rahma, salah satu teman Dinda. Seketika senyum Nino mengembang. Dinda benar-benar gadis yang baik.

“Alhamdulillah, makasih banyak ya Dinda ! Oh iya Din, ini nomor ponsel aku, kalau kamu sudah di Cairo, sms aku ya ? Kamu hati-hati ya, Din” ucap Nino seraya menyerahkan selembar kartu namanya.
“Cairo ??!!” teman-teman Dinda yaitu Rahma, Nurul, dan Fatima terkejut dan saling berpandangan. Begitu pula Dinda yang langsung mengerutkan dahi.
“Siapa yang mau ke Cairo ?” Nurul terheran.
“Lho bukannya hari ini Dinda mau pindah sekolah ke Cairo ?” jawab Nino. Rahma, Nurul dan Fatima kembali saling pandang dan seketika tertawa. Dinda pun mengulum senyum.
“Ya ampun Nino, Dinda memang mau pindah ke Cairo, tapi itu tahun depan setelah lulus MA, baru Dinda akan melanjutkan kuliah disana. Kalau sekarang, Dinda mau pulang ke Malang dulu, Ibunya sedang sakit” jelas Fatima sambil menahan tawa.
“Sudah ya, kami mau mengantar Dinda ke stasiun dulu. Assalamualaikum” ucap Nurul kemudian.
“Wa-a-la-i-kum-sa-lam” Nino menjawab terbata kemudian terdiam. Membatu. Lega sekaligus malu. Akhirnya ia hanya bisa menertawakan dirinya sendiri. Terlihat dari kejauhan Ustadz Idris dan Furqon sedang tertawa. Nino mencibir. Furqon, awas kau ya ! Nino mengepalkan tangannya.
Namun Nino bersyukur, ia telah mendapatkan banyak hal disini. Belajar, berteman, sungguh harta yang tak ternilai harganya. Nino telah menyadari betapa berharganya hidup yang telah Allah berikan. Dan Nino bersyukur ia masih diberi kesempatan untuk merasakan nikmat-Nya yang begitu melimpah.
***

SEJUTA PESAN CINTA

SEJUTA PESAN CINTA

By : rohmah cipzz

        Saranghae.. aku cinta padamu.. kalimat itu yang terus berkumandang di bibir jani. Ia emang tengah jatuh cinta ama seseorang. Namanya aldo, ,aldo cowok yang paling di fans banyak cewek disekolah jani. Pastinya karena aldo itu orangnya cuakep,
tinggi, berkulit putih, dan punya gigi yang rapi. Oya gak lupa, aldo itu kaya man! Motornya keren. Bikin mata cewek2 yang ngefans doi jadi silau. Untung aldo gak punya gigi emas. Kalo gak kan malah jadi makin silau. #haha garing!
        Jani udah naksir si aldo dari pertama masuk SMA. Mereka satu angkatan. Ia jatuh cinta pada pandangan pertama. Waktu itu..
        Bukkk..
        “oh sori..sori..” seru jani menabrak seseorang cowok yang tampan. Jani terkesiap memandang cowok itu. cakep banget batinnya. Ia bahkan sungkan untuk mengedipkan mata.
        “hati2 donk” jawab cowok itu lumayan tersinggung.
        “iya sori. Aku buru2 soalnya. Gak liat2.”
        “ya udah. Lain kali jangan gitu lagi deh.” cowok itu pun segera berlalu pergi menuju barisan. Jani juga segera berlari ke barisan kelompoknya.
        Sejak tabrakan gak disengaja itu lah jani mulai jatuh cinta ama aldo. Waktu itu lagi MOS. Jani bangun kesiangan jadi nya ia terlambat . sampe sekarang jani gak berani jujur. ia ragu apakah aldo itu orangnya baik ato suka mainin perasaan cewek. Tapi selama ini si aldo sering ganti2 cewek. Buta banget kalo sampe gak tau! . seperti nya si aldo cowok yang kurang baik.
        Waktu istirahat , jani menghabiskan waktu untuk melamun di taman sekolah. Ia suntuk. Dan malas berada di keramain seperti kantin. Dia juga gak lapar. Mau keperpus tapi membosankan di perpustakaan. Tiba2 redo datang mengagetkan jani.
        “woiiiyyy... melamun aja!!!” sapa redo dengan heboh sambil menepuk pundak kanan jani. Jani yang tengah sibuk melamun jadi kaget minta ampun.
        “aduuuhh.. ngagetin banget sih? usil baday deh”
        “hehe. Ngelamunin apa sih kamu? aldo?”
        Dengan ragu jani mengangguk.
        “jjiahaha.. dari dulu sampe sekarang aldo mulu yang bikin kamu galau. , tembak aja sekalian! Dari pada di pendem terus. Gak enak kan?” sama kayak perasaanku ke kamu jani. Memendamnya sendirian. Ngejleb banget! Batin redo.
        Redo sahabat jani dari SMP. Entah kapan tepatnya redo jatuh cinta sama jani. Ia pun memendamnya sampe sekarang kelas dua SMA. Ia gak berani. Masih ragu kalo di tolak jani, emang sih kesannya cemen. Tapi ia juga memikirkan konsekuensi kalo seandainya jani menjauhinya . pasti lebih perih lagi dari pada memendam rasa.
        “gak semudah itu kali do. Kalo aku ditolak mentah2 gimana donk?”
        “ea cari aja cowok lain. , udah. Gak usah bete terus. Ntar stres lagi. beli jajan ke koperasi yuk .”
Akhirnya dari pada melamun sendirian , jani mengiyakan ajakan sahabatnya.

@@@

        Malamnya , jani dan redo sama2 merenung. Merenungi perasaan terpendamnya masing2. Jani tengah duduk di tempat tidurnya sambil memegang bantal motif shaund the sheep , si redo lagi duduk di jendela nya yang terbuka. Ia melihat bintang sambil memikirkan jani, dan bagaimana sebaiknya ia bertindak. Jujur ato terus memendamnya seumur hidup. Ia bimbang. Begitu pun dengan jani, ia juga dilema antara dua pilihan. Jujur dengan segala resikonya ato memendamnya seumur hidup? Seumur hidup, itu yang mengusik pikiran jani. Masa iya selamanya ia memendam rasa terus sih? baru setahun aja udah bikin galau baday.
        Ketika waktu udah jam sembilan. Mereka sama2 bersiap-siap untuk beranjak tidur.

@@@

        “aku pengen menyampaikan sejuta pesan cinta untuk aldo. Gimana caranya ya do?” tanya jani kepada redo ketika mereka sama2 jalan menuju halte untuk berangkat sekolah.
        “bilang aja terus terang jan. Dari pada di pendem terus.” Jawab redo santai. Tapi sebenernya di hatinya mencelos banget ngomong gitu. Seakan gak rela jani jatuh ke pelukan cowok lain. apalagi belum ada jaminan kalo aldo itu cowok baik2.
        “takut do..”
        “kalo nurutin takut ntar gak selesai2 masalahnya . Emang kamu bahagia kayak gini terus?”
        “ya gak juga sih. , kalo pun aku bilang. Aku harus dengan cara apa donk?”
        “pake cara yang apa adanya aja. Ngomong langsung ke orangnya. Untuk pemanis mungkin kamu bisa bawa coklat”
        “menurutmu gitu ya? Iya deh aku coba. Tapi kamu bantuin aku ya do”
        “iya pasti jani”

@@@

        Pada akhirnya, jani akan menembak aldo. Rencananya ketika pulang sekolah, jani akan mencegat aldo dan mengajaknya ke belakang sekolah untuk menyatakan cinta.
Teeetttt.. bel pulang pun akhirnya berbunyi. Dengan setengah grogi jani keluar kelas di ikuti redo.
        “aduuuh aku grogi banget do. Kalo ditolak gimana ya?”
        “udah. Jangan mikir yang buruk2 dulu. optimis aja . oke?”
        “oke deh”
:::::::::::
        “aldo..” panggil jani pelan.
        “kenapa jan?”
        “e... bisa ikut aku ke belakang sekolah? Aku mo ngomong sesuatu penting.”
        “gak lama kan?”
        “em mungkin gak”
        “oke deh.”
        Ketika sampe di belakang sekolah. Jani makin grogi. Si redo menunggunya di halte biasa.
        “mau ngomong apa ?” tanya aldo langsung ke topik.
        “aldo.. aku ...”
        “ya? Kamu napa?”
        “aku suka sama kamu. kamu mau gak jadi pacarku?” dengan berusaha lantang jani mengungkapkan perasaannya.
        “kamu suka ma aku? gak salah nih?”
        “ya gak donk do” jawab jani agak jengkel.kog gitu sih jawabannya? Gak menghargai banget deh kayaknya.
        “tapi aku.. gak suka ma kamu jan. Sori ya. Kamu cari cowok lain aja. Buru2 nih, aku pulang dulu ya”
        Aldo pergi pulang meninggalkan jani terpaku di situ. Bungkus coklat yang dipegangnya ikut bergetar seirama dengan getaran tangan jani. Ia sedih. Perih. Ternyata kayak gini rasanya di tolak. Seharus nya sejak awal jani sadar bahwa ia jauh dari tipe nya si aldo. Ia gak selevel ama aldo. Kenapa karena cinta ia begitu bodoh dan gak sadar diri? Jani pedih.
        Ia pulang menuju halte tempat redo menunggunya . dengan setengah gontai ia melangkah (iringan lagu= Tangga with Cinta Tak Mungkin Berhenti). Ia bingung akan memberikan kepada siapa sejuta pesan cinta itu kalo bukan untuk aldo. Redo yang tengah sibuk membaca komik gak menyadari wajah murung jani yang berjalan mendekat ke arahnya. Redo baru ngeh ketika jani udah duduk di samping redo. Redo terhenyak dan langsung kaget mendapati wajah jani yang ditekuk.
        “gimana jan?” tanya nya pelan, takut menyinggung perasaannya. Ia tau bahwa hati jani lembut.
        Dengan berat hati jani menjawab. Diikuti helaan napas yang cukup panjang. “di tolak red. Aku gak akan pernah ganggu dia lagi.”.
        “oh. Sabar ya jan. Pasti masih ada cinta yang lain kog”
        “iya, sekarang aku bingung, mo aku kasih ke siapa sejuta pesan cinta itu. kayaknya gak asik kalo hanya berhenti sampe disini dan terpaksa aku kubur dalam2”
        “ehem.. mungkin aja pesan cinta itu wat aku? hehe”
        “aku serius kamu malah becanda red. Serius dikit napa?”
        “aku serius jan. Aku dah lama suka sama kamu” ungkap redo akhirnya.
        “kog kamu gak pernah bilang sih?”
        “takut kamu menjauh”
        “kamu beneran red? Suka sama aku?” tanya balik jani.
        “iya. Aku suka sama kamu jani. Aku pengen jadi pacar kamu dan bahagiain kamu”
        “makasih ya red,jadi sejuta pesan cinta itu gak ngambang. Karena sekarang ada pemiliknya.”
SELESAI

BERAWAL DARI TEMAN SEBANGKU



“Huft… sebel..!!!
            Sambil membanting tas sekolahnya diatas kasur, Nova si cewek terpopuler disekolahnya itu mengomel gara-gara ulah cowoknya yang kepergok makan dengan temen dekat Nova dikantin saat pulang sekolah. Nova nggak peduli dengan alasan-alasan yang dilontarkan Kevin, cowoknya itu. Yang ada saat itu
Nova kesel dan marah sama kelakuan Kevin. Gimana nggak kesel coba.??Sebelumnya nova meminta Kevin untuk mengantarnya pulang, tapi Kevin beralasan kalo dia ada ekstrakulikuler basket disekolahnya. Tapi apa?? Si Kevin cowok sok cool itu malah makan sama Lefi temen deket Nova,!! Gubrakk,!!!!

            “Huahhh,,!! What jam setengah tujuh,,??”
            Nova langsung bergegas dari tempat tidurnya menuju kamar mandi.
            “Nova,!! Ayo sarapan nak,!!”
Suara yang sudah biasa terdengar ditelinga Nova saat bangun tidur, saking terbiasanya suara itu bak radio yang nggak pernah lupa dinyalain di pagi hari.
“Iya mah,!!”
“ Kamu kenapa sayang, kok makannya nggak semangat gitu?”
Nova terkaget dengan suara mamanya yang tiba-tiba menancap ditelinganya.
“Ehh ohh, enggak apa apa mah,!”
Nova belum berani cerita masalahnya dengan mamanya. Yang ada Nova jadi artis tenar sekejap, karena mamanya pasti akan mewawancarai Nova sampe semua masalah terkuras dengan pertanyaan pertanyaan yang ditujukan buat Nova itu.
“Nova berangkat dulu ya mah,!”
“Iya hati hati sayang, jangan nyuruh pak rahmad bawa mobilnya ngebut,!!”
“Iya mama,!!”
Dengan tampang sumpek dan jalan yang nggak ada niatnya, Nova turun dari mobil. Sebenernya sihh Nova males berangkat sekolah, karena mau nggak mau dia harus ketemu Kevin sama Lefi.
“Nova,,!!”
Dengan tampang nggak nguatin buat dilihat, Nova menoleh. Dan ternyata yang memanggilnya adalah Lefi. Nova pun langsung nglanjutin jalanya dia nggak memperdulikan Lefi.
“Nova, dengerin gue ngomong dulu,!”
Lefi mencoba ngajak ngomong Nova sambil menarik tangan Nova.
“Apa sih, gue mau masuk, lepasin tangan gue.!”
Nova langsung bergegas menuju kelas, Lefi pun udah nggak bisa nahan Nova lagi.
Nova yang biasanya duduk sebangku dengan Lefi untuk kali ini memilih duduk sendiri yang kebetulan masih ada bangku kosong. Rani yang juga sahabat Nova pun Tanya sama Nova ada apa diantara mereka.
“Nova kamu kenapa kok duduk sendiri, nggak sama Lefi??”
Tanya Rani sambil menempuk pundak Nova. Nova yang nggak bisa nahan sakit hatinya langsung menceritakan semuanya kepada Rani.
“Ya ampun sabar ya Nova, aku akan selalu setia jadi sahabatmu kok, jadi kalo ada apa-apa kamu bisa cerita semuanya sama aku. Udah sekarang nggak usah terlalu memikirkan itu dulu.”
“Iya Ran, makasih ya, kamu memang sahabatku yang paling baik J
“Iya sama-sama Nova.”
Sebenarnya Lefi nggak terlalu menyesal dengan kejadian kemarin, toh dia memang suka sama Kevin, cowok Nova. Dia hanya takut kalo nggak punya temen lagi. Lefi memang dari dulu nggak suka kalo Nova sama Kevin jadian. Jadi dia seneng-seneng aja kalo Nova sama Kevin ada masalah. Itu artinya ada kesempatan buat Lefi ngambil hati Kevin. Tapi Kevin itu memang cowok playboy. Jadi kalo ada cewek deket sama dia pasti Kevin juga suka lirik-lirik. Temen-temen sekolah Nova sebenarnya juga bingung kenapa Nova mau sama Kevin cowok playboy gitu. Udah nplayboy norak lagi J.
“ Pagi anak-anak.”
 Tiba-tiba suara bu Fitri mengagetkan. Yah hal yang biasa pagi-pagi anak cewek udah pada datang membawa gosip sendiri-sendiri, dan sibuk berebut cerita bawaanyaK. Jadi nggak heran kalo mereka kaget dengan suara bu Fitri.
“Pagi bu!”
“Anak-anak sebelum memulai pelajaran, ibu mau mengenalkan teman baru kalian. Rio silakan masuk!!”
Cowok yang berbadan tinggi dan berkulit sawo matang dengan gaya berjalan yang  menghipnotis para cewek kelas itu muncul dari belakang pintu kelas. Dengan gaya yang perfect dia memperkenalkan diri.
“Perkenalkan nama saya Rio Bima Saputra, biasa dipanggil Rio. saya pindahan dari SMA 17.”
“Wahh so sweet, ganteng banget K” kata seorang siswa kelas itu.
“Emm,, Rio kamu duduk disamping Nova ya!!” kata Bu Fitri.
“Baik bu!”
Nova hanya biasa aja sama cowok itu.
“Rio..” sambil mengulungkan tangan, Rio mengenalkan diri pada Nova.
“Nova.” ujar Nova.
*******
Bel pulang sekolah berbunyi nyaring. Seperti anak-anak yang lain Nova langsung bergegas keluar kelas. Nova memang terburu-buru pengen masuk mobil, karena dia males banget kalo harus ketemu duo penghianat itu. Tapi siapa sangka Kevin udah menunggu Nova didepan kelas Nova, hoho.
“Nova, dengar dulu penjelasan aku Nova!!” kata Kevin sambil memegang tangan Nova.
“Apa sihh Vin, gue udah muak sama kelakuan loe Vin,, loe kayak gini nggak Cuma sekali. Dan gue udah nggak mau ngasih loe kesempatan lagi. Gue pengen mulai sekarang kita putuss, dan loe nggak usah ganggu-ganggu gue lagi.”
Nova udah nggak punya kesabaran dan akhirnya Nova memutus Kevin. Kevin hanya bisa diam mendengar keputusan Nova. Nova langsung lari menuju mobil, untungnya supir Nova udah menjemput. Kevin udah nggak bisa ngejar Nova lagi, karena dia udah terlanjur lemes mendengar kata-kata Nova.
Didalam mobil Nova hanya bisa menangis. Sampai dirumah dia langsung masuk kamar dan nangis dikamar. Melihat anaknya yang nangis mama Nova langsung menghampiri Nova.
“Nova kamu kenapa nak??”
Sambil memeluk mamanya Nova bercerita semuanya.
“Mama aku putus sama Kevin L
“Udah nak nggak usah nangis lagi, besok lagi kalo ada masalah cerita sama mama ya nak”
L iya mama, maaf Nova kemarin nggak cerita sama mama”
“Iya, yaudah kamu makan dulu,lalu istirahat ya nak!!”
“Ya mama L
*******
“Nova bangun nak, udah jam 6, kamu sekolah nggak??”
“Hmm,, iya ma.”
Seperti biasa Nova hanya sarapan dengan roti. Lalu berangkat sekolah diantar sopirnya. Hari ini Nova tiba disekolah lebih pagi karena nanti ada ulangan matematika, jadi dia harus belajar sama teman-temanya. Sesampainya dikelas Rio cowok ganteng itu udah duduk ditempat duduknya. Rio juga sedang belajar matematika. Karena Rani yang udah janji mau mengajari matematika Nova belum datang akhirnya Nova belajar sama Rio.
“Wah ternyata cowok ini ganteng juga, pinter lagi. Seneng dehh bisa duduk sebelahan sama diaJ.” Tiba-tiba hati Nova berkata seperti itu.
Bel berbunyi. Rasa deg-degan menghantui setiap siswa kelas itu.
“Pagi anak-anak!”
“Pagi bu”
“Keluarkan selembar kertas, dan kerjakan soal ini dengan jujur.”
“Baik bu.” Jawab mereka serentak.
Nova lancar mengerjakan soal-soal itu. Itu karena bantuan Rio yang sukarela menjelaskan materi ulangan sama Nova. Dan alhasil nilai Nova sempurna.
“Wahh makasih Rio, berkat kamu nilai ku bagus.”
“Iya sama-sama Nova.”
Pulang sekolah Nova mengejar Rio yang baru berjalan dari kelas.
“Rio kamu mau nggak ikut aku makan?? Ini sebagai ucapan trimakasih aku ke kamu soalnya kamu udah ngajarin aku. mau ya,??”
“Alah nggak usah. Kamu jangan berlebihan gitu deh.”
“Nggak papa Rio sekalian aku pengen lebih kenal lagi sama kamu.”
“Hmm, yaudah dehh aku mau, tapi naik motorku aja ya?” jawab Rio.
“Ohh iya iya, tapi aku ngomong sama supirku dulu ya?”
“Yaa.”
Nova dan Rio bergegas menuju tempat makan dengan motor Rio yang besar dan keren J. Siapa sangka ternyata Kevin ngeliat mereka berdua saat keluar dari gerbang sekolah. Tapi Nova cuek aja, dia udah males sama Kevin. Sekarang dia udah bisa nglupain Kevin dan menganggap Kevin udah masa lalu. Dilihat dari raut mukanya Kevin gerah melihat Nova boncengan sama Rio, tapi mau gimana lagi Nova udah bukan ceweknya lagi.
Selesai makan Rio mengantar pulang Nova.
“Rio masuk dulu yok,??” ajak Nova
“Emm, nggak usah Nova, ini udah sore. Besok lain kali aja ya..”
“Oww yaudah nggak papa, makasih ya Rio??”
“Iya sama-sama. Udah dulu ya, bye-bye.”
“Iya, hati-hati .”
Dengan wajah gembira dan seneng banget, Nova langsung bergegas masuk rumah.
“Mama J,!!”
“Iya sayang, ada apa??”
“Nggak papa ma, pengen manggil aja J.”
“ini anak mama kenapa kok kelihatanya seneng banget, pasti udah baikan sama Kevin ya??” Tanya mama Nova yang mengaggetkan dan membuat wajah Nova berubah murung lagi.
“Ihh mama apa-apaan sih, nggak usah sebut nama Kevin lagi ya ma, aku udah nggak mau denger tentang dia lagi.”
“Ohh maaf sayang, mama kan nggak tau. Emang kenapa kok kamu seneng banget??”
“Iya nggak papa ma. Tau nggak ma, aku habis makan sama temen baru ku. Rio namanya. Pokoknya aku seneng banget, ntar tak critain lagi deh ma J. Aku mandi dulu ya ma.”
“Hemm, ni anak kemarin nangis-nangis sekarang senyum-senyum sendiri. Yaudah sana!!”
*******
“Rio!! makasih yaa kemarin kamu udah nganter aku pulang.” Kata Nova sambil menepuk pundak Rio yang lagi duduk didepan kelas.
“Kamu makasihnya sekali aja Nova, aku juga makasih udah diajak makan.”
“Iya sama-sama.”
“Masuk kelas yok teman!” ajak Rani.
“Yok.”
*******
Nova sekarang udah bener-bener lupa sama Kevin. Dan dia udah memulai semuanya dengan yang baru. Seiring dengan berjalanya waktu, Rio mulai jatuh hati sama Nova. Nova juga merasa hal yang sama dengan Rio. Oleh karenanya pertemanan mereka lebih akrab dan romantis.
Suatu saat sekolahnya mengadakan perkemahan. Dimana perkemahan itu wajib diikuti oleh seluruh siswa kelas XI SMA 10. Seluruh siswa dengan semangat mengikuti perkemahan itu.
“Anak-anak, sekarang persiapkan barang-barang kalian untuk dibawa kedalam bus.” Perintah Bu Siwi, ketua pembina pramuka.
“Ya bu.”
“Ehh Nova kamu duduk sama Rio aja ya, aku sama Veni.” Kata Rani.
“Tapi emangnya Rio mau??”
“Aku mau Nova.” Sambung Rio.
“Ohh, ya deh.”
Dan akhirnya Nova duduk sama Rio. Tapi ada yang mengejutkan. Lefi duduk sama Kevin, sang mantan Nova. Nova yang masih rada jengkel agak sinis melihat mereka berdua. Sebenarnya Nova udah nggak mau ngungkit-ngungkit dan mengingat kejadian itu. Tapi dia masih males aja sama mereka berdua. Dan denger-denger ternyata mereka berdua udah jadian. Hemm, tapi udah nggak masalah sihh buat Nova. Soalnya disamping dia udah ada Rio sang pujaan. Wgwgwg J.
“Anak-anak ini udah sampai sekarang kalian turunin barang bawaan kalian!!” kata pak sufyan yang juga merupakan pembina pramuka.
“Ya pak.” Jawab mereka serentak.
Seluruh siswa diberi waktu 1 jam untuk mendirikan tenda. Dan bersiap-siap untuk kegiatan selanjutnya.
Malam harinya diadakan pensi dan setiap kelompok harus menampilkan kreasinya.
“Seluruh siswa dimohon kumpul ditengah lapangan untuk mengikuti acara pensi, dimohon segera kumpul. Dan boleh membawa makanan ringan.” Terdengar suara bu Siwi dari speker tenda panitia.
“Ya sekarang waktunya pensi, silakan tunjukan aksimu teman-teman.” Suara Rani dan Fandi yang ditunjuk sebagai host dalam pensi tersebut.
Tampilan demi tampilan udah ditampilkan dari berbagai kelompok. Tapi untuk yang kali ini dijamin paling beda dengan yang lain.
“Untuk tampilan selanjutnya akan diisi oleh Rio yang akan menyanyikan sebuah lagu. Wah lagu ini untuk siapa ya,,haha, yaudah sekarang kita tampilkan Rio..!! tepuk tangan!!”
“Ini lagu gue persembahkan buat orang yang spesial, dia selama ini selalu ada disampingku dan temani hari-hari ku,, dia adalah Nova.!!”
Wahh gubrak Nova nggak menyangka kalo Rio bakalan nyanyiin lagu buat dia diacara pensi ini. Nova merasa senang banget walaupun sebenarnya dia agak malu sih.
“Wah ternyata lagu ini buat Nova, yah dimohon Nova maju dideket Rio.” sambung Rani.
Dan akhirnya Nova pun maju dan berdiri dideket Rio.”
aku yang memikirkan, namun aku tak banyak berharap..
 Kau membuat waktuku tersita dengan angan tentangmu..
 Mencoba lupakan, tapi ku tak bisa…
 Mengapa… begini….
 Ohh mungkin aku bermimpi menginginkan dirimu..
 Untuk ada disini menemaniku..
 Ohh mungkin kah kau yang jadi.. kekasih sejatiku..
 Semoga.. tak sekedar harapku… “
Demikian Rio menyanyikan lagu monita yang berjudul cinta sejaji. Dia sangat mengahayati saat menyanyikan lagu itu buat Nova. Setelah selesai nyanyi Rio menembak Nova. Nova pun menerima Rio, dan akhirnya mereka jadian diacara pensi tersebut.
******


 
Blogger Templates