Social Icons

Pages

Tampilkan postingan dengan label cerita cinta islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita cinta islami. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Maret 2017

Dibalik Diamnya Dinda - Cerpen Islam

DIBALIK DIAMNYA DINDA
Karya Raudina Famella

Lagi-lagi Nino pulang dengan wajah babak belur. Ia membuka pintu rumahnya. Tapi saat akan masuk, seseorang menghalangi jalannya.
“Minggir !!!” seru Nino dengan kesal. Nino menengadah. “Minggir, Tua !”
PLAK ! Sebuah tamparan keras mendarat di pipinya. Bagaimana tidak, dengan keadaan babak belur, masih sempat-sempatnya ia mengumpat Ayahnya sendiri. Ayah berkacak pinggang dan menyeret tubuh Nino menuju sofa. Ibu memandang dengan khawatir dan segera menghampiri Ayah dan Nino.
“Ya Allah, istigfar, Nino !” seru Ibu.
Ayah lalu berseru, “Darimana saja kamu ?!”
“Ya sekolah dong. Masa’ siang-siang gini dugem, yang bener aja” jawab Nino.
“Lancang kamu ! Ini lihat, surat panggilan orangtua karena kamu selalu membolos ! Memalukan !” Ayah menyodorkan secarik kertas tepat di depan wajah Nino.
“Ayah, sudah…” Ibu memegang tangan Ayah.
“Anak ini harus diberi pelajaran ! Mulai sekarang, kamu sekolah di pesantren !”
“HAH, PESANTREN ???!!!!” Nino terkejut setengah mati.
“Jangan mentang-mentang selama ini Ayah membebaskan kamu, lantas Ayah tidak tahu kelakuam liarmu di luar sana, hah ?!”
“Ayah nggak usah sok peduli deh, Ayah aja pulang kerumah seminggu sekali toh nggak ada yang ngelarang. Terus, kenapa juga Nino harus mau menuruti keinginan Ayah untuk sekolah di pesantren ? Konyol !”
“Ayah melakukan semua ini demi kebaikan kamu !” seru Ibu tersedu.
“Bu, Nino nggak mau ! Nino nggak mau sekolah di pesantren ! Pesantren itu norak dan kampungan ! Nino nggak mau !!!”
Nino berseru dengan brutal dan hendak kabur. Namun Ayah menahan tubuhnya, dibantu oleh Mang Anto, pembantu rumah tangga sekaligus tukang kebun di rumah. Ibu hanya bisa diam dan menyaksikan dengan wajah sendu. Nino kemudian dengan paksa didorong ke dalam mobil untuk segera digiring ke pesantren bersama Ayah dan Ibu.
***


Pesantren Daarul Hikam terletak di sebuah kota yang tak jauh dari Jakarta. Bandung adalah kota pilihan kedua orangtua Nino. Mungkin agar keduanya bisa dengan mudah mengunjungi Nino. Pesantren tersebut terletak di sebelah selatan kota Bandung. Dimana udara masih sejuk dan begitu asri.
“Nino, ayo turun !” seru Ayah seraya menutup pintu mobil. Nino diam. Ia tidak menggubris ucapan Ayahnya. “Kamu dengar tidak, Ayah bilang turun !”
“Ck, Iya !” Nino berdecak kesal dan kemudian turun dari mobil. Ia melihat sekeliling. Kicauan burung yang indah, pepohonan berbisik ditiup angin, sesaat seolah Nino diajak ke sebuah taman laksana padang bunga. Nino menggeleng, ia segera menepis bayangannya. Ia harus tetap pada pendiriannya untuk menentang semua ini.
***

“Ustadz Idris, kami mohon bantuannya” ucap Ayah pada Ustadz Idris, salah satu Ustadz di Pesantren Daarul Hikam yang sejak tadi berbincang dengan Ayah dan Ibu. “Tentu saja, Pak. Dengan senang hati” jawab Ustadz Idris yang mengajar sebagai guru bahasa Arab di Pesantren Daarul Hikam.
“Nino, sudah saatnya Ayah dan Ibu pulang. Mulai sekarang, kamu tinggal disini dan jangan membantah !” seru Ayah.
“Iya Nino, disini orangnya baik-baik. Semua memakai baju koko dan peci yang rapi. Di gedung sebelah sana kamu lihat para santri memakai jilbab nan rapi, cantik sekali. Kalau kamu juga jadi anak yang baik, kamu bisa memiliki istri cantik dengan jilbab indah seperti itu” Ibu tersenyum. Ustadz Idris pun ikut tersenyum. Tak lama kemudian, mobil Ayah dan Ibu pun menjauh. Tinggallah Nino bersama Ustadz Idris.
Ck, cantik apanya. Seluruh tubuh mereka saja ditutupi, mana bisa aku…batin Nino berhenti mengumpat, saat matanya menangkap sesosok bidadari berjilbab yang sangat rupawan. Ia membawa sebuah bingkisan dan menghampiri Ustadz Idris lalu menyerahkan bingkisan tersebut pada Ustadz Idris tanpa sepatah kata.
“Oleh-oleh dari Malang ya ?” tanya Ustadz Idris. Gadis itu mengangguk dan tersenyum. Nino terpaku menatap si gadis. Ustadz Idris yang menyadari hal itu, segera berkata, “Oh iya, Nino. Ini Dinda. Dia murid Madrasah Aliyah kelas 2 dari asrama putri. Dan Dinda, ini Nino, dia juga kelas 2 Madrasah Aliyah, murid baru di asrama putra”

Nino dengan semangat mengulurkan tangannya pada gadis yang baru saja ia ketahui bernama Dinda. Namun Dinda menempelkan kedua tangannya di dada, enggan menyentuh Nino. Nino terheran, ia mengerutkan dahinya tanda kecewa. Dinda lalu membungkukkan sedikit tubuhnya dan pergi menjauh. Ustadz Idris membalasnya dengan senyuman kemudian menepuk bahu Nino.
“Kamu harus terbiasa dengan yang seperti itu. Kalian bukan muhrim, tidak boleh saling menyentuh. Terlebih lagi, Dinda itu gadis yang pemalu” jelas Ustadz Idris. Nino mendengar penjelasan Ustadz Idris dengan seksama. Oh, jadi itu alasannya Dinda hanya diam sedari tadi ? Nino membuat kesimpulan sendiri dalam hatinya.
***

Ustadz Idris mengantar Nino ke sebuah kamar kemudian mengetuk pintunya dan munculah sesosok pria berkacamata dengan wajah teduh sambil tersenyum.
“Assalamualaikum” sapa Ustadz Idris.
“Waalaikumsalam, Ustadz” jawab pria itu.
“Fur, ini Nino. Teman sekamarmu yang baru, pindahan dari Jakarta. Dan Nino, ini Furqon. Fur, tolong bantu Nino ya” ucap Ustadz Idris. Furqon mengangguk dan mengajak Nino untuk masuk ke dalam kamar. Furqon pun membantu Nino membereskan barang-barangnya.
“Nggak usah, saya bisa sendiri” tolak Nino yang masih keras hati.
“Alangkah baiknya kita saling membantu. Lagipula saya tidak merasa direpotkan” ucap Furqon sambil tersenyum. Apa boleh buat, Nino tidak dapat mengelak.
“Da-darimana asalmu ?” tanya Nino ragu.
“Oh saya ? Kalau saya dekat kok, dari Subang” jawab Furqon.
“Sudah berapa lama disini ?” tanyanya lagi.
“Lumayan cukup lama, sejak memasuki Madrasah Tsanawiyah. Awalnya memang jenuh, tapi lama-lama betah juga” Furqon terkekeh. “Oh iya, ngomong-ngomong, bagaimana hidup di Jakarta, asik ya ? Kata teman-teman saya yang sudah bekerja disana, disana itu enak. Banyak gedung besar, jembatan besar, berbeda sekali dengan disini. Benar begitu ?” tanya Furqon dengan wajah polos. Nino hanya menjawab dengan tawa kecil. “Lho kok malah ketawa ?” Furqon heran. Nino tertawa lagi sedangkan Furqon menggaruk kepalanya, bingung. Pesantren ini…mungkin tidak terlalu buruk untukku, gumam Nino dalam hati.
***

Pikiran indah Nino tentang pesantren lenyap seketika. Nino tidak terbiasa dengan semua ini. Sholat berjamaah, saat Nino sedang enak-enaknya tidur siang. Dibangunkan untuk sholat malam saat Nino sedang menikmati mimpi indahnya. Bangun pagi buta sedang Nino masih terkantuk-kantuk. Mengaji setiap bada maghrib, piket menggosok kamar mandi, mencuci pakaian sendiri. Rasanya Nino ingin melempar dirinya jauh ke luar angkasa ! Tiap kali Nino mengeluh pada Furqon, Furqon hanya menjawab,
“Sabar, No. Nanti juga terbiasa” jurus terjitu yang selalu Furqon ucapkan itu membuat Nino ingin segera menghajar wajahnya. Tapi Nino sadar ia harus bersabar dulu untuk membuktikan semua ini pada Ayahnya.
***

Sudah pukul 2 dini hari, namun Nino tetap tidak bisa tidur. Ia mengintip tembok kecil yang memisahkan antara asrama putra dan asrama putri. Disana, ada sesosok gadis berjilbab duduk di lorong dan sedang menulis dengan wajah serius. Gadis itu…Dinda ! Nino bersorak dalam hati.
“Ssstt !” bisik Nino. Dinda terkejut dan mencari sumber suara. Matanya terbelalak. Nino dengan nekat memanjat dinding tersebut. Dinda memperhatikan dengan wajah bingung.

HUP ! Akhirnya Nino telah berada di kawasan asrama putri. Kebetulan saat itu tidak ada siapa-siapa. “Jangan takut” ucap Nino pada Dinda. Ia lalu duduk disamping Dinda yang terlihat masih canggung. “Tidak akan ketahuan, lagipula aku hanya sebentar” ucap Nino kemudian. “Aku…tidak bisa tidur, aku boleh sedikit bercerita ?” tanya Nino. Dinda tersenyum dan mengangguk. “Aku heran dengan peraturan disini. Ini itu harus dikerjakan sendiri. Padahal kan kita sudah bayar ? Harus bangun untuk sholat, mengganggu waktu tidur saja, kan ? Pagi-pagi harus mengepel lantai, memangnya kita pembantu ? Apa semua pesantren se-konyol ini ?!” keluh Nino. Dinda hanya menjawab dengan senyuman. “Kok cuma senyum?! Ngomong dong!” protesnya. Dinda lalu menulis sesuatu di bukunya dan merobekkan kertasnya yang kemudian ia berikan pada Nino.
“Jika kau menjalani semuanya dengan ikhlas, Insya Allah semua pertanyaanmu akan terjawab”
Nino membacanya dan mengerutkan dahi. Ia memandang Dinda yang sosoknya mulai menjauh. Gadis yang aneh. Mungkin suaranya jelek ya, pikirnya.
***

Hari ini hari Minggu, hari dimana seluruh santri berkumpul dan bekerja bakti membersihkan seisi pesantren. Baik putri maupun putra semua bekerja sama untuk membenahi pesantren, mulai dari mencabut rumput, membersihkan lapangan, mengumpulkan sampah dan lain-lain.
Nino mengelap peluh di wajahnya dengan kesal. Matanya memandang ke kiri dan kanan, semua juga tampak berkeringat, namun mereka tetap bisa tersenyum. Aneh.
“Ada apa, No. Semangat dong ! Ini kan hari Minggu, hari yang ditunggu seluruh santri !” Furqon menepuk bahu Nino. Nino mencibir. Apanya hari yang ditunggu-tunggu, kerja bakti begini, mana panas lagi ! umpat Nino dalam hati. Matanya kembali memandang ke kanan dan ke kiri. Nino menyipitkan matanya. Oh ternyata ini maksud Furqon ‘Hari minggu adalah hari yang ditunggu semua santri’ ?! Agar bisa saling melirik dengan santri dari asrama sebelah, tebak Nino dalam hati. Namun tawanya segera lenyap ketika ia mendapati sesosok bidadarinya, siapa lagi kalau bukan Dinda.
“Dinda, lagi apa ?” sapa Nino pada Dinda yang sedang mengelap jendela. Dinda menoleh dan lagi-lagi ia hanya menjawab dengan senyuman. “Din, kok nggak jawab sih?! Suaranya jelek ya ?!” Nino mulai kesal. Dinda masih tersenyum. “Ya, terserah deh !” Nino pergi meninggalkan Dinda dan terduduk di lorong kelas dengan malas.
“Nino, sedang apa ? Jangan malas-malasan, beberapa menit lagi adzan dzuhur. Kita sholat berjamaah, lalu makan siang bersama” sapa Ustadz Idris membuyarkan lamunan Nino.
“Males ah Ustadz, capek !” keluh Nino.
“Kamu pilih mencabut rumput, mengepel lapangan atau diskors ?” ancam Ustadz Idris dengan halus.
“I-iya, iya deh Ustadz !” Nino pun bangkit dari duduknya. Terlihat dari kejauhan Furqon sedang menertawakannya. Nino menggerutu sendiri sambil berjalan menuju lapangan. Saat melewati dapur, Nino mencium harum masakan yang membuat ia penasaran. Terlebih lagi dari balik jendela ia melihat Dinda juga ada disana sedang mengaduk masakan dalam panci.
“Lagi bikin apa nih, Din ?” sapa Nino. Lagi dan lagi, Dinda hanya menjawab dengan senyuman. “Din, kamu kenapa sih nggak pernah mau bicara sama aku ? Aku punya salah apa sama kamu ?” tanya Nino dengan nada agak tinggi. Dinda hanya menggeleng dan tersenyum. “Lantas kenapa ? Suaramu jelek ? Kamu malu, gitu ? Atau…KAMU BISU YA ?!” Nino tak dapat lagi menahan kekesalannya. Kali ini semua mata memandang Nino. Nino terdiam dan menjadi kikuk. Kenapa semua orang memandangku ?! Nino bertanya-tanya dalam hati.
***

“Fur, kamu kok nggak pernah bilang sih kalo Dinda itu memang…bisu ?” protes Nino pada Furqon. Nino sejak tadi gelisah, ia terus mondar-mandir di dalam kamar.
“Kamu tidak tanya kan ?” Furqon malah balik bertanya. Pertanyaan Furqon membuat Nino benar-benar gemas ingin mencubit hidung teman sekamarnya itu. “Makanya, kalau bicara hati-hati, jangan sembarangan. Pikirkan dulu akibat dari ucapanmu, No. Dasar, anak Jakarte” Furqon terkekeh.

Akhirnya Furqon segera menceritakan segala hal yang ia ketahui tentang Dinda ketika Nino benar-benar hendak mencekik lehernya karena kesal. Dinda cacat sejak lahir, Ayahnya meninggal ketika Ibunya mengandung dirinya. Dan saat ini ia hanya tinggal bersama Ibunya di Malang. Banyak kisah tentangnya, tentang masa lalu Dinda yang suram. Dinda selalu dicemooh oleh teman-temannya, bahkan Dinda pernah mencoba untuk bunuh diri. Akhirnya, Ibunya membawanya kesini. Disini, Dinda merasa sangat senang. Ia menemukan teman-teman yang sangat baik. Bahkan ia terus mengasah bakatnya menulis puisi.
“Puisi Dinda pernah menjadi juara nasional lho !” seru Furqon. Nino mendengarkan cerita Furqon dengan seksama sambil mengangguk-anggukan kepalanya. Nino tidak menyangka, banyak orang yang tak seberuntung dirinya. Nino menyesal. Nino ingin berubah. “Oh iya No, kabarnya, Dinda mau pindah dari pesantren ini. Ibunya menikah lagi dengan pria asal Cairo dan Dinda pun akan melanjutkan sekolah disana. Wah, beruntung sekali ya Dinda itu !” seketika semua lamunan Nino buyar oleh kabar yang baru saja Furqon beritahukan padanya.
“Yang benar, Fur ?! Kapan pindahnya ?”
“Kalau tidak salah sih…besok” gumam Furqon.
“Besok ?!” Nino terkejut setengah mati.
***

Pagi-pagi sekali, setelah sholat subuh, Nino segera keluar dari kamarnya. Ia mengintip asrama putri dari balik dinding mencari sosok Dinda. Nino sangat menyesal atas kejadian kemarin. Ia ingin segera meminta maaf pada Dinda.
“Nino, sedang apa ?” sapa Ustadz Idris. Nino terlonjak. Ia menoleh sembari cengengesan. Malu, karena tertangkap basah oleh Ustadz Idris.
“Eh, Ustadz…ini, anu…nggak ada apa-apa kok Ustadz. Cuma lagi olahraga aja” Nino tertawa dipaksakan.
“Olahraga, olahraga, cepat masuk ke dalam. Hari ini giliranmu piket” ucap Ustadz Idris. Nino mengangguk cepat. Setelah Ustadz Idris menjauh, ia kembali mengintip. Ia melihat Dinda sedang berjalan diiringi teman-temannya dengan membawa tas ransel menuju gerbang pesantren. Nino segera berlari mengejarnya.
“Dinda !” seru Nino. Dinda dan teman-temannya menoleh. Ia tersenyum. “Din, MAAF ! Aku bener-bener minta maaf ! Aku tahu ucapanku menyakitkan, aku mohon maafin aku ya, Din !” seru Nino sambil menunduk, ia tak sanggup menatap wajah Dinda. Dinda lalu memberikan secarik kertas pada Nino dengan tulisan ‘Terima Kasih’. Nino terheran.
“Dinda tidak mau menjawab maafmu bukan karena dia tidak mau memaafkan kamu, tapi karena Dinda tidak pernah marah padamu. Dinda berterima kasih padamu, karena dia memiliki teman sebaik kamu” jelas Rahma, salah satu teman Dinda. Seketika senyum Nino mengembang. Dinda benar-benar gadis yang baik.

“Alhamdulillah, makasih banyak ya Dinda ! Oh iya Din, ini nomor ponsel aku, kalau kamu sudah di Cairo, sms aku ya ? Kamu hati-hati ya, Din” ucap Nino seraya menyerahkan selembar kartu namanya.
“Cairo ??!!” teman-teman Dinda yaitu Rahma, Nurul, dan Fatima terkejut dan saling berpandangan. Begitu pula Dinda yang langsung mengerutkan dahi.
“Siapa yang mau ke Cairo ?” Nurul terheran.
“Lho bukannya hari ini Dinda mau pindah sekolah ke Cairo ?” jawab Nino. Rahma, Nurul dan Fatima kembali saling pandang dan seketika tertawa. Dinda pun mengulum senyum.
“Ya ampun Nino, Dinda memang mau pindah ke Cairo, tapi itu tahun depan setelah lulus MA, baru Dinda akan melanjutkan kuliah disana. Kalau sekarang, Dinda mau pulang ke Malang dulu, Ibunya sedang sakit” jelas Fatima sambil menahan tawa.
“Sudah ya, kami mau mengantar Dinda ke stasiun dulu. Assalamualaikum” ucap Nurul kemudian.
“Wa-a-la-i-kum-sa-lam” Nino menjawab terbata kemudian terdiam. Membatu. Lega sekaligus malu. Akhirnya ia hanya bisa menertawakan dirinya sendiri. Terlihat dari kejauhan Ustadz Idris dan Furqon sedang tertawa. Nino mencibir. Furqon, awas kau ya ! Nino mengepalkan tangannya.
Namun Nino bersyukur, ia telah mendapatkan banyak hal disini. Belajar, berteman, sungguh harta yang tak ternilai harganya. Nino telah menyadari betapa berharganya hidup yang telah Allah berikan. Dan Nino bersyukur ia masih diberi kesempatan untuk merasakan nikmat-Nya yang begitu melimpah.
***

Minggu, 12 Februari 2017

AKU MENCINTAIMU


Karya : Muhammad Al-Farabi

“Lari cepet! Lari! Ngga ngerasa ditunggu?”
Bentakku dengan suara yang lantang dan keras. Anak-anak dengan pakaian yang serba aneh berlari berhamburan tak karuan. Suara kerincingan dari sepatu calon peserta didik baru mendominasi suasana pagi yang masih gelap dan diselimuti kabut yang cukup tebal.
Ya, perkenalkan namaku Hamish Sabian. Aku seorang senior OSIS tingkat 2 di salah satu SMK di Jogjakarta. Aku tidak merasa istimewa, aku hanya siswa sederhana yang mengikuti banyak kegiatan di sekolah untuk mencari banyak teman.
Bersama dua sahabatku Faril Ramadhan dan Christian Bakti Perdana, aku menjalani kegiatan di sekolah dengan senang hati. Salah satunya menjadi seorang pengurus OSIS. Masa Orientasi Siswa atau MOS memang menjadi ajang yang paling ditunggu tunggu oleh senior OSIS tingkat 2 dan 3. Dengan kegiatan ini kami bebas memarahi, mengerjai, maupun menghukum adik kelas sesuka hati kami haha.
Dari kejauhan terdengar suara rintihan dari dekat gerbang masuk. “Aduh.. Kakiku sakit!” Tanpa berpikir panjang aku menuju ke sumber suara. Remang remang ku lihat seorang gadis dengan rambut bergelombang merintih kesakitan. Memang keadaan belum terlihat jelas karena mereka diwajibkan berangkat pukul 4 pagi.
“Hei, kamu! Kenapa kamu berteriak teriak? Tidak Merasa ditunggu ya?!” Bentakku.
“Maaf kak, kaki saya terkilir karena terburu buru saat lari.” Balasnya dengan suara gemetar.
“Baiklah. Cepat kamu susul teman temanmu yang sudah berbaris di lapangan!”
“Baik kak. Terimakasih.”
Gadis itu buru-buru membereskan atributnya yang berceceran akibat terjatuh. Mungkin karena ketakutan dia langsung berlari tanpa memperhatikan kalau ada atribut yang tertinggal.
“Hei kamu! Atributmu ada yang tertinggal!” Teriakku dengan lantang.
Namun karena sudah terlampau jauh, mungkin dia tidak mendengar suara teriakanku. Sekilas kulihat papan namanya, disitu tertulis jelas namanya. Dia bernama Vania Agatha. Papan namanya yang berwarna biru menunjukkan bahwa dia masuk jurusan yang sama denganku.
Aku segera pergi ke lapangan untuk mengumumkan papan nama milik siswi yang bernama Vania itu. Begitu ku panggil namanya, dia maju ke depan dengan kepala yang sedikit ditundukkan. Sepertinya dia masih takut akibat kubentak tadi pagi. Setelah mengambil papan miliknya dia kembali ke barisannya.
Seharian itu kami habiskan untuk memarahi dan mancari-cari kesalahan para siswa baru. Bentakkan tak henti hentinya dilontarkan oleh Adry yang merupakan ketua OSIS di sekolahku.
“15 menit untuk makan itu kurang? Iya?!” Bentak Adry sambil melotot.
“Tidak kak.” Jawab mereka dengan suara yang lirih dan lemas.
“Lalu kenapa masih ada yang terlambat berkumpul? Sekarang ambil konsekuensi 125 kali push up! Laksanakan!” Perintah Adry.
Dibawah teriknya sinar matarhari mereka dengan sigap melaksanakan instruksi dari Adry tersebut. Sebagian siswa mulai pingsan dan dibawa oleh PMR ke UKS untuk beristirahat.
Sejak tadi kupandangi Vania yang entah kenapa membuatku begitu penasaran terhadapnya. Tak berselang lama Vania juga terjatuh pingsan. Aku berlari mendekatinya. Di saat yang bersamaan PMR juga berdatangan, namun aku menyuruh mereka untuk kembali.
Aku mengangkat tubuhnya dan dengan segera ku bawa ke UKS. Kubaringkan dia sambil ku kipasi agar dia cepat siuman. Kutatap wajahnya yang pucat pasi karena pingsan. Aku menatapnya dengan begitu dalam, dan dapat ku rasakan ada sesuatu yang membuatku tertarik dengannya.Karena sudah banyak PMR yang bertugas menjaga, kutinggalkan Vania yang masih pingsan dan kuputuskan untuk kembali ke lapangan.
Saat acara sudah selesai, aku menyempatkan diri untuk melihat keadaan Vania di UKS. Dari kejauhan terlihat dia sedang berbicara dengan anggota PMR yang bertugas. Aku putuskan untuk menghampiri dan memastikan bahwa keadaannya sudah membaik.
“Hai!” Sapaku.
“Hai juga kak.” Balasnya dengan suara yang gemetar begitu melihatku mendekat.
“Kamu ngga usah takut, aku ngga bakalan gigit kamu kok. Kenalin aku Hamish anak kelas 2, satu jurusan sama kamu.” Kulontarkan gurauan untuk mencairkan suasana.
“Iya. Kenalin juga, namaku..”
“Vania kan?” Sahutku memotong omongannya.
“Kok kakak bisa tau?” Dia keheranan.
“Kan aku yang nemuin papan nama kamu.”
“Oh iya, aku lupa kak maaf.” Balasnya sambil tersenyum.
Seketika ku lihat sedikit senyuman di bibirnya yang masih pucat itu. Aku memulai pembicaraanku dengannya. Banyak hal yang kami bicarakan, mulai dari sekolah sampai masalah percintaan. Begitu mengetahui kalau dia sudah punya pacar, aku sedikit merasa kecewa. Namun hal itu tidak menghalangiku untuk terus berjuang mendapatkan cintanya.
Hari sudah semakin sore, sekolah sudah mulai sepi. Hujan mulai jatuh membasahi sekolahku yang luasnya berhektar hektar ini. Benar benar sore yang dingin. Kuputuskan untuk mengajak Vania pulang bersamaku. Kebetulan kami sama pulang dengan naik angkutan umum. Kulihat dia menggigil karena hujan yang sangat deras, ditambah angin yang bertiup sangat kencang.
“Kamu ngga bawa payung apa jaket?” Tanyaku.
“Ngga kak. Tas karungnya ngga cukup.” Dia membalas dengan suara penuh sesal.
“Ini pakai aja jaketku. Kamu lebih butuh dari pada aku. Nih!” Sambil mengulurkan jaketku.
“Ngga kak, ngga usah. Kakak aja yang pakai. Kan cuacanya lagi dingin banget.” Dia menolak dengan halus.
“Udah pakai aja. Aku ngga kedinginan kok. Pakai ya!”
“Iya deh kak. Makasih ya kak!”
Kubalas ucapan terimakasihnya dengan senyum. Begitu hujan sudah mulai reda, kami memutuskan untuk segera menunggu angkutan umum di depan sekolah. Terlihat sebuah angkutan berwarna hijau mendekat dan berhenti di depan kami. Aku mengajaknya naik.
“Yuk naik! Kamu naik duluan!”
“Iya kak. Duduk sebelah situ aja ya kak, biar gampang keluarnya”
“Iya deh. Aku ngikut aja.”
Angkutan umum yang kami tumpangi mulai berjalan. Kami menikmati perjalanan sambil melihat suasana kota menjelang malam. Tanpa kusadari Vania sudah tertidur pulas dengan kepala tertunduk. Kusandarkan kepalanya di bahuku agar lehernya tidak sakit saat terbangun. Aku terkejut karena tiba tiba tangan Vania memelukku dengan erat. Kulihat dia menggigil kedinginan, maka ku putuskan untuk menunggunya sampai dia terbangun.
“Eh kak maaf. Aku ngga tau kenapa tadi bisa meluk kakak gitu.”
“Haha sante aja lagi. Oh iya, ngomong ngomong rumah kamu mana?”
“Rumahku di daerah Losari, udah hampir sampe kok kak. Kalau kakak?”
“Rumahku daerah Bandar, udah kelewatan sih hehe.”
“Ih, maaf kak. Gara gara aku kakak jadi kebablasan deh!”
“Nggapapa kok, aku turun sini aja ya. Jaketku bawa dulu aja.”
“Iya kak. Hati hati ya.”
Kulontarkan senyuman kepadanya. Aku melangkahkan kakiku keluar dari angkutan umum. Aku menunggu angkutan umum untuk berbalik arah. Sesampainya di rumah aku baru ingat kalau aku lupa untuk meminta nomor hp nya. Sial!
Malam itu kuputuskan untuk menelfon Chrsitian untuk menceritakan apa yang kualami hari ini. Aku ceritakan semua yang kualami tadi bersama Vania.
“Yang bener kamu? Gila aja, baru hari pertama MOS udah dapat gebetan.” Ledeknya.
“Biarin. Mungkin ini kali ya, yang namanya love in the first sight?”
“Alay ah kamu. Tapi bisa juga sih.”
“Kamu ngatain alay tapi akhirnya setuju juga.”
“Ya mau gimana lagi Ham. Terus rencana kamu berikutnya apa?”
“Ngga tau, dia udah punya pacar sih. Terus aku harus gimana?”
“Ya dipejuangin dong. Good luck ya!”
“Eh tapi Chris..”
Ya, bagus, telfonnya diputus sama Christian. Aku jadi galau semalaman. Berkali kali kuputar lagunya RAN yang judulnya Pandangan Pertama. Sampai sampai yang awalnya ngga hafal lagunya, jadi halfal banget. Aku nyanyi nyanyi ngga karuan di dalam kamar.
“Kurasa ku telah jatuh cinta pada pandangan yang pertama..”
Berkali kali kuputar lagunya hingga aku merasa bosan dan tak sanggup lagi untuk membuka mataku. Akhirnya kumatikan lagunya dan mulai membaringkan badan untuk tidur.
“Kringgggg...”
Alarm dari hp ku membangunkanku dari tidur yang sangat singkat ini. Aku masih sangat lelah dan ngantuk untuk mejalani MOS hari kedua ini. Kulihat hp ku, jam menunjukkan pukul 3 pagi. Aku segera mandi dan bergegas berangkat agar tidak keduluan oleh siswa baru.
Sesampainya di sekolah aku bertemu dengan Christian dan Faril yang sedang berjaga di dekat gerbang masuk. Banyak sekali siswa yang berlari memasuki gerbang karena takut terlambat. Seperti biasa aku menyapa mereka berdua.
“Pagi bro!”
“Pagi juga bro!” Jawab Christian dan Faril.
“Aku pengen curhat nih sama kalian berdua.”
“Kebatulan aku juga lagi pengen cerita sama kalian.” Balas Faril sambil cengar cengir.
“Yaudah kamu duluan aja Ril yang cerita!”
“Gue lagi suka sama cewek nih!”
“Siapa Ril? Anak kelas 1? Jurusan apa?” Tanya Christian dengan penuh keheranan.
“Iya Ril siapa? Jangan bikin penasaran dong!” Aku menambahkan.
Faril tertawa sambil sesekali memasang raut wajah yang membuat kami semakin penasaran. Memang sudah lama kami tidak membicarakan hal yang berhubungan dengan urusan cinta. Makanya pembicaraan kali ini terasa sangat mengasyikkan.
“Tapi kalau aku ngasih tau, kalian jangan bilang ke siapa siapa ya?”
“Iya deh. Aku sama Hamish janji.”
“Aku suka sama anak kelas 1, satu jurusan tuh sama Hamish.”
“Siapa namanya?” Balasku dengan penuh rasa penasaran.
“Namanya Vania, dia dulu adik kelas aku di SMP”
Perasaanku seketika tak karuan. Sedih, kecewa, marah semua jadi satu. Aku sampai sampai sulit untuk berkata kata. Ternyata sahabatku, suka dengan orang yang sama denganku. Aku bingung, apa yang harus aku lakukan jika keadaan berkata demikian. Seketika aku dilema. Apakah aku harus tetap memperjuangkan cintaku untuk Vania, apa aku harus mundur untuk sahabatku sendiri. Tapi, bukankah Vania sudah memiliki kekasih. Apa Faril benar benar tidak tau tentang hal itu.
“Gila kamu Ril!” Bentak Chrsitian.
“Loh? Gila kenapa?”
“Gila, cewek yang kamu taksir canti banget. Iya kan Chris?”
Aku memotong pembicaraan mereka, aku takut kalau Christian akan membelaku dan menyalahkan Faril. Aku memilih mengalah untuk sahabatku. Apa salahnya ku korbankan perasaanku untuk sahabatku sendiri. Seketika kutarik tangan Christian masuk ke dalam sekolah.
“Kenapa kamu malah ngajak aku ke sini? Aku harus ngasih tau Faril yang sebenarnya!”
“Udah Chris. Aku milih ngalah aja. Aku ngga mau persahabatan kita rusak Cuma gara gara cewek.”
“Tapi..”
“Udah Chris. Aku aja udah ikhlas kok. Aku yakin ini yang terbaik buat aku.”
“Yaudah deh Ham. Aku doain yang terbaik buat kamu.”
“Thanks ya Chris. Oh iya tolong rahasiain tentang perasaan aku sama Vania ya. Aku ngga mau ada orang yang tau, apalagi Faril.”
“Oke Ham. Pastinya.”
Hari itu kami jalani seperti hari sebelumnya, memarahi, mengerjai, dan menguhukum siswa baru dengan berbagai alasan. Hanya saja pada hari itu ada jadwal kunjungan industri untuk para siswa baru. Entah kebetulan atau disengaja, aku mendapatkan bagian untuk menjadi pengawas di bus milik kelas Vania. Aku bingung harus merasa senang atau sedih, karena aku harus dihadapkan dengan Vania yang ternyata juga dicintai sahabatku sendiri.
Dari kejuhan kulihat Faril bertanya taya kepada rekan rekanku OSIS. Dan akhirnya dia menuju ke arahku.
“Eh Ham, kamu yang ngawasin di busnya Vania kan?”
“Iya Ril, kenapa emang?”
“Boleh tukeran ngga? Aku pengen jadi pengawas di busnya Vania”
“Boleh kok Ril, ini daftar absennya.”
“Makasih banyak ya Ham.”
Kulontarkan senyum kepadanya untuk menutupi kesedihan yang sebenarnya aku rasakan. Aku merasa tidak sanggup untuk menutupi rasa sakit hatiku. Tapi di sisi lain aku juga harus menjaga perasaan Faril, sahabatku sendiri.
Semua siswa baru diinstrusikan untuk segera memasuki bus agar jadwal acara yang sudah kami buat tidak molor. Kulihat Faril sangat bahagia membimbing para siwa baru untuk masuk bus. Sebuah pemandangan yang sangat berbeda dengan keadaanku saat ini. Iya, aku sangat menginginkan berada di posisi Faril saat ini. Aku ingin melihat Vania, aku ingin bersamanya. Tapi apa yang bisa aku lakukan dengan keadaanku seperti ini, aku hanya bisa diam dan mencoba untuk ikhlas.
Hari itu kami habiskan berkeliling pabrik makanan yang kami kunjungi. Seharian kami di sana sudah banyak anak kelas 1 yang pingsan karena keadaan di dalam pabrik memang sangat pengap. Jam menunjukkan pukul setengah 3 sore. Kami segera kembali ke sekolah agar para siswa tidak pulang terlalu malam.
Aku tidak berniat mengajak Vania untuk pulang bersama sore itu, karena aku ingin menjaga perasaan Faril. Dan benar sekali dugaanku, Faril mengajak Vania untuk pulang bersama. Tapi, entah mengapa Vania meolaknya. Ada sedikit rasa gembira dalam hatiku. Vania segera menuju ke basecamp OSIS untuk mencariku.
“Kak, pulang bareng yuk!”
“Loh, kata Christian kamu dianter sama Faril?”
“Engga kok. Kak Faril tadi emang ngajak bareng, tapi aku ngga mau hehe.”
“Aduh, tapi aku ngga bisa Van. Aku mau ke rumah Christian dulu ngambil titipan tugas. Maaf ya!”
“Iya kak ngga papa kok. Yaudah aku pulang duluan ya!”
“Iya Van, hati  hati ya!”
Aku terpaksa harus menolak ajakan Vania untuk pulang bersama. Aku harus berbohong pada diriku sendiri yang membuat rasa sakit kembali aku rasakan. Tidak lama kulihat Vania pulang bersama Faril. Ada rasa senang bercampur sedih karena Vania tidak jadi pulang bersamaku. Hal itu membuatku semakin merasa sakit hati. Sampai kapan harus kututupi perasaanku pada Vania.
MOS pun akhirnya berakhir. Aku kembali ke aktivitasku semula. Aku putuskan untuk semakin menjauh dari Vania. Tiap kali dia menyapaku, aku membuang muka darinya. Tiap kali berpapasan aku memilih berbalik arah atau pura2 tidak melihat. Semua itu ku lakukkan untung menghilangkan perasaanku padanya. Tapi entah mengapa, semakin aku mencoba menjauh, rasa sakit itu semakin terasa.
Sudah berjalan 5 bulan, namun perasaanku masih saja untuk Vania. Aku sudah bingung, harus dengan cara apa melupakannya. Padahal Vania pun sudah putus dengan pacarnya sekitar satu bulan yang lalu. Hari itu tepatnya hari Senin sepulang sekolah aku membuka facebook karena sudah satu minggu aku belum online. Seperti biasa, aku ngestalk timeline facebook milik Vania. Betapa terkejutnya aku, karena disitu tertulis jelas Vania Agatha berpacaran dengan Faril Ramadhan. Hatiku benar benar hancur kali ini. Rasanya aku ingin berteriak untuk meluapkan semua emosi yang terpendam selama berbulan bulan ini. Kuputuskan untuk menelfon Faril, akan kuucapkan selamat atas hubungannya dengan Vania.
“Hallo Ril.”
“Iya Ham, ada apa? Tumben nelfon hehe.”
“Hehe ngga papa kok. Cuma mau ngucapin selamat aja.”
“Selamat buat apa?”
“Kan kamu habis jadian sama Vania?”
“Hehe udah 5 hari yang lalu kok.”
“Aku tunggu pajak jadiannya ya!”
“Haha siap bos!”
Aku mencoba untuk menguatkan hatiku. Kali ini aku benar benar rapuh, seperti kumbang tanpa sayap yang mencoba untuk terbang kembali.
Sore itu bertepatan dengan malam Natal aku yang sedang jalan jalan di pusat kota bertemu dengan Vania yang sedang berbelanja kebutuhan Natal. Sudah lama sekali aku tidak berbicara dengannya. Kusempatkan sebentar saja untuk menemaninya berbelanja. Karena hari semakin larut dia berpamitan untuk segera pulang. Dari kejauhan kupastikan bahwa dia mendapatkan angkutan umum untuk pulang.
Sangat lama aku menunggu Vania yang belum mendapatkan angkutan umum. Tapi kenapa dia tidak meminta Faril untuk menjemputnya saja, tanyaku dalam hati. Tiba tiba dari kejauhan mucul sebuah sepeda motor yang melaju kencang. Motor menuju ke arah Vania dan menarik tasnya.
“Tolong jambret! Tolong jambret!”
Aku langsung menuju ke arah Vania, orang orang disekitar jalan juga berdatangan. Sebelum kami sampai, motor itu sudah melaju kencang. Vania terseret, dan kepalanya membentur badan jalan. Sekuat tenagaku aku berteriak, aku menyesal tak menunggu di sampingnya. Aku kesal, dimana kekasihnya yang seharusnya menjaganya.
“Van, bangun van! Bangun!” Teriakku.
Aku tak dapat membendung air mataku melihat keadaan Vania. Kepalanya mengeluarkan darah. Aku yang selama ini merasa pusing saat melihat darah, entah kenapa rasa takut itu hilang. Yang aku pikirkan bagaimana aku bisa menyelamatkan Vania saat itu juga.
“Langsung di bawa ke rumah sakit aja mas! Pakai mobil saya saja.” Ujar salah satu orang.
“Benar pak? Terimakasih sekali pak”
“Sama sama. Ayo langsung dinaikkan saja ke mobil!”
Beruntungnya diriku karena orang orang masih memiliki rasa simpati. Dengan segera Vania kami bawa ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan aku mengusap darahnya yang mengucur. Aku menangis, aku benar benar lemah kali ini.
Sesampainya di rumah sakit, bapak yang baik tadi juga menanggung administrasi untuk Vania. Karena kondisinya yang parah, Vania harus masuk UGD. Aku memutuskan untuk tidak menelfon siapapun dulu, aku takut terjadi sesuatu pada Vania. Berjam jam aku menunggu dokter untuk memastikan keadaan Vania baik baik saja. Begitu dokter keluar dari ruang UGD aku langsung menanyakan keadaan Vania.
“Bagaimana keadaan teman saya dokter?” Tanyaku dengan rasa panik.
“Teman kamu baik baik saja, hanya saja saat terjatuh ada benturan yang keras pada mata kirinya. Sehingga kemungkinan mata kirinya mengalami kebutaan.”
Seketika badanku lemas, aku merasa bersalah karena tidak bisa menjaganya.
“Tapi, kalau ada donor mata untuk teman kamu, matanya bisa kembali normal.”
“Ambil mata saya dok. Asalkan teman saya bisa selamat.”
“Tapi donor mata hanya bisa dilakukkan pada orang yang meninggal. Sangat berbahaya jika pendonor masih dalam keadaan hidup.”
“Saya tidak perduli dokter! Apapun saya lakukan asalkan teman saya bisa selamat.”
“Baiklah. Tapi kita harus membuat surat perjanjian terlebih dahulu.”
“Baik dokter.”
Aku mengukuti dokter ke ruangannya untuk membuat surat perjanjian. Selang beberapa jam, operasi pendonoran dilakukkan.
Entah berapa lama sudah aku tertidur, begitu bangun ada rasa perih di mata kiriku. Aku pun tidak bisa melihat apapun, aku seperti orang buta yang hanya bisa melihat kegelapan. Tak lama dokter membuka perban yang terpasang di mataku. Aku mencoba membuka mata kananku, sedangkan mata kiriku masih tertutup perban.
Aku berterima kasih kepada dokter dan orang yang telah membiayai segala pengobatan Vania di rumah sakit. Di samping tempatku berbaring, aku melihat vania masih tertidur dengan mata tertutup perban. Aku berpamitan kepada dokter dan meminta satu hal kepadanya.
“Pak, saat teman saya terbangun tolong janga beritahu soal mata ini pak, saya mohon.”
“Tapi, kalau ada anggota keluarganya yang bertanya?”
“Jawab saja kalau dia hanya luka karena terbentur pada kepala dan matanya. Jangan katakan tentang pendonoran ini ya pak.”
“Baiklah. Saya janji.”
“Terimaksih pak. Setelah ini akan saya telfon anggota keluarganya. Saya pamit pak!”
“Iya sama sama nak!”
Aku menelfon keluarga Vania dengan hp nya. Sebelum aku pergi meninggalkannya, kusempatkan untuk mengecup keningnya. Air mataku menetes di pipinya. Berat rasanya untuk meninggalkannya. Dengan berat hati, kulangkahkan kakiku meninggalkan rumah sakit tersebut.
Aku masuk sekolah seperti biasa, tapi ada yang berbeda. Iya, mata kiriku buta. Aku jadi bahan olok olokan di sekolah, termasuk di kelasku. Teman teman yang dulu dekat denganku mulai mejauh karena kondisi mataku yang buta. Tapi untungnya kedua sahabatku tetap mau berteman denganku, merekalah yang membelaku saat aku dihina dan merekalah yang selalu memberiku support agar aku tidak pernah putus asa dengan kondisiku.
Saat pertama melihat kondisiku banyak yang kaget dan terheran. Aku yang semula normal, kenapa menjadi buta sebelah seperti ini. Ibulah yang pertama mengetahui kondisiku sepulang dari rumah sakit saat itu. Ibu menangis saat aku melihat kondisiku yang buta sebelah ini.
“Kok baru pulang Ham? Terus, mata kiri kamu kenapa diperban seperti itu?” Ibu bertanya.
“Kemarin Hamish kesrempet mobil, kepala sama mata Hamish kebentur jalan. Kata dokter mata kiri Hamish buta bu.”
“Maafkan Hamish bu.” Sesalku dalam hati.
Ibu seketika memelukku dan menangis. Aku merasa bersalah karena telah membohongi ibuku sendiri. Aku tak kuasa membendung air mataku.
Dua minggu berselang, Vania kembali masuk sekolah. Kondisinya sehat. Aku senang melihatnya. Sepulang sekolah ku lihat Vania sepertinya sedang menuggu Faril di dekat gerbang. Kuputuskan untuk mendekatinya. Begitu aku menyapanya, dia kaget melihatku dan menyuruhku untuk menjauh. Dia menghinaku seperti teman teman yang lain.
“Hai Van” Sapaku.
“Ngapain kamu di sini?! Pergi pergi! Aku ngga mau punya temen cacat!” Balasnya dengan kasar.
“Ehh, maafin aku Van. Aku pamit pulang aja kalau gitu.”
“Ya sana pulang tinggal pulang!”
Entah apa yang membuat sikapnya berubah drastis. Kutinggalkan Vania, dan kuputuskan untuk pulang. Sakit hati semakin ku rasakan, tapi entah mengapa aku tak bisa membencinya.
Hari hari ku lalui tanpa komunikasi dengan Vania. Terkadang aku menyesali kondisiku yang sekarang. Aku menyesali kenapa diriku sekarang cacat. Tapi Ibu dan sahabatku selalu memberi support, dan aku bersyukur masih memiliki satu mata yang normal.
Terkadang pandanganku sering kabur atau hilang. Hidungku juga terkadang mimisan, aku takut terjadi sesuatu padaku. Tapi aku selalu berpositive thinking kalau ini hanyalah efek dari donor mataku. Saat aku pergi bersama kedua sahabatku menyaksikan pertandingan bola, aku merasa pusing dan ingin pingsan.
“Ham hidung kamu mimisan, muka kamu pucet banget lagi!”
“Ham.. ham.. hamm!”
Tegur Christian dan Faril sambil menggoyang goyangkan badanku. Aku pingsan di tengah keramaian penonton bola. Dengan segera mereka membawaku ke rumah sakit terdekat.
Saat aku terbangun, pandanganku buram. Samar samar ku lihat Christian dan Fadil menangis di samping aku terbaring.
“Kalian kenapa kok menangis?”
“Tidak apa apa Ham. Ada hal penting yang harus kami sampaikan. Tapi kamu janji harus kuat ya?” Faril membalas.
Jantungku seketika berdetak lebih kencang dari biasanya. Perasaanku sangat tidak enak.
“Apalagi yang terjadi padaku Tuhan?” Keluhku dalam hati.
“Iya Ril bilang aja!”
“Kamu.. kamu..”
Faril berhenti bicara, ia tak mampu membendung air matanya. Dia menyuruh Chrsitian untuk memberitahuku tentang apa yang terjadi.
“Kamu.. kamu kena kanker mata stadium akhir Ham.” Christian ikut menangis.
“Oh, aku ngga papa kok! Sante aja lagi hehe.”
Duniaku serasa ingin runtuh. Aku mencoba kuat dan sabar di hadapan teman temanku. Aku tidak mau terlihat lemah di hadapan teman temanku. Lagi lagi aku harus manyembunyikan kesedihanku, aku mersa sudah tidak sanggup lagi.
“Boleh minta satu hal sama kalian?”
“Boleh banget Ham. Apa?” Sahut Christian.
“Tolong rahasian ini semua ya, termasuk orang tuaku.”
“Tapi Ham?”
“Kalau kalian pengen nolongin aku, tolong banget jaga rahasia ini ya?”
“Iya Ham, kami janji.”
Kami bergegas meninggalkan rumah sakit. Semua kami jalani seperti biasa, tidak terjadi apa apa. Aku tau, umurku sudah tak lama lagi, maka kusempatkan untuk menulis sebuah surat untuk Vania. Surat itu kutitipkan kepada Faril, untuk suatu saat diberikan kepada Vania.
“Ril, kalau suatu saat nanti aku udah ngga ada tolong kasihin surat ini buat Vania ya?”
“Jangan gitu ah, kamu bakal sehat kok. Kamu juga kenapa sih ngga mau berobat?”
“Percuma Ril, aku udah stadium akhir. Sekali lagi titip ya buat Vania.”
“Iya Ham! Aku yakin kamu bakal sehat kok.”
Dua belas hari berselang. Hari itu adalah hari Valentine yang penuh akan rasa kasih sayang. Di sekolahku ada event dengan mengundang band band besar. Sangat ramai sekali saat itu, sampai sampai aku dan anak OSIS kewalahan. Seketika aku mimisan, aku yang sedang berjaga di gerbang tidak dapat melihat apa apa, semuanya gelap. Rekan OSIS yang lain mendekatiku dan menanyakan keadaanku.
“Ham, kamu kenapa Ham?! Ham!”
Aku tidak tau siapa yang memanggil namaku karena aku tidak bisa melihat. Badanku lemas, rasanya aku ingin seperti tertidur.
Begitu bangun ku lihat tubuhku dikerumuni banyak temanku. Mereka menangisiku, menyesalkan karena aku telah meninggal dunia. Ya, aku telah meninggal. Tidak ada lagi sakit hati yang ku rasakan, tidak ada lagi penyakit yang ku derita.
Berselang 7 hari setelah hari kematianku, Faril menepati janjinya untuk memberikan surat titipanku kepada Vania. Vania segera membuka dan membaca surat dariku. Air matanya menetes begitu membaca surat dariku.
“Untuk Vania,
Hai Van, apa kabar kamu? Udah lama ya kita ngga ngobrol, pulang bareng. Kangen bisa gitu lagi sama kamu. Tapi kayaknya itu udah ngga mungkin deh Van hehe. Mungkin waktu baca suratku ini, aku udah pergi jauh banget. Aku sekarang udah tenang di sini Van, aku udah sama Tuhan, Tuhan baik sama aku.
Maafin aku kalau kamu malu punya temen buta kaya aku. Aku ngga bermaksud bikin kamu malu. Kamu waktu itu nyuruh aku pergi jauh dari kamu kan? Sekarang aku udah menuhin permintaan kamu kok, aku udah pergi jauh sama Tuhan.
Sebenarnya aku udah suka sama kamu sejak hari pertama kita pulang bareng. Aku sayang kamu Van. Tapi begitu tau Faril juga suka sama kamu, aku lebih milih diem buat nyelametin persahabatanku sama Faril. Aku juga seneng kok begitu tau kalian jadian, semoga langgeng terus ya.
Oh iya Van, inget waktu kita ketemu pas malam Natal. Habis kita pisah itu, aku ngawasin kamu dari jauh buat mastiin kamu udah dapet angkutan umum. Tapi malah kamu dijambret, terus kepala kamu kebentur badan jalan. Akhirnya aku yang bawa kamu ke rumah sakit. Kata dokter mata kiri kamu bakal buta. Jadi, aku putusin buat ngasih mata kiri aku buat kamu, walaupun dokter sempet ngelarang soalnya itu beresiko. Aku ngga mau ngeliat kamu buta, aku ngga mau ngeliat kamu cacat, aku ngga mau kamu diejekin temen temen, aku ngga mau kamu menderita. Makanya aku kasih kamu mataku yang sebelah kiri biar kamu tetep bisa melihat seperti biasa.
Aku ngga pernah marah sama kamu Van,  apapun yang pernah kamu lakukan sama aku. Waktu kamu mengusirku pun, aku ngga marah. Aku selalu berfikir bahwa apa yang kamu lakukan itu karena kamu mencintaiku. Kamu sangat berarti buatku Van.
Aku pamit ya Van, aku udah ditunggu sama Tuhan. Aku yakin Faril biasa jagain kamu terus sampe nanti. Biarpun aku ngga pernah jadi pacar kamu, tapi aku tetep sayang kamu Van.
Salam
Hamsih”
Seketika tangisnya meledak, dia memeluk Faril dan menceritakan semua kepadanya. Vania meminta Faril untuk mengantarnya ke makamku. Di sana Vania menangis, meminta maaf atas semua sikapnya terhadapku. Tanpa meminta maaf aku sudah memaafkanmu. Aku mencintaimu Vania, walaupun aku tau kamu tidak menyukaiku.

Senin, 06 Februari 2017

" Ketika Takdir Menguji Cinta "





Cerpenku : = Ketika takdir menguji cinta =
Oleh : Rudi Al-Farisi
 
            DUBRAK…” banting pintu kamar kost nya.
Hari yang melelahkan..” getar bibirnya pelan.
            Sejurus ia langsung nyalakan AC kamarnya. ia campakkan tas kerjanya, ia rebahkan badannya..Wusss… angin sejuk langsung menampar tubuhnya. Ia lihat jam di dinding, masih jam empat, masih ada satu jam lagi. Ucapnya pelan.
            Ia baringkan badannya dikasur, ia hendak istirahat sejenak sebelum berangkat kuliah, rencana hatinya. Karena baginya waktu sangat bermanfaat dalam hidupnya, aktivitasnya cukup sibuk, pagi ia bekerja, sore hari ia kuliah. Ia bekerja di sebuah perusahaan cukup besar di kota dumai itu, penghasilannya lebih dari cukup, maka dari itu, untuk sekolah adiknya, ia yang mengambil alih.
            Ti dit…ti dit…
            Tidurnya terganggu dengan dering HP nya.
Ada sms masuk, ucap batinnya. Ia baca’”
           
            Ass.. mas Irul.. sebelumnya aku
            Mohon maaf beribu maaf mas..
            Dalam keputus asaanku. Aku ingin
            Mengabarkan bahwa aku akan
            Menikah esok hari.
            Allah mentakdirkan lain.
            Doakan aku ya mas…
 
            Spontan ia kaget, ia bingung, ada apa yang terjadi dengan Luna. Tanya batinnya. Luna adalah pacarnya, cinta yang ia jalin hampir tiga tahun itu, tiba tiba hancur berkeping keping, tak tahu apa penyebabnya, padahal baru bulan kemaren ia mengunjungi Luna dan keluarganya. Semua berjalan lancar penuh dengan canda tawa.
            Ia coba telpon, tenyata tidak aktif. Ia coba kembali, tetap masih nada yang sama. Ia bangkit dari kasurnya, semula jadwalnya hari itu hendak kuliah, sementara waktu ia batalkan dulu.
            Hatinya masih risau dan bingung, sekejap mata ia langsung tancap gas menuju rumahnya Luna, dengan mengendarai sepeda motornya, ia melaju membelah jalan       dengan hatinya bertanya Tanya.
            Ya Rabb… apa yang terjadi ya rabbi. Rintih hatinya bingung.
Di jalan, ia melaju dengan kecepatan tinggi, ia ingin tahu segera, gerangan apa yang terjadi dengan pacarnya. Baru bulan yang lalu ia merencanakan bersama keluarganya luna untuk melamar Luna setelah kuliahnya selesai, hanya tinggal menunggu skripsinya selesai saja baru ia akan wisuda.
 
           
                                                ************************
 
            Setelah sampai didepan rumah Luna, ia langsung memarkirkan sepeda motornya, jarak rumah luna cukup jauh dari tempat kostnya,
            Tok…tok…tok… assalamu’alaikum. Sapanya sambil mengetuk pintu. Ia tunggu sejenak, belum ada jawaban, ia ulangi tok..tok..tok…assalamu’alaikum..
            Wa’alaikum salam, pintunya terbuka, ternyata ibunya Luna,
Sore bu.. maaf menggangu.. Lunanya ada bu… sapanya ramah.
            Eh… nak irul, silahkan masuk dulu nak...jawab ibunya luna sambil mempersilahkan masuk. Terima kasih bu…
            Ia tatap wajah ibunya luna, ada kegelisahan dan kesedihan yang mendalam tergambar dari raut wajahnya, mukanya terlihat pucat melihat irul yang datang. Hatinya semakin bingung.
            Luna nya ada bu…? Tanya penasaran..
Ibunya luna diam menunduk sesaat… Lu..luna pergi ke pekan baru bersama ayahnya nak irul. Emang nak irul tidak diberi tahu luna..? jawab ibunya dengan getar bibir terbata bata.
            Justru itu bu.. aku ingin menanyakan perihal apa yang terjadi dengan luna,,? Tiba tiba aku mendapat sms dari luna…? irul menjelaskan maksud kedatangannya.
            Tiba tiba mata ibunya luna berkaca kaca dan menunduk diam sesaat. Ada kepedihan dalam batinnya, suasana ruangan itu menjadi hening, hati irul semakin bingung bercampur gelisah,
            Bu… apa yang terjadi dengan luna bu..? Tanyanya memecah keheningan.
Ma…maafkan kami nak irul.. maafkan kami.. takdir Allah lah yang berkuasa. Jawab ibunya luna dengan terbata.
            Sebenarnya..apa yang terjadi bu..?
            Ba…baiklah.. ibu coba menjelaskan semua, kami telah menerima kuasa takdir Allah, se..sebenarnya yang terjadi adalah bermula saat luna seminar di pekan baru. Dua hari setelah nak irul datang bulan kemaren kesini. Luna minta izin mengikuti seminar itu. Kampusnya luna mengirim utusan dua orang untuk mengikuti seminar itu. Luna salah satunya, seminar IPTEK itu diadakan pemko pekan baru. Ia berangkat bersama Indra teman kampusnya, indra adalah anak ketua yayasan kampusnya luna, seminar itu berlangsung dua hari. Kampusnya luna memberikan fasilitas dua kamar hotel untuk menginap. Tiba tiba suara ibunya luna terhenti dan tangisnya semakin menjadi jadi.
            Dengan perasaan gelisah hati irul menebak nebak apa yang terjadi.
Tenang bu..” sabar bu..
            Tangis ibunya luna diam sesaat, ia coba menerima realita yang ada, lalu ia melanjutkan,
            Sepulangnya luna dari pekan, wajah luna tampak pucat, kami coba menanyakan ada apa dengannya. Ia tak mau cerita, tetapi kami coba merayu dan memaksanya. Dengan hati menjerit dan berlinang air mata, ia menjelaskan,, bahwa ia .. bahwa ia … Dijebak dan DIPERKOSA oleh indra. Tiba tiba tangis ibunya luna kembali meledak, air matanya mengalir deras, Ternyata…. indra telah lama menyukainya. ia mengetahui bahwa luna akan segera dilamar nak irul. Maka itu, dalam kesempatan adanya seminar itu, ia minta kepada ayahnya yang ketua yayasan untuk mengirim ia bersama luna.
            Hati irul pedih, langit seakan runtuh ia rasa. Matanya berkaca kaca, badannya kaku serasa lumpuh, bibirnya bertasbih,, batinnya merintih dengan apa yang baru ia dengar.
            Kami pihak keluarga telah sepakat untuk menikahkan luna dengan indra. Maafkan kami nak irul..maafkan kami….Ibunya luna mengakhiri penjelasannya.
            Suasana jadi mencekam, hati irul seakan ingin meledak, wajahnya menunduk, ada yang menetes dari matanya. Ia tidak kuat untuk menahan perasaannya. Ia langsung pamit,,
Ass…assalamu’alaikum bu. Saya pamit, sampaikan salam tegarku buat luna.
 
                                                *************************
 
Dalam perjalanan pulang bibirnya terus bertasbih, hatinya remuk, matanya terus mengalirkan sesuatu. Pernikahan yang ia rencanakan gagal, wisuda yang ia tunggu tunggu sebagai awal puncak kesuksesan masa depannya, terasa tak bermanfaat lagi. Luna adalah  gadis cantik dan jelita, pujaan hatinya itu telah terbang dibawa seekor elang yang rakus tak bermoral.
Sesampainya dikamar kostnya. Ia menangis sejadi jadinya.. ia meratap kepada tuhannya, ia mohon diberi kekuatan dan ketabahan, ia larut dalam kesedihan, tiba tiba suara adzan maghrib berkumandang ia dengar. Panggilan tuhan merasuk dalam batinnya.
Dengan berlinang air mata ia mencoba tegar menghadapi kuasa Allah itu. Ia wudhu’, ia bentangkan sejadahnya, ia bertakbir.
Usai sholat, ia munajat kepada rabbnya. Ia bertafakkur, ia roboh bersujud dihadapan takdir Allah. Ia utarakan kegundahan hatinya. Ia berharap diberikan cinta diatas cinta.
 
                                    ***************************
 
Enam bulan telah berlalu, dengan hati yang tegar ia selesaikan kuliahnya. Kini ia akan meraih gelar S1 nya. Namun dari hari kehari bayangan luna masih saja hadir dalam benaknya. Tanpa kabar, tanpa pertemuan, dan tanpa penjelasan terakhir dari bibir luna. setelah hari yang pahit itu. Ia coba menata kembali masa depannya.
Di hari wisudanya itu. Sengaja ia panggil ibunya dari kampung untuk mendampinginya. Senyum ibunya itulah yang membuat ia cukup terhibur menghadapi hari yang ia tunggu tunggu dulu. Hari yang semula ia rencanakan untuk melamar luna. tapi keadaan berubah. Dengan bantuan Allahlah ia sanggup menghadapi semuanya.
Tiba tiba suasana Aula gedung itu bertasbih. Acara wisuda heboh dengan kedatangan sosok bidadari yang anggun jelita. Mata semua lelaki memandang kearahnya. Ia menoleh. Subhanallah…” batin nya bertasbih. Sosok itu adalah luna. wajahnya yang dibalut jubah dan jilbab putih itu seakan membuat ia seperti bidadari yang baru turun dari langit.
Hatinya berdesir, jantungnya berdegup kencang. Sama seperti rasa pertama kali ia berjumpa dengan luna dulu. Alangkah beruntung orang yang menikahinya..” Batinnya mengupat..
Astaghpirullah…ia sudah menikah,, aku haram memikirkannya. getar bibirnya menepis perasaannya,
Ibunya tersenyum melihat perubahan pada anaknya. Apa lagi rul..” kamu udah pantas menikah.. kerjaanmu sudah mapan, sarjana pun sudah ditangan, semua para ibu ibu ingin bermenantukan kamu. Canda ibunya, karena ibunya tidak tahu dengan apa yang terjadi, ia hanya balas dengan senyuman. Tunggu aja bu.. pilihan Allah. Jawabnya.
Ternyata luna menghampirinya .
Assalamu’alaikum..Selamat ya mas… aku datang bersama ibu ingin melihatmu. Sapa luna dengan senyuman malu.
Wa’alaiku salam… terima kasih..ibu mu mana dan ….
Dan.. apa mas…? potong luna. Seakan luna sudah mengetahui maksud nya.. Oh ya.. kedatanganku kali ini hanya untuk menyampaikan maafku saja kok mas…dan menjelaskan apa yang terjadi padaku selama ini. Sekaligus menebus ketidakberdayaanku mas. Lanjut luna dengan wajah menunduk dengan matanya menetes kan sesuatu.
Belum sempat bertanya lagi, irul diajak luna bicara empat mata. Luna hendak menjelaskan sesuatu hal yang penting seperti yang ia tunggu selama ini.
 Baik lah.. kita ke depan mushollah saja.
Dengan air mata yang terus jatuh, luna coba menenangkan diri.
Ia menjelaskan apa yang terjadi selama ini.
Mungkin mas… telah diberi tahu ibu kejadian yang menimpaku. Tetapi semua itu berubah, ternyata takdir Allah berubah lagi. aku terus berdo’a kepada Allah, agar diberi kekuatan untuk menjalani hidup.
Umur pernikahanku dengan lelaki itu hanya bertahan satu minggu, setelah acara pesta pernikahan kami di pekan baru usai, tanpa melalui malam pertama ia lebih memilih merayakan pesta kemenangannya bersama teman temannya, pada malam itu ia bersama komplotannya merayakan pesta narkoba, dan naas, malam itu juga ia over dosis dan dibawa kerumah sakit, 1 minggu ia koma tak sadarkan diri, lalu ia tewas, aku hanya melihat proses kuasa Allah itu dengan bersyukur, Allah maha tahu penderitaan hambanya. Maka dari itu mas… Allah sedang menguji diriku.. statusku sekarang janda mas.. jelas luna panjang lebar dengan hati tegar.
Jadi ..? Ucap irul ceplos sambil melihat kondisi Luna.
Oh ya… aku sekali lagi bersyukur kepada Allah, Setelah seminggu kematian brengsek itu, aku memeriksakan diri ke dokter. Ternyata kesucianku masih utuh. Brengsek itu hanya menjebakku agar ia punya alasan untuk menikahiku. Begitu lah kisah hidupku mas… Allah masih menyayangiku..
Mendengar semua penjelasan itu, hati irul berdesir, setetes embun masuk ke dalam batinnya. Ternyata ujian Allah telah berakhir. Ia bertakbir dalam hati. Ia hendak langsung melamar luna hari itu juga.
ALLAHUAKBAR………>>>>
 
 
 
 
 
Sekian….Terima kasih,,,

 
Blogger Templates