Social Icons

Pages

Tampilkan postingan dengan label Puisiku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisiku. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Februari 2017

Puisi Guru dan Pendidikan

Pahlawan Pendidikan 
Jika dunia kami yang dulu kosong
tak pernah kau isi
Mungkin hanya ada warna hampa, gelap
tak bisa apa-apa, tak bisa kemana-mana
Tapi kini dunia kami penuh warna
Dengan goresan garis-garis, juga kata
Yang dulu hanya jadi mimpi
Kini mulai terlihat bukan lagi mimpi
Itu karena kau yang mengajarkan
Tentang mana warna yang indah
Tentang garis yang harus dilukis
Juga tentang kata yang harus dibaca
Terimakasih guruku dari hatiku
Untuk semua pejuang pendidikan
Dengan pendidikanlah kita bisa memperbaiki bangsa
Dengan pendidikanlah nasib kita bisa dirubah
Apa yang tak mungkin kau jadikan mungkin
Hanya ucapan terakhir dari mulutku
Di hari pendidikan nasional ini
Gempitakanlah selalu jiwamu
wahai pejuang pendidikan Indonesia
Terimah kasih guru 
Kaulah pembimbingku……
Kaulah pengajarku……
Kaulah pendidikku……
Guru……
Itulah julukanmu……
Yang tak pernah bosan dalam……
Mengajar dan membimbingku
Guru……
Tanpa dirimu aku akan hancur……
Tanpa dirimu aku akan sengsara……
Tanpa dirimu aku akan sesat……
Guru……
Terima kasih……
Atas segala jasa-jasamu……
Pahlawan Tanpa Tanda Jasa  
Pahlawan tanpa tanda jasa
Ialah Guru
Yang mendidik ku
Yang membekali ku ilmu
Dengan tulus dan sabar
Senyummu memberikan semangat untuk kami
Menyongsong masa depan yang lebih baik
Setitik peluhmu
Menandakan sebuah perjuangan yang sangat besar
Untuk murid-muridnya
Terima kasih Guru
Perjuanganmu sangat berarti bagiku
Tanpamu ku tak akan tahu tentang dunia ini
Akan selalu ku panjatkan doa untukmu
Terimakasih Guruku

Majulah Terus Siswa Indonesia
Dengar, dengar, dengarlah isi tulisan ini
Hanya kepadamu harapan ku sandangkan
Hanya kepadamu cita- cita dipertaruhkan
Tak ada sesuatu yang tak mungkin bagimu
Bangkitlah melawan arus yang terus mendera
Kuasailah dirimu dengan sikap optimis
Paculah laju kudamu sekencang-kencangnya
Lawanlah bebatuan terjal yang mengusik di jalanan
Ingat, Engkau adalah harapan, engkau adalah masa depan
Masa depan ada di tanganmu
Harapan terpendam ada di pundakmu
Nasib bangsa engkau yang menentukan
Di Antara Dua 
Di antara dua, aku harus memilih
Entah satu baik atau buruk
Aku tak bisa berdiri di antara keduanya
Dan aku menentukannya

Di antara dua, aku harus masuk
Entah satu mudah atau sulit
Aku tak bisa bergelut di antara keduanya
Dan aku meratapinya

Di antara dua,aku harus berjuang
Entah satu manis atau pahit
Aku tak berhenti meraih satunya
Dan aku tak ingin kalah
GURU
Oleh Zaneta.N.A.J

Guru...
enkau membimbing ku setiap hari
setiap waktu dan setiap saat
hatimu sunguh mulia
enkau adalah orang tua ku yang ke2 dalam hidup ku

Setiap hari
kau curahkan ilmu
untuk bekalku nanti
enkau adalah patriot pahlawan bangsa

Terima kasih guruku
karna enkau lah aku menjadi pintar
enkau ku sebut
pahlawan tanpa tanda jasa


Untuk Guru Cerme1 dan Cerme2 Kediri

GURUKU PAHLAWANKU
Oleh Upee

Andai kata matahari tiada
Dunia akan beku dan bisu
pelangi tiada akan pernah terpancar
kehidupan tiada akan pernah terlaksana
Disaat titik kegalauan menghampiri
Terlihat setitik cahaya yang kami cari
Yang nampak dari sudut-sudut bibirmu
Dan gerak-gerik tubuhmu
Engkau sinari jalan-jalan kami yang buntu
Yang hampir menjerumuskan masa sepan kami
Engkau terangi kami dengan lentera ilmu mu
Yang tiada akan pernah sirna di terpa angin usia

Guru........
Engkau pahlawan yang tak pernah mengharapkan balasan
Disaat kami tak mendengarkan mu
Engkau tak pernah mengeluh dan menyerah
Untuk mendidik kami
Darimu kami mengenal banyak hal
Tentang mana warna yang indah
Tentang garis yang harus di lukis
Juga tentang kata yang harus dibaca
Engkau membuat hidup kami berarti

Guru......
Tiada kata yang pantas kami ucapkan
Selain terimakasih atas semua jasa-jasa mu
Maafkan kami bila telah membuatmu kecewa
Jasa-jasa mu akan kami semat abadi sepanjang hidup kami
Terimakasih guruku, engkau pahlawan ku
TERIMAKASIH GURUKU
Oleh Anggita Nurul Taeyeon

Guru… …
Kaulah pembimbingku……
Kaulah pengajarku……
Kaulah pendidikku……

Guru……
Itulah julukanmu……
Yang tak pernah bosan dalam……
Mengajar dan membimbingku……

Guru......
Kau bagaikan cahaya……
Yg menerangi jiwa dari segala gelap dunia……
Kau adalah setetes embun yg mnyejukan hati……

Guru.....
Kau adalah pahlawan yg tidak mengharapkan balasan……
Dari segala yg kau lakukan……
Kau lakukan dengan rasa ikhlas ……

Guru……
Tanpamu aku akan hancur……
Tanpamu aku akan sengsara……
Tanpamu aku akan sesat……

Guru……
Tanpamu aku tidak bisa menulis……
Tampamu aku tidak bisa membaca……
Tampamu aku tidak bisa berhitung……

Guru……
Terima kasih ku ucapkan kepadamu……
Atas segala jasa-jasa yang kau berikan……
Selama aku belajar di sekolah ini……

Kumpulan Puisi Alam



   ANGIN LAUT
karya Kuntowijoyo

Perahu yang membawamu
telah kembali
entah ke mana
angin laut mendorongnya ke ujung dunia
Engkau tidak mengerti juga
Duduklah
Ombak yang selalu
pulang dan pergi.
Seperti engkau
mereka berdiri di pantai
menantikan
barangkali
seseorang akan datang dan menebak teka-teki itu.

KEINDAHAN ALAM
Puisi Alam Cahyaning P.
Bak gelombang jiwa di udara
Laksana sinar di pagi hari
Bagaikan rembulan mengarunggi samudra
Seperti peri kehilangan cahaya matahari

Meskipun langit menyinari bumi
Mirip bola di senja kelap

Umpama terbang setinggi awan
Bagaikan bintang menghiasi malam
Sinar mentari bagaikan surya.

INDAHNYA ALAM NEGERI INI
Puisi Ronny Maharianto

Kicauan burung terdengar merdu
Menandakan adanya hari baru
Indahnya alam ini membuatku terpaku
Seperti dunia hanya untuk diriku

Kupejamkan mataku sejenak
Kurentangkan tanganku sejenak
Sejuk , tenang , senang kurasakan
Membuatku seperti melayang kegirangan

Wahai pencipta alam
Kekagumanku sulit untuk kupendam
Dari siang hingga malam
Pesonanya tak pernah padam

Desiran angin yang berirama di pegunungan
Tumbuhan yang menari-nari di pegunungan
Begitu indah rasanya
Bak indahnya taman di surga

Keindahan alam terasa sempurna
Membuat semua orang terpana
Membuat semua orang terkesima
Tetapi, kita harus menjaganya
Agar keindahannya takkan pernah sirna

TANAH AIRKU
Puisi Haris Rahmat Nugraha

Angin berdesir dipantai
Burung berkicau dengan merdu
Embun pagi membasahi rumput-rumput
Itulah tanah airku
Sawahnya menghijau
Gunungnya tinggi menjulang
Rakyat aman dan makmur

Indonesiaku
Tanah tumpah darahku
Jaga dan rawatlah selalu
Disanalah aku dilahirkan dan dibesarkan
Disanalah aku menutup mata
Oh..... tanah airku tercinta
Indonesia jaya.....

Alam dilembah semesta
Puisi Ardian.H

Angin dingin kelam berderik
Kabut putih menghapus mentari
Tegak cahyanya menusuk citra

Pahatan Gunung memecah langit
Berselimut awan beralas zamrud
Tinggi . . . Tajam . . .

Sejak waktu tidak beranjak
Di sanalah sanubari berdetak
Sunyi sepi tak beriak

Cermin ilusi di atas danau
Menikung pohon yang melambai warna
Di celah kaki-kaki menjejak karya-karyaNYA

Di manakah aku berada?
Di mana jiwa tak mengingat rumah
Di saat hidup serasa sempurna

Sungguh jelita permadani ini
Terbarkan pesona di atas cakrawala
Tak berujung di pandang lamanya

Serasa bertualang di negeri tak bertuan ALAM

Puisi Alam
Lihatlah hutan kita ini
Sedikit habis oleh orang-orang
Yang tidak memikirkan masa depan
Dia mementingkan pribadi tanpa peduli
Lewat puisi alam imi aku bertanya
Lewat curahan kata aku bicara

Indahnya tanahku di atas negeri
Ribuan pulau menyapa senyum bijaksana
Indonesia tercinta tetumbuhan menghijau
Aku lahir di sini

Di tempat surgawi
Tanahku subur penjajah suka buahku
Mereka berkelana dari kejauhan
Mereka datang berbondong

Akhirnya mereka pergi dengan semangat alam
Penjajah pergi, penjajah lenyap
Sekarang diri menjarah diri
Hutan kita habis berkeping

Sisa akar-akar yang suram
Satukan jemari, beri yang lain pencerahan
Cukup tanam satu tunas sehati
Atau lindungi yang sudah merambah

Tanpa kau ketahui kau melestarikan
Janin di masa mendatang
Sengaja gambar ini terpampang
Sengaja gambar ini tersimpan
Agar kita mengerti takkan ada lagi yang asri
Kalau kita tak peduli

puisi alam by: Revo

Derai Cemara Udang
Angin pantai disela gerimis
Mendera pelan, sejenak
Berteduh di bawah
Pohon-pohon cemara udang

Kemudian lenyap ke arah
Gubuk-gubuk bambu yang reot
Tanpa atap di tepian jalanan pantai

Senja ini..
Tiada yang romantis atau membiuskan angan
Ke dalam khayal yang beku
Dan ratusan hari terkubur diam

Pantai ini telah sepi..
Hanya derai cemara udang..
Hanya rintik gerimis yang tidak kunjung reda
Tidak juga menjadi hujan deras

Ada yang berubah
Pantai ini merubah dirinya menjadi teduh, hijau
Dan di beberapa sudut tumbuh padang rumput
Ada cemara udang, perahu nelayan
Yang sepuluh tahun yang lalu belum kulihat
Ini adalah pantai kenangan

puisi alam by: Katjha

PEMANDANGAN DI QUE-LIN
puisi alam by Husseyn Umar

gunung-gunung dan bukit-bukit hitam
tinggi dan tajam
menjulang menusuk-nusuk awan

air sungai Li berkelok-kelok
bermain-main di celah kaki-kakinya

bilakah sebenarnya
dewa-dewa telah turun dari langit
sempat-sempatnya membuat
pahatan alam yang begini cantik!

Nah, demikian kumpulan puisi alam yang bisa di berikan kali ini, semoga menginspirasi pembaca..

Puisiku

SEMANGAT PAGI DUNIA

Riuh rimbun padang rumput
Ranah hijau membentang
Terbasuh embun
Sejuk

Pagi
Membuka cakrawala
Mentari menyapa bumi
Seberkas sinar seruan alam

Melawan terik keangkuhan matahari
Mengejar impian waktu
Khalayak bertaruh
Ramai

Mimpi
Nyata tertunda
Tangan menggenggam ikhtiar
Taklukkan dunia gapai megahnya

Secercah harapan awali nurani
Bergelut deru peluh
Memacu diri
Semangat

Yakin
Gelora membara
Meniti haluan hari
Masa cerah menanti pasti

Puisi by : Kemilau Mata Bening
SAA Makasar, 23 Maret 2016
‬Jenis Puisi : Patidusa

PERJUANGAN DAN DOA

Panas
Surya membakar
Keringat mengalir deras
Demi rizki yang barokah

Berjuang dengan sepenuh hati
Tanpa rasa lelah
Untuk keluarga
Tercinta

Harapan
Doa menyertai
Di setiap langkah
Menuju ridho sang Ilahi

Tetap tersenyum dan bersyukur
Atas pemberian Ilahi
Sebuah nikmat
Rizki

Puisi by : Syahroni Djadul
Wonosobo,23 Maret 2016
Jenis Puisi : PATIDUSA_BIAS

MALAM SERIBU DOA  

Tuhan 
Dzat pemurah 
Penyejuk jiwa insan 
Ampunilah nada napas hidupku 

Segala tempat syukur rahmatMu 
Pembimbing doa hati 
Seribu malam 
Sujudku 

Bersimpuh 
Asingkan diri 
Dalam sudut sunyi 
Di antara renungan rindu 

Sesalku pun berembun dosa 
Mengusik memburu nadi 
Cahaya cinta 
RahasiaMu 

Puisi by : Galang Saputra
Semarang, 23.03.2016
Jenis Puisi : Patidusa
SANG PENCERAH

Sebuah nama pendamai jiwa
Tenangkan riuh angkara
Wujudmu nyata
Pencerah

Barokah
Setiap langkah
Memberi petunjuk arah
Engkau Sang Maha Pemurah

Dalam sepi duduk bersimpuh
Membuang rasa angkuh
Amarah luruh
Peneduh

Pencipta
Tuhan semesta
KasihMu sungguh nyata
Memeluk seluruh alam raya

Puisi by : Nana Irnadya
Serangoon, 23 Maret 2016
Jenis Puisi : Patidusa_asli

TERIMA KASIH
Ucap kata penuh syukur
Saat rahmat didapat
Buah jujur
Nikmat

Berkah
Meluap ruah
Tak terhingga hitungan
Jangan siasiakan anugerah Tuhan

Pujian bagi Allah, Alkhamdulillah
Sebab kebaikan tercurah
Wujudkan nikmat
Sholat

Puisi by : Ayue Hastari
Carangan, 23.03.2016
Jenis Puisi : Patidusa

‪HINDARI TEGURAN ILAHI

tebersihan hati dalam hidup
harus lebih utama
agar hidup 
terjaga

teguran
sang pencipa
mengingatkan setiap mausia
dengan terjadinya bencana alam

sadarlah wahai insan dunia
kembalilah pada ilahi
supaya hidup
bahagia

jangan
tunggu musibah
datang lebih dahsyat
karena kelalaian hidup manusia

luruskanlah perjalanan hidup ini
sesuai kehendak pencipta
hingga tercapai
ridhanya

Puisi by : eyang jayakusuma
Bandung, 23 Maret 2016
Jenis puisi : Patidusa
GELUDUK GEMURUH

Dari kejauhan sana, terlihat
Lecutan-lecutan bunga kilat
Bercampur gemerusuk
Geluduk

Gemuruh
Memekik gaduh
Susul-menyusul, ricuh
Menemani tirta nan luruh

Aku terbawa takut, berkeluh
Menyungga langkah keruh
Menyisih guruh
Gemuruh

Geluduk
Bercampur-aduk
Dingin angin mendekat
Bernaung aku tak sempat

Puisi by : Urip Widodo
Sedati, 22.03.2016
11.52 P.M.
‎Jenis Puisi : PATIDUSA_ASLI

DOSA

Angin 
Bawalah aku
Jenuhku akan duniaku
Serasa mati dalam kehidupan

Air
Hanyutkan aku
Agar diriku damai
Tak mengenal masa lalu

Tanah
Kuburlah aku
Agar aku dapati
Singgasana kehidupan yang baru

Tuhan 
Maafkan aku
Aku yang berdosa
Mengharap akan cahaya ampunan

Puisi by : Djadul
Wonosobo,22 Maret 2016
Jenis Puisi : Patidusa

MALAIKATKU DALAM PUSARA

Engkau istana atma yang hampa
Melebur tawa berbagai cerita
Penjaga tubuh yang tak berdaya
Menghapus tetesan air mata

Sepintas bayang memunajat selang 
Pada kasih yang terkenang 
Ajarkan arti akan cinta 
Menyentuh selembut kapaskapas sutera

Pada keabadian aku menyapa
Rasa menyulam benangbenang rindu 
Datangi sewujud haturkan darma
Merapal ayatayat senandung doaku

Pada tanah pusara kuluapkan segala
Di antara nisan kutumpahkan doa
Tangis memecah seakan hilang sebahu dada
Rindu menetes sesaknya netra tirta

Puisi by : Nur YanMalpalikers
Pati, 22 Maret 2016


BONGKAHAN NAFSU

Pekat pandang tak terkira
Melekat dalam asa
Membuncah dalam telaga
Biusan mantra telah terbaca

Tak kuasa akan tebaran pesona
Membuatku semakin terpana
Pada harap gejolak rasa
Telah lama buatku tersiksa

Miris sekali, mantramu luluh
Jiwa meronta penuh keluh
Aku takut pandangan terperangah
Gejolak nafsu kian membuncah

Bayangmu bergelayut kian menggila
Terjebak akan hasrat asmara
Bergulir dalam lorong jelaga
Terkesima akan indahnya perihal cinta

Puisi by : Kolab Faqih feat Arista
 
Blogger Templates