Social Icons

Pages

Tampilkan postingan dengan label kisahislami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisahislami. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Februari 2017

Nabi Pun Tersenyum - Cerpen Islami



NABI PUN TERSENYUM
Karya Akhmad Gufrn Wahid

Seumpama segerombolan semut, motor-motor itu berderet sangat rapi menjulur kebelakang hingga hampir menyentuh gapura lima undak di selatan sana. Seperti dengusan lebah, manusia-manusia itu berdialog kesana-kemari tak tentu arah, dari dekat terdengar mendengus, dari jauh pun terdengar sama. Serupa TPU Keramat Jati pada malam Juma’t Kliwon, itulah isi kantong celanaku saat ini: Sepi, Kosong dan Angker.

Dari matahari belum menjamah tanah tadi hingga saat ini ketika panasnya menguapkan keringat, ketika sinarnya membiaskan bayangan tubuhku berada tepat di injakan kaki, ketika Adzan Dzuhur menggema dengan gagahnya, aku, belum selembarpun menggenggam rupiah.
Zaman ini, rupanya para lelaki telah berada di area mayoritas yang enggan memakai batu akik. Hanya dapat dihitung dengan satu tangan saja. Sisanya, aku haqqul yaqin, pasti anti pakai. Padahal, hukum memakai batu mulia ini hampir sama dengan hukum memelihara jenggot. Itu salah satu sunnah Rosul Muhammad S.A.W.

Hanya Pak Sudarmo—penjual tembakau—saja di sampingku yang rela melihat-lihat—sambil memegang—aneka batu akik yang kubeberkan didepanku. Itupun hanya bertanya-tanya saja, tak lebih.
“Ini, kau jual berapa ?” Tanyanya sambil meniup-niup ujung batu akik yang ada di jari telunjuknya.
“Itu asli dari Mesir, kang. Harganya Sepuluh ribu rupiah. Untuk kakang, kujual delapan ribu saja lah.” Mantabku.

Ia mengembalikan batu akik Mirah delima itu tanpa basa-basi. Ia ambil lagi yang lain. Lebih mewah. Batu Akik Kalimaya. Warna biru laut.
“Nah, ini pasti dari India, ya ‘kan ? kau jual berapa ini ?”
“Itu dari Bangladesh, kang. Ha, khusus untuk kakang, kujual lima belas ribu. Hitung-hitung penglaris, Kang. Sudah setengah hari penuh aku tak terima uang, Kang. Apalah yang bisa aku katakan nanti kepada istriku dirumah dengan tangan hampa ? dia pasti kecewa, aku yakin dia pasti kecewa, kang” Jelasku panjang lebar.
“Hahaha, ....”

Kenapa ia tertawa ? ada yang lucukah ?
“Heh, Lid. Nasibmu itu sama denganku sekarang. Lah, dengan apa aku beli batu akikmu ini ? akupun belum terima uang juga hari ini. Mungkin orang-orang sudah tak mau lagi merokok. Hahaha.” Ia terkekeh. Aku kesal. Sangat kesal.

Sorepun menjelang, kantong celanaku tetap tak ubahnya TPU Keramat Jati Malam 1 Suro Jumat Kliwon. Terbersit sebuah kalimat yang mengantarku pulang: Apa yang harus aku katakan pada istriku ? dan, akan makan apa besok dia dan anak semata wayangku ?
Rusmi—istriku—telah dari ba’da Ashar tadi menunggu kehadiranku di teras depan rumah. Luar biasa perempuan itu, dia harta berharga paling berharga yang kumiliki. Ia tersenyum ketika aku menyembul di pekarangan rumah. Ya Allah, sebentar lagi senyum itu akan cepat-cepat berubah menjadi mimik muka yang tak pernah kusuka darinya: Sedih. Aku tak tega melihatnya.
Ia mencium tanganku. Aku masih belum bisa menguasai diri. “Nasinya sudah kusiapkan di meja dapur. Aku dan Ndok sudah makan tadi. Itu sisanya. Nanti malam sudah ndak ada lagi, Bang.” Suaranya lembut, tapi semakin meretakkan jiwaku. Aku semakin memejamkan mata dalam-dalam. Kuhembuskan napas perlahan-lahan melalui hidungku.

Ndok Maisyaroh telah terlelap ketika Rusmi duduk disampingku. Telah menjadi kebiasaan sehabis Maghrib bagi kami berdua. Tapi malam ini berbeda. Aku semakin melemah. Tulang-tulangku serasa jatuh dan berserakan dilantai.
“Alhamdulillah, bang.” Ucapnya.
“Kenapa, dik ?.” Suaraku bergetar. Seperti berada di kutub utara.
“Tadi siang bu Sunni bayar hutang jahitan minggu lalu. Lumayan untuk belanja besok.”

Masya Allah, apa aku tak salah dengar ?
“Dua puluh dua ribu delapan ratus ....” sambungnya.
“Alhamdulillah, dik. Aku minta Maaf, tadi pembeli ndak ada sama sekali. Kantongku kosong. Untuk sementara aku tak membelanjakanmu besok.” Aku gemetar.
“Sudah, ndak apa-apa, Allah masih nunda ngasih rejekinya paling. bang”

Dengarlah suara itu. Tiba-tiba segumpal hujan turun membasahi getar-getir gelisahku. Pelangi nan anggun melingkari rongga-rongga hati dan jantungku. Semilir angin menghembuskan iramanya yang mengalun rendah. Suara itu, suara emas itu akan ku panggil kelak di padang mahsyar. Aku akan memanggilnya. Sungguh, aku akan memanggil nama perempuan disampingku ini.
“Harga beras naik, jadi besok hanya beli 2 kilo saja, bang. Sisanya tempe dan cabe.”
“Apa ndak sebaiknya beli telur ayam saja, dik. Bolehlah sekali-kali kita makan telur.”
“Kasihan Ndok Syaroh, bang. Sisa beli tempe dan cabe rencanaku ku belikan mainan boneka yang harganya empat ribu lima ratus itu, bang. Ndok ndak punya mainan sama sekali.”
“Apa ndak sebaiknya ndok dibelikan makanan ringan saja, dik!”
“Bolehlah sekali-kali kita belikan mainan itu, bang. Sekali saja.”

Ia melihatku tengah bermuka cemberut. Dua kali saranku tak ia hiraukan. Lalu ia menatapku dan tersenyum. Apapun sedihku, jika telah melihatnya tersenyum, semua akan reda. Reda tanpa alasan yang ku tak tahu sebabnya.
“Apa ndak sebaiknya kita sholat Isya’ dulu, bang!!.” Aku gemetar lagi. Jika seseorang dari negara antah berantah nun jauh disana bertanya Siapa lelaki yang paling beruntung didunia ini ? akan ku jawab pertanyaan itu dengan lembut dan pasti: Aku.

Malam berikutnya berbeda. TPU Keramat Jati itu telah tak kosong lagi. Meski hanya Sepuluh Ribu Rupiah. Tapi cukuplah untuk mendamaikan hati istriku.
“Ba’da Isya’ nanti ada undangan ke rumahnya abah Zamin. Bang. Muludtan.”

Subhanallah!!. Aku terperanjat. Ada apa denganku ? apa yang telah kuperbuat sehingga dengan teganya hampir melupakan bahwa malam ini 12 Robiul Awal ? Subhanallah!!. Kejamnya kehidupan dunia telah merebutku dari tak mengingat Lelaki Luar Biasa itu. Aku merasa telah melakukan dosa besar. Melebihi dosa berzina dengan iblis.
“Dik, apa tahun ini kau ingin bermulud ?”
“Bermulud hukumnya sunnah, bang. Orang tak punya seperti kita tak wajib hukumnya. Nabi tak akan marah meski kita tak bermulud. Yang paling penting rasa cinta kita pada beliau tak berkurang secuilpun, bang.”

Benar juga apa yang telah dikatakan istriku. Tapi, apa hanya sebatas ini saja pembuktian cintaku pada Nabi ? sebandingkah dengan cinta beliau yang dalam sakaratul mautnya saja masih mengingat aku dan saudara-saudaraku didunia ini ?. aku kalut dalam dilema. Tapi keyakinan itu meletup-letup. Aku memandangi istriku.
“Tahun ini kita bermulud, dik. Serahkan semuanya pada Allah. Aku yakin. Dan kau harus yakin!.” Rusmi tersenyum. Ia menyentuh dada kiriku. Aku mencium keningnya.
Bungkusan bermacam-macam makanan kutenteng pulang. Ndok Syaroh senangnya bukan kepalang. Ia tertawa riang. Aku senang melihatnya. Telah lama aku tak menjumpainya tertawa seperti itu. Semoga ia masih betah bersama kedua orang tuanya yang mati-matian berjalan di kerasnya batu-batu tajam kehidupan ini.
Seperti Inilah berkah yang orang muslim rasakan ketika bulan Maulud tiba. Yang miskin menjadi kaya, dan yang kaya menjadi semakin sejahtera. Pasti, aku yakin seyakin-yakinnya, di surga sana Nabi Muhammad S.A.W tersenyum ketika melihat umatnya didunia—seperti saat ini—bersedia berbagi dengan sesama atas kecintaan dan rindunya kepada Beliau.
Allohumma Sholli Ala Muhammad !!

Seminggu sudah muludtan digelar disana sini. Uangku sejauh ini masih belum mencukupi untuk bermulud. Aku kehabisan akal. Tapi, Rusmi istriku tersayang rupanya belum habis akalnya.
“Sudahlah, bang. Cukuplah kita beli minyak goreng dan cabe saja. Sisa ikan ayam kemarin masih banyak didapur, kita masih bisa menggorengnya. Nasi, Ayam Goreng dan Sambal sudah lebih dari cukup untuk mengundang Baginda Nabi kerumah kita ini.”
Aku tersenyum. “Tak salah Allah menganugerahkan engkau, duhai istriku yang genius dan cantik.” Ia tersenyum padaku. Dengan hatinya yang berbunga-bunga.

Kamipun menggelar Muludtan untuk pertama kalinya setelah 8 tahun kami menikah. Syair-syair Mahallul Qiyam Syariful Anam dilantunkan dengan penuh getir rindu bertemu junjungan Baginda Nabi. Hati ini pecah seketika ketika air mata mengalir dalam pelukan-pelukan lembut kasih sayangnya. Tubuh gagah ini bagai kurus tak bertulang kala batin terenyuh mengikuti rima-rima sedu sedan nan damai. Daun-daun gugur satu persatu oleh hembusan badai yang mengantarnya ke ruang bercahaya penuh rahmat dalam jiwa ini. Pohon-pohon bersholawat, tak ada hal yang merintangnya untuk tak mengagung-agungkan kekasih Allah itu. Bulanpun tak enggan bertasbih memuja memuji santun pinutun akhlaq budi pekertinya yang mempesona. Lelaki itu telah membawa segalanya dimuka bumi ini. Benar-benar Segalanya.
Aku menangis sesenggukan. Istrikupun jua.

Pagi harinya, kami berdua memilih berpuasa. Ada hal yang begitu indah diuraikan mengapa kami berpuasa. Selepas Sholat Dhuha aku memeluk istriku lembut. Ia menangis haru dalam dekapanku. Aku membisiki telinga kirinya dengan lembut dan penuh kasih cinta.
“Tunggu aku pulang, dik. Aku akan cari pengganjal perut kita waktu Buka Puasa nanti. Kau harus yakin, Rusmi. Kau harus tunggu aku, istriku.”


Ya Nur Aini, Ya Jaddal Husaini. Terimalah persembahan keluarga kami. Semoga Engkau masih bersedia dan tak bosan menganggap kami sebagai umatmu, Walaupun kami telah terlumur dosa yang sebegitu beratnya. Ya Rosululloh. Jika Engkau berkenan. Panggil nama kami berdua nanti di Singgasanamu yang Agung.

( Di Kediamanku, 12 Robiul Awal 1433 H )

Khalifah Sejati Dari Arsy - Cerpen Islam





KHALIFAH SEJATI DARI ARSY 
Karya Kiki Ayu Humairah

Keberangkatanku ke negeri seberang bukan untuk menjauh dari ibu dan paman yang selalu ingin menikahkanku dengan saudagar kaya di daerahku, bukan juga melarikan diri atas segala beban keluarga yang disandarkan padaku, aku hanya ingin seperti anak seusiaku yang tidak terusik ketika mereka asik mencari ilmu, bermain kesanaa-kemari sesuka hatinya, namun aku seperti jaminan yang disodorkan paman untuk melunasi hutang-hutangnya. 

Sedangkan ibu tidak bisa membelaku sama sekali, mana mungkin aku yang masih begitu belia harus menikah dengan orang yang lebih pantas ku panggil ayah, yah . . .saudagar itu. Namun kini aku meyakinkan diriku berkat beasiswa kuliah di Malaysia membuatku sedikit terbebas dari ular-ular yang akan menerkaku terutama saudagar kaya yang sombong itu, pak lukman. Tapi aku tetap mengkhawatirkan ibuku, bagaimanapun juga ibu adalah orang yang sudah membesarkanku sendiri tanpa ayah yang aku sendiri tidak tau siapa ayahku. Banyak yang mengatakan aku ini anak haram tidak jelas asalnya, jika ku tanyakan ibu, maka ibu hanya menjawab enteng bahwa ayahku sudah mati namun sampai usiaku 18 tahun aku belum pernah lihat fotonya, dalam akte kelahiranku saja memakai nama pamanku yang turut andil dalam membesarkanku meski demikian paman lebih sering membebani ibu itu yang aku rasakan.

Pagi itu begitu cerah, awan begitu bersahabat denganku namun kondisi ini sama sekali tidak bisa sepenuhnya mebuatku senang, ibu sama sekali tidak bahagia apalagi bangga dengan prestasi dan beasiswa yang ku dapatkan, dan paman begitu tau aku akan pergi sekolah ke malaysia malah memakiku dengan bahasa kasar dan menyakitkan, yang katanya aku tidak tau malu, tidak punya rasa terimakasih, tidak kasihan pada ibu, aku hanya anggap kata-kata paman sebagai angin yang sesaat kemudian aku kosentrasi dengan studyku, agar aku bisa membahagiakan ibu. Kini pesawat sudah meluncur jauh dari bumiku, bumi tempatku bernaung, jangankan diantar ke Bandara, keluar rumah saja ibu tidak memandangku sama sekali, hanya sekali bercap hati-hati itu saja dengan sangat terpaksa, ibuku memang orang yang keras kepala dan mudah sekali marah, namun aku tau ibuku adalah orang baik yang begitu mencintaiku meski tidak pernah ditunjukkan, itulah ibuku. Meski demikian aku sangat mencintainya.

Setelah sampai di Malaysia, aku begitu bersemangat dengan dunia baruku, belajar, bersama orang-orang asing yang begitu menghargai aku tidak seperti dirumahku yang penuh dengan kata-kata kasar dan menyakitkan, dimalaysia aku tinggal disebuah asrama milik kampus, aku belajar dengan tekun agar bisa membayar hutang-hutang paman ke pak Lukman, dan supaya paman tidak memaksaku untuk menikah dengan pak lukman lagi, keadaan ini semakin membuatku tenang karena ternyata tidak sedikit pelajar indonesia yang dikirim ke malaysia dan mendapat beasiswa, aku memang sengaja menjauhkan diri dari glamornya hidup di kota agar lebih kosentrasi pada study, namun kenyataan berkata lain teman-temaku tidak sedikit yang mempengaruhiku, awalnya mereka menyuruhku melepas jilbab yang sudah jadi kewajibanku, aku menolak untuk menuruti mereka, namun mereka tidak kurang akal mereka mengajakku ke club malam dengan alasan untuk refresing dan aku masih bsa untuk menolaknya, kondisi semakin tidak kondusif namun aku tetap dalam koridorku yang tenang dan pada tujuan awal ingin melepaskan diri dari jeratan hutang dan menikah dengan pak lukman, kini tidak sedikit teman-temanku yang mengajakku untuk maksiat bahkan sampai ada yang membawa lelaki ke kamar asrama, aku begitu heran dengan mereka yang semakin mursal dan mengikuti alur hidup yang baru saja mereka kenal di sini.

Ternyata tidak mudah, namun aku berhasil melewati semuanya, sampai hampir selesai aku kuliah aku tetap masih seperti dulu, yah seperti nawa yang dulu, aku tetap memakai jilbabku, aku tetap sholat lima waktu meski tidak ada adzan disini, aku tetap bertahan dalam koridor wanita muslimah yang dibentuk oleh guruku ngaji di kampung dulu, karena meski ibu yang tidak tau agama dan paman yang jauh dari agama namun ibuku ingin aku mejadi perempuan yang jauh lebih baik darinya, itulah ibu, meski dia seorang yang jauh dari agama namun tidak ingin melihat anaknya sepertinya, ibaratnya meski ibunya pencuri namun ingin anaknya jadi kiai, meski ibunya seorang pemulung namun ingin anaknya jadi pengusaha yang sukses, meski ibunya seorang pencuri namun ingin anaknya menjadi wanita muslimah yang jauh dari kejahatan. Ibu memang tidak sebaik orang tua pada umumnya namun dialah satu-satunya orang tuaku, untuk apa aku berjuan jika bukan untuk ibu, yang entah kemana lelaki yang mengaku ayahku namun rupanya saja aku tidak tau, dan Cuma ibu yang merawat dan membesarkanku.

Sudah hampir tiga tahun aku berada di Malaysia dan tidak pulang sama sekali, hanya kadang aku sempatkan memberi kabar pada ibuku melalui televon tetangga yang rumahnya berdekatan, karena ibu tidak punya televon begitu juga paman, namun sudah sebulan aku tidak memberi kabar lagi karena sibuk dengan tugas akhirku, ketika aku sedang terlelap di asrama, handphone ku berdering kencang, nomor baru yang tidak ku kenal, aku angkat perlawan dengan ku awali salam, seseorang di balik televon itu nerocos tanpa membalas salamku.
“nawa, ini bude ani, pulang ya nduk kasihan ibumu, ada laki-laki yang mengaku ayahmu datang lalu menyakiti ibumu” aku kaget mendengar ucapan orang yang ada dalam televon tersebut yang ternyata adalah tetangga yang sering aku mintai tolong jika ingin televon ibu di kampung.
“bude nawa bingung dengan ucapan bude, kata ibu ayah nawa sudah meniggal, kalau lelaki itu mengaku ayah nawa berarti ibu sudah berbohong, lalu bagaimana dengan paman bude? Apa paman tidak menolong ibu?” aku begitu khawatir mendengar penjelasan dari bude ani yang mengatakan seorang lelaki telah menyakiti ibuku.
“pulanglah nawa, kasihan ibumu tidak ada yang bisa membelanya selain kamu, kamu kan tau pamanmu itu seperti apa, sebenarnya sudah seminggu ini lelaki itu berada dirumahmu dan menyiksa ibumu, namun bude dilarang ibumu untuk memberi tahumu, maafkan bude nawa” ucap bude ani dengan nada terisak

Tiba-tiba ada dendam yang tiba-tiba menelusuk dalam dadaku, betapa bencinya aku dengan laki-laki yang dideskripsikan oleh bude ani tadi, betapa bejadnya dia, sudah meningalkan aku dan ibu kini dia kembali hanya untuk menyiksa ibuku lagi, apa maunya?, jika aku bertemu dengannya akan aku ludahi dia, tidak pantas lelaki seperti itu dipanggil ayah olehku tidak heran jika ibu mengatakan ayah sudah mati, karena dia lebih baik mati daripada hidup dan meroepotkanku dan ibu, aku hanya memberi isyarat pada bude ani kalau aku akan pulang dengan segera, ini karena sudah waktunya aku tau siapa lelaki yang mengaku ayahku itu. Keesokan harinya aku terbang dengan pesawat paling pagi, sudah tidak sabar menghantam orang biadab itu. Ketika sampai, aku langsung beranjak memasuki rumah, aku melihat ibu yang terkapar dilantai dengan bibir sebelah kanan yang sedikit sobek dan berdarah serta hidungnya yang mimisan, aku kemudian merangkulnya, seorang lelaki setengah baya yang tinggi tegap menghampiriku dan ibu, dia tertawa sambil memandangiku dengan wajah bringas seperti singa.
“hei kau, jadi ini anakku?? Cantik benar seperti ibumu waktu masih muda dulu, bahkan kau lebih cantik nak” ucap lelaki itu sambil memegang daguku, dengan spontan ku tangkis tangannya dengan wajah yang penuh amarah.
“biadab, kau apakan ibuku?, kau tidak pantas memanggilku nak, aku bukan anakmu”
“hahahahaha, ternyata kau belum tau? Aku memang bukan ayahmu, siapa ayahmu? Coba tanya ibumu, apa dia tau siapa ayahmu, aku yakin ibumu tidak akan bisa menjawabnya” ucap lelaki itu, namun ibu langsung berontak dari kelemahannya, sikap ibu langsung berubah menjadi bringas mendengar ucapan lelaki itu, aku bingung dengan maksudnya, aku mencoba memikirkan ucapan lelaki itu namun aku tetap tidak paham, hingga ku tanyakan padanya.
“apa maksudmu berkata demikian?” tanyaku pada lelaki itu, namun sebelum lelaki itu menjawab ibu langsung memotongnya, “sudahlah nawa jangan kau dengarkan omongannya, dia hanya ingin menghancurkan kita nak” ucapan ibu semakin menjadi teka-teki untukku, lelaki itu semakin lebar tawanya, dan puas dengan melihat aku dan ibu,“. Tidak lama dari itu, lelaki itu berkata “kau ini apa tidak tau kalau ibumu dulu itu pelacur, dan melahirkan anak sepertimu?, mana mungkin dia tau siapa ayahmu, karena begitu banyaknya lelaki yang bersama ibumu, kau ini anak haram, seharusnya kau bersyukur aku mau mengakuimu sebagai anak.”

Ucapan itu begitu mengiris hatiku, serasa empeduku telah pecah dan begitu pahit mendengarnya meski ucapan bajingan itu belum tentu benarnya namun tangis ibu seakan mengiyakan jawaban itu, dan aku begitu terpuruk, ya tuhan aku anak haram, yang tidak jelas ayahnya, sedangkan apa pantas aku menyalahkan ibuku?, siapa yang seharusnya ku benci, ibu atau siapa?, mana mungkin aku mebenci wanita yang sudah membesarkanku, aku hanya terkulai lemas, dan ibu merangkulku, memohon maaf atas kesalahan masa laluya, sedangkan lelaki itu tertawa puas melihat aku dan ibu tersakiti, sebenarnya dendam apa dia padaku dan ibu sampai menghajar ibu dan mengaku sebagai ayahku kemudian menuduhku anak haram, sedangkan tidak ada yang bisa membelaku dan ibu. Dan lelaki itu kemudian pergi keluar dari rumah kami, dengan tawa yang menghiasi bibirnya seperti telah memenangkan undian hadiah. Ibuku tidak hentinya meminta maaf padaku, aku tetap memikirkan, siapa aku ini, apa pantas aku dengan beasiswaku, prestasiku, sedangkan aku tidak memiliki latar belakang yang jelas.

Malamnya ibu mengantarkanku dalam lalapnya tidur dengan kesedihan yang masih berlarut-larut, namun aku tetap tidak bisa menyalahkan ibu, karena ada banyak alasan ibu melakukan hal itu. Setelah ibu keluar dari kamarku, tidak lama paman pulang, entah kemana dia seharian sampai tidak tau yang terjadi padaku dan ibu, kemudian tidak lama, aku tidur seseorang dengan kasar membawaku, aku langsung tergopoh ketika seseorang mengangkatku dengan paksa, dia adalah lelaki yang tadi siang sudah menyakiti ibu dan aku, aku tidak tau mau dibawa kemana, aku memberontak namun tenagaku tidak begitu kuat, sedangkan ibu tisak bisa menahanku karena dikunci dikamarnya, aku teriak meminta tolong pada paman namun ternyata paman telah bersekongkol dengan lelaki itu, pamanlah yang membawa mobil, seangkan lelaki itu memegangiku di belakang. 

Aku tidak tau akan dibawa kemana, yang aku tau sesuatu yang tidak baik sedang menungguku, aku menangis di sepanjang perjalanan, namun tetap tidak mereka hiraukan tangisku. Ternyata aku dibawa kerumah pak lukman saudagar kaya itu, disana wajah buas itu menyambutku, aku semakin menangis, pak lukman sangat senang melihatku, lalu mereka membawa ke kamar yang sudah disiapkan sebelumnya, kamar itu wangi, namun bagiku hanya bau bangkai busuk para lelaki itu, ketika pak lukman akan melucuti bajuku, aku tendang sampai dia lemas, lalu aku melarikan diri namu aku tertangkap oleh paman dan lelaki biadab itu, sampai pada akhirnya aku jadi korban kebringasan pak lukman hanya untuk melunasi hutang paman dan juga kepuasan pak lukman, seakan sudah tidak ada harganya aku ini, sudah tidak jelas asal-usulnya, kini aku hanya akan jadi bulan-bulanan masyarakat karena sudah tidak suci lagi, jilbab yang dulu jadi kehormatanku kini sirna dengan bau busuk tubuhku.

Melihat kondisiku ibu tak hentinya menangis setiap hari, ibu sangat mengkhawatirkan kondisiku yang seperti ini, takut kalau-kalau aku akan depresi dan tidak bisa melanjutkan hidupku, namun semakin aku tersakiti menjadikan mereka semakin senang, aku tidak tau apa maksud mereka apa, pamanlah dalang dari semuanya paman yang menjualku pada pak lukman, paman juga menjadikan aku sebagai wanita panggilan dengan ancaman akan membunuh ibuku jika aku menolaknya, dengan dandanan yang tidak sepantasnya tubuhku dijual oleh paman, dan keuntungannya untuk paman dan lelaki biadab tersebut, kondisiku yang sudah bebeda dari awal, bahkan mereka menghinaku dan ibu bahwa buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya jika ibunya seorang pelacur maka anaknyapun sama, kata-kata itu sangat sakit namun sua tidak bisa ku tolak, aku tidak punya kekuatan untuk menolak dan melarikan diri.

Suatu hari ketika aku akan melakukan pekerjaanku, aku mampir ke sebuah mushola untuk bersuci kemudian sholat, seseorang dari jauh memperhatikanku, pemuda masjid yang sedang mengajar ngaji di mushola tersebut, aku hany diam menundukkan wajahku ada rasa malu dengan penampilanku ini, aku memang sudah lama melepas jilbabku semenjak berganti profesi, mungkin dia aneh melihat pelacur sholat, apalagi dandananku yang terlihat kurang sopan dimatanya, setelah sholat aku buru-buru keluar dari mushola tersebut, ada perasaan malu dan jijik pada diriku sendiri, beberapa lama setelah aku keluar dari mushola tersebut dia menghentikan langkahku, aku tersentak mendengarnya memanggilku, dari mana dia tau namaku sedangkan ini untuk pertama kalinya aku melihat pemuda tersebut, “ nawa ya?”, tanpa memandangnya aku berbalik, seorang pemuda bersih menyapaku tanpa aku tau apa maksudnya, kemudian dia menjelaskan bahwa dia adalah teman nawa waktu mendapat beasiswa keluar negeri dari pemerintah, namun dia dikirim ke Sudan sedangkan nawa ke Malaysia, pemuda tersebut memandangku heran, dan menanyakan kemana jilbab yang selalu menemaniku, kenapa aku sudah tidak mengenakannya lagi dan malah berpakain tidak sopan seperti itu, aku menangis mendengar pertanyaan itu, aku sangat malu, bukan hanya jilbab dan busana muslim saja yang ku lepas namun kehormatan yang susah payah ku jaga selama berada di malaysia kini telah aku jual, aku tidak memiliki semuanya termasuk harta paling berhargaku, sudah dirampas paksa oleh bajingan lukman itu, dan lelaki hidung belang yang membayar pamanku, aku nyaris mengatakan itu semua pada pemuda tersebut karena sudah lama juga aku tidak mengeluarkan isi hatiku hanya kepada tuhan saja, itupun dengan mencuri waktu sholat agar tidak dipukuli pamanku.

Pemuda tersebut lalu seakan tau apa maksudku, dia tidak bertanya lagi namun kemudian dia ulurkan tangannya, “nawa, aku sudah tau apa yang menimpamu dan ibumu, aku sangat prihatin dengan semua itu, berharap aku bisa menolongmu dan ibumu, ijinkan aku menikahimu nawa?”. Aku ternganga mendengar ucapannya, aku kemudian menatapnya tajam, memberi isyarat ketidak setujuanku padanya, aku malu bahkan sangat malu apa pantas pelacur sepertiku menjadi istrinya, aku yakin ini hanya bagian dari keprihatinannya saja padaku, namun sekali lagi dia menegaskan bahwa dia memang sudah tau siapa aku sebenarnya dan juga siapa ibuku, aku pikir mungkin dia akan menyelamatkanku dari lembah setan yang saat ini menjeratku dan ibu namun apa boleh aku melibatkan rang lain dalam masalahku, menikah bukan suatu hal yang mudah untuk dijalani dan juga bukan karena prihatin dan kasiha saja, karena menikah adalah janji kita terhadap tuhan, aku yang sudah jauh dari agamaku mana boleh menikah dengan pemuda baik-baik dan alim sepertiku, sekali lagi aku tegaskan bahwa aku menolaknya. Kemudian aku pergi dari tempat itu tanpa megucap apapun setelah menolaknya.

Malamnya di tempat yang biasa aku mencari hidung belang dia datang kembali padaku, namun kali ini dia tidak menanyakan perihaloertanyaan yang tadi malam yang mengagetkanku dia datang pada paman yang sedang mengawasiku dari jauh bersama lelaki yang dulu pernah mengaku sebagai ayahku dan kini bersekongkol dengan paman, setelah berbincang-bincang agak lama dengan paman, pemuda tersebut mendatangiku dan agaknya paman da lelaki itu tertawa bungah, entah apa yang dia katakan pada pamanku, lalu dia mendatangi aku yang sudah tida sabar ingin menanyakan apa yang terjadi pada pemuda tersebut, setelah pemuda itu datang “ada apa ini?, kenapa pamanku begitu senang, apa yang kau katakan padanya?”,.
“aku melamarmu pada pamanmu, dia menertawakanku, au katakan padanya aku jika lelaki-lelaki hidung belang itu bisa membelimu hanya semalam saja, aku akan membelimu seumur hidup, dengan biaya semaunya.”
“kau gila, aku tidak mau menikah denganmu, sudah jangan libatkan dirimu dengan masalahku, aku akan sangat membencimu” ucapku padanya, meski dalam hati aku begitu kagum denganya yang mau menerima kondisiku yang sudah tidak baik lagi untuk pemuda sepertinya, apalagi untuk dijadikan istri. 

Dia tetap tenang lalu menyodorkan kertas yang didalam surat tersebut berisi tentang perjanjiannya dengan paman bahwa dia akan menkahiku dengan tanpa syarat apapun jika aku tidak meninginkannya, paman langsung setuju tanpa melihat bahwa surat tersebut ditujukan persyaratannya untukku bukan untuknya, lalu peuda tersebut mengulurkan tangannya, “namaku alim, menikahlah denganku, akan ku cintai kau dan ibumu sepenuh hatiku”. Aku terenyuh mendengarnya, kemudian aku menerima lamaran itu dengan berbalut air mata, alim juga akan memasukan paman dan partner paman ke penjara, kemudian dengan acara yang begitu sederhana aku menikah dengan alim di mushola tempat alim mengajar mengaji, ternyata dia adalah seorang dosen disebuah universitas islam di Malang, dan setelah dia memasukkan paman kepejara diamengajakku dan ibu ke Malang, tempatnya bernaung yang sebenarnya, yah...dialah alim suamiku, seoran laki-laki yang mengeluarkan aku dari kotornya dunia malam yang ku jalani selama ini, untuknya “ketika dia memandangku aku merasa cantik, ketikadia tersenyum aku merasa sedang menari dihadapanya, ketika dia marah aku merasa sedang memegang tangannya dan memeluknya erat-erat, dan ketika dia mencintaiku mataku seakan dipenuhi air mata. Dia membuatku sadar aku dibuat oleh tuhan untuknya dan dia untuku, sang khalifah sejati dari arsy hadiah dari tuhan atas segala perjuanganku selama ini”

TAMAT


 
Blogger Templates