Social Icons

Pages

Tampilkan postingan dengan label kisah cinta remaja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah cinta remaja. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Februari 2017

Cinta Sejati Yang Berujung Maut

Cinta Sejati Yang Berujung Maut>>>> DhaNi ♥




Kisah ini aq alami sekitar th 2004 lalu, saat aq berkenalan dg seorang gadis bernama Vina, dan inilah kisah cintaku yang paling tragis yang tidak bisa kulupakan seumur hidup.

Aq melirik jam tanganku, ternyata sudah jam 7 pagi saat aq mulai memasuki gerbang sekolahku. Dengan tergesa-gesa aq pun berjalan menuju kelasku karna bel sekolah sudah berbunyi. Saat aq berjalan, secara tidak sengaja aq menabrak seorang gadis yg kebetulan jg datang terlambat..

"Maaf-maaf, aq gk sengaja.." kataku sambil membantu memunguti bukunya yg jatuh karna aq tabrak.

"Oh, tidak apa2 kok. Lain kali hati2 ya.." kata gadis itu dg ramah.

"Iya maaf.. Km anak kelas mana?? Kok bisa terlambat??" tanyaku padanya.

"Aq anak kelas 3 Jurusan Informatika.. Iya nih, aq terlambat gara td angkotnya mogok. Km sndiri nak kelas mana?? Kok terlambat juga??" tanya gadis itu padaku.

"Aq nak kelas 3 Jurusan Konstruksi Bangunan.. Hehe, biasa lah yg namanya cowo'.." kataku padanya.

"Oh, kalo gt kita sebelahan donk kelasnya.." kata gadis itu.

"Iya, mending kita bareng aja yuk jalannya.." kataku padanya.

"Ok deh.." kata gadis itu sambil tersenyum.

Kemudian kami pun berjalan bersama menuju kelas kami masing-masing.

Jam 9, bel istirahat berbunyi. Aq pun langsung menuju kantin, dan aq pun kembali bertemu dg gadis itu yg kebetulan akan ke kantin jg..

"Eh, kita ketemu lagi.. Mau kemana nie??" tanyaku pada gadis itu.

"Iya nih, aq mau ke kantin jg.." jawab gadis itu.

"Oh, sama donk ma aq.. Eh ya, kita lum kenalan, nama kamu siapa??" tanyaku padanya.

"Namaku Vina, nama km??" tanya gadis itu padaku.

"Namaku Ardin.." jawabku.

"Trus alamat rumah km dimana??" tanyaku padanya.

"Rumahku di Jl. Gajah Mada 47.." jawabnya.

"Oh, kalo gt kita sama donk alamatnya, aq di Jl. Gajah Mada no 76.." kataku padanya.

Dan itulah awal perkenalanku dg gadis yg bernama Vina. Kami pun akhirnya berteman dan juga saling bertukar no hp. Tiap hari kami selalu berangkat ke sekolah bersama-sama, sampai2 teman2 sekolah kami mengira kami pacaran karna kami slalu terlihat berjalan bersama..

Tak terasa 5 bulan sudah aq berteman dg Vina, dan karna seringnya aq dan vina berjalan bersama dan salin sms, akhirnya aq pun mulai jatuh cinta padanya tapi aq masih takut untuk mengutarakan perasaan cintaku padanya. Dan pada suatu hari, aq pun berusaha untuk memberanikan diriku untuk menyatakan cinta pada dia. Aq pun berniat untuk menyatakannya saat istirahat sekolah..

"Vina, istirahat nanti aq tunggu km di taman sekolah ya.." kataku padanya.

"Ada apa, kok tiba2 ngajak ke taman sekolah??" tanya vina padaku.

"Ada deh, pokoknya km datang aja kesana.." kataku padaya.

Tepat bel istirahat, aq pun langsung menuju ke taman sekolah dan duduk di kursi taman. 5 menit kemudian, vina datang menemuiku di taman..

"Ada apa sih ardin, kok ngajak kesini??" tanya vina sambil duduk disampingku.

"Ada suatu hal yg pengen aq omongin padamu.." jawabku.

"Apa itu ardin??" tanya vina.

"Tapi km jangan marah ya kalo aq omongin hal itu.." kataku padanya.

"Iya, aq gk akan marah kok.." jawabnya.

"Aku...." kataku sambil malu2.

"Aku apa???" tanya vina.

"Aku...jatuh cinta padamu...mau gk km jd pacarku??" jawabku.

Sejenak vina terdiam setelah mendengar kata-kata dariku..

"Kenapa vina, kok diam?? Km marah ya padaku?? Maaf ya.." tanyaku padanya.

"Enggak, aq gk marah kok.. Cm aq bingung aja mau jawab kata-kata km td.." kata vina.

"Mangnya km mau jawab apa??" tanyaku padanya.

"Emmmm, aq malu untuk jawab ardin.." jawab vina.

"Jawab aja vina, gpp kok.." kataku padanya.

"Sebenarnya aq jg jatuh cinta padamu sejak 1 bulan lalu, pi aq takut km marah bila aq bilang padamu.." jawab vina.

"Owh... Trus gimana, km mau gk jd pacarku??" tanyaku padanya.

"Aku mau jd pacar km ardin.." jawab vina sambil tersenyum.

"Alhamdulillah.. Makasi ya vina.." jawabku sambil senang bgt.

Akhirnya kami pun resmi berpacaran sejak saat itu. Kebersamaan kami jadi semakin dekat dan hari demi hari kami lalui dg bahagia. Bahkan saat menjalani UAN, aq jadi mempunyai semangat karena telah memiliki seorang kekasih, dan vina juga merasakan sama seperti yg aq rasakan. Dan akhirnya kami pun dapat lulus bersama dg hasil yang baik.

Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan kami jalani dg bahagia dan selalu bersabar jika kami menghadapi suatu masalah pada hubungan kami..

Tak terasa sudah hampir 1 tahun aq berpacaran dg vina. Dan pada suatu hari, vina kuajak jalan2 pagi ke taman kota untuk dan setelah itu kami duduk di kursi taman..

"Beibz, aq boleh nanya gk??" tanya vina padaku.

"Boleh donk, mang km mau nanya apa??" jawabku padanya.

"Selama kita pacaran kamu merasa ada yg aneh gk pada diriku??" tanya vina padaku.

"Hmmm, gk ada yang aneh kok, cm aq merasa kalo akhir2 ini kamu sering sekali sakit dan wajah km pucat.." jawabku pada vina.

"Oh, itu mungkin karena aq terlalu kecapean aja.. Ya syukurlah kalo memang km gk merasa ada yang aneh pada diriku.." jawab vina padaku.

"Eh, dah jam 8 nie.. Kita pulang yuk.." ajak vina padaku.

"Iya nih, ayo dah.." jawabku.

Kemudian aq dan vina pun pulang, setelah mengantarkan vina kerumahnya, aq pun langsung berpamitan kepada ortu vina. Di perjalanan pulang kerumah, aq terus memikirkan tentang kata-kata vina di taman tadi, tidak mungkin dia tiba2 nanya seperti itu kalo alasannya cm kecapean aja.

2 hari kemudian, aq mendapat telepon dari ayah vina..

"Halo, ini nak ardin ya??" tanya ayah vina.

"Iya, saya ardin.. Ada apa pak??" jawabku.

"Nak ardin, cepat kesini sekarang ya nak, vina sakit nak.. Dia muntah darah dan mimisan.." kata ayah vina.

"Ha?? Kok bisa gt pak?? Mangnya vina habis ngapain??" tanyaku.

"Bapak gk tau nak, mending km kesini sekarang nak.." jawab ayah vina.

"Iya pak, sekarang saya akan kesana.." jawabku.

Kemudian aq pun langsung pergi kerumah vina, disana aq pun langsung menuju ke kamar vina, terlihat dia pucat sekali..

"Kenapa km beibz?? Kok bisa kyk gini??" tanyaku pada vina.

"Gk tau nie, pagi td kepalaku terasa pusing bgt trus aq muntah darah dan mimisan.." jawab vina.

Kemudian aq pun bertanya pada ayah vina..

"Mangnya dia udah dibawa ke dokter pak??" tanyaku pada ayah vina.

"Sudah nak, tapi kata dokter dia tidak apa2, tidak ada penyakit serius di tubuhnya.." jawab ayah vina.

"Wah, kayaknya nie bukan penyakit biasa pak.. Mending kita bawa aja ke kyai, kebetulan saudaraku punya kenalan seorang kyai.." jawabku pada ayah vina.

"Iya nak, ayo kita bawa vina sekarang.." jawab ayah vina.

Kemudian kami pun lantas membawa vina menuju rumah kyai kenalan saudaraku. Setelah itu vina pun langsung dirukyah, dan saat dirukyah vina langsung berteriak-teriak seperti org kesakitan. Melihat itu aq dan ayah vina hanya bisa bersedih sambil memegangi kaki dan tangan vina agar tidak berontak.

1 jam kemudian, vina pun selesai dirukyah dan ayah vina bertanya pada kyai itu..

"Pak kyai, apa yg terjadi pada anak saya? Kok dia bisa seperti itu td?" tanya ayah vina.

"Begini pak, sepertinya ada orang yang telah mengirim santet kpd anak bapak.." kata kyai itu.

"Trus sekarang gimana pak kyai, apakah anak saya bisa dibawa pulang?" tanya ayah vina.

"Bisa pak, tapi anak bapak harus rajin dibawa kesini untuk terapi rukyah selanjutnya.." jawab kyai itu.

"Iya kyai, kami akan rajin membawa dia kesini.. Terima kasih kyai.." kata ayah vina.

Kemudian kami pun membawa vina pulang kerumahnya.

Setiap seminggu skali vina dibawa kerumah kyai untuk terapi rukyah, tapi masih belum ada sedikitpun, dia masih sering mimisan dan muntah darah terus. Aq dan ortu vina sangat sedih sekali melihat keadaan vina yg seperti itu.

1 bulan sudah vina menjalani terapi rukyah, tapi hasilnya sama saja dan malah semakin parah. Dan tepat pada hari senin malam sekitar jam 10, vina tiba2 kejang2 dan dia kesulitan untuk bernafas. Kemudian kami pun lantas memanggil kyai yg mengobati vina unt datang kerumah vina malam itu juga. 10 menit kemudian kyai itu datang dan langsung berusaha mengobati vina.. 15 menit kemudian kyai itu pun menyuruh aq, ayah vina, ibu, serta keluarga vina lainnya untuk berkumpul di kamar vina..

"Sepertinya nak vina sudah tidak dapat tertolong lagi, dia skarang mengalami sakaratul maut.. Lebih baik kita sekarang bersikap ikhlas dan membantu dia untuk mengucapkan syahadat agar sakaratul mautnya bisa lancar" kata kyai itu.

Seketika itu pun aq, ayah vina, ibu vina dan keluarga yg lain langsung menangis. Dan kemudian ayah vina menuntun vina untuk mengucapkan syahadat, sedangkan aq, kyai, ibu vina, dan keluarga lainnya membaca yasin..

Akhirnya, tepat pukul 1 malam, vina mengembuskan nafas terakhirnya.. Innalillahiwainnalillahirojiun.. Kami pun langsung menangis, terlebih aq yg paling bersedih karna harus merelakan cinta sejati q pergi untuk selamanya.. Hikz..

Keesokan harinya, jenazah vina pun lantas dimandikan, dikafani, dan disholatkan.. Setelah itu jenazah vina pun dimakamkan di pemakaman umum dg diiringi isak tangis dariku, ayah dan ibu vina, teman2nya, dan saudara2nya..

7 hari sudah vina meninggalkanku dan keluarganya untuk selamanya. Dan aq masih tidak bisa percaya cinta sejatiku itu pergi begitu cepat..

Dan tepat pada malam ke 8 sekitar jam 12.00 saat aq sedang mengaji yasin untuk vina, tiba2 aq dikejutkan oleh kedatangan arwah vina yg muncul didepanku..

"Vvvvinnnaaa, kkkammuu kok datang kesini??" tanyaku sambil terbata-bata.

"Beibz, kamu jangan takut ya.. Aq datang bukan untuk mengganggumu, aq cm ingin memberitaumu tentang orang yg telah menyantetku sampai aq meninggal.." kata arwah vina padaku.

"Sssilahkan dah.." kataku pada arwah vina.

"Aku seperti ini karena ulah seorang cowo' yang bernama Hary.. Dia pernah menyatakan cinta padaku tapi aq tolak karna aq tau dia tu anak berandalan dan suka pakai ilmu hitam.. Dan dia sakit hati karna cintanya aq tolak, kemudian dia mengirim santet padaku beibz.. Maafkan aq, karna aq terlambat untuk memberitau km beibz" kata arwah vina.

"Oh, tidak apa2 kok.. Trus apa yang bisa aq lakukan agar km bisa tenang di alam km??" tanyaku padanya.

"Aq ingin km membantu ayahku untuk menangkap dia beibz, agar dia bisa mendapatkan hukuman yg setimpal.." kata arwah vina padaku.

"Iya vina, aq akan melaksanakan amanatmu itu.." kataku padanya.

"Terima kasih sayang, jangan terus2an bersedih ya, aq yakin km akan mendapatkan cinta sejati yang lebih dariku. Jangan khawatir, aq akan selalu hidup didalam hati km beibz.. Sekarang aq akan pergi ke alam q, doain aq ya agar q bisa tenang.. Selamat tinggal cinta sejatiku.." kata arwah vina.

"Iya.. Aq akan selalu berdoa untukmu sayang.. Selamat tinggal.." jawabku sambil bersedih.

Setelah itu, arwah vina pun lenyap di kegelapan malam.. Arwah cinta sejatiku..

Esok paginya, aq pun langsung kerumah vina untuk memberitaukan amanat alm. vina pada ayah dan ibu vina. Setelah itu, aq dan ayah vina pun pergi kerumah kyai yg mengobati alm. vina dg maksud untuk minta bantuan menangkap si Hary..

Sesampai dirumah Hary, aq dibantu ayah vina dan kyai langsung menangkap Hary, dan dia pun tak bisa berkutik karena ilmu hitamnya sudah dimusnahkan oleh kyai atas ijin Allah SWT.. Setelah itu Hary pun langsung diserahkan kpd polisi untuk kemudian mendapatkan hukuman yang setimpal atas perbuatannya..

Alhamdulillah, akhirnya aq pun bisa melaksanakan amanat alm. vina, amanat cinta sejatiku yang akan tetap hidup dihatiku untuk selamanya..




Selesai...

Minggu, 12 Februari 2017

CINTA DI TOKO BUKU




Karya Bunga Alfiena Darissalamah.



“Hah? Pindah rumah? Berarti sekolah baru dong Ma?” tanyaku kepada Mama yg sedang mengemas pakaian. “Iya, kita akan tinggal di Bandung. Dan kamu akan sekolah di sekolah yang baru.” Jawab Mama. “Yah Ma, nanti kalau di sekolah baru aku di bully gimana?” tanyaku kembali. “Ya nggak lah! Kalau kamu baik sama mereka, mereka juga akan melakukan hal yang sama.” Ujar Mama. “Terserah Mama deh” imbas ku.
Setibanya di rumah yang baru. “Ma? Di dekat sini ada toko buku nggak?” tanyaku. “Ada kok, kamu tinggal jalan kaki 100m aja, terus nyebrang.” Jawab Mama. “Kalo gitu, aku mau ke toko buku dulu Ma. Assalammualaikum” kataku. “Waalaikumsalam” jawab balik Mama.
Di toko buku, aku melihat semua buku yang ceritanya sangat menarik. Aku pun mengambil buku itu. Ketika buku itu akan ku bawa ke kasir. Seorang pria menarik buku itu. “Hey, buku itu akan ku beli.” Kata Pria. “Enak aja, yang lihat pertama kali kan aku” jawabku. “aku duluan” jawab Pria “aku! aku! aku!” jawab balikku.

Tak lama, pemilik toko datang dan berkata “Ada apa kalian ini? Jangan buat onar disini!” “Maaf, pak. Laki-laki ini menarik buku yang akan ku beli. Dia bilang aku yang akan membelinya terlebih dahulu. Sementara bukunya kan aku yang pilih duluan” jawabku pada pemilik toko. “Dia bohong Pak, aku yang memilihnya terlebih dahulu. Tapi, aku tadi pergi ke rak buku lain untuk mencari buku yang lain. Jadi buku ini tetap ku letakkan di tempat yang semula. Ketika aku kembali, buku itu telah berada ditangannya.” Jawab Pria. “Sudah, nggak usah ribut. Gimana kalo bukunya kita lelang aja? Tawaran pertama 30.000” kata pemilik toko.
“32.000” Kata pria. “35.000” jawabku. “40.000” jawab pria kembali. Dan seterusnya hingga tawaran mencapai 55.000. Tiba-tiba, dari belakang terdengar suara “75.000 pak” jawab pria lain. “Loh, kamu siapa? Kok ikut-ikutan?” tanyaku. “Ayo? 75.000? ada yang lebih tinggi. Kalo nggak ada, buku ini jadi milik anak laki-laki di belakang itu.” Kata pemilik toko. Aku dan pria disampingku tak berani menawar harga lebih tinggi lagi. Aku pun segera pergi dari toko itu.

Diluar, aku bertemu pria yang berhasil membeli buku itu. “Hey, kenalkan, namaku Ray. Siapa namamu?” kata Ray. “Namaku Thefany.” Jawabku. “Anak baru ya disini? Belum pernah liat sebelumnya.” tanya Ray “Iya” jawabku kembali. “Oh, sekolah dimana?” tanya Ray kembali. “Kata Mamaku sih, besok aku akan mulai sekolah di SMA Tunas Bangsa kelas 10” ujarku. “Haha, aku juga sekolah disitu. Oke, sampai besok ya di sekolah. Aku tunggu kamu di depan pintu gerbang. Ini buku untukmu.” Kata Ray dengan memberikan buku yang gagal ku beli dan segera meninggalkanku. “Untukku?” kataku. Namun Ray tak menjawab pertanyaanku lagi, karena ia sudah jauh. “Terim kasih” teriakku.

Saat aku sampai di sekolah. Ray benar-benar menungguku di depan gerbang sekolah. “Selamat pagi Thefany? Mari akan ku ajak kau berkeliling sekolah ini.” Kata Ray dengan penuh senyum. “Pagi Ray. Terima kasih” jawabku. Aku diajaknya berkeliling sekolah. “Sekolah ini bagus. Dimana perpustakaannya?” tanyaku. “Oh, perpustakaan, itu disana.” Kata Ray dengan jari yang menunjuk ke arah perpustakaan. Setelah selesai melihat perpustakaan. Aku menuju ke kelasku. Dan ternyata aku sekelas dengan Ray.

Bel istirahat berbunyi, aku menuju ke kantin. Dan lagi-lagi diantar Ray. “Ini kantinnya, disini kau bisa memilih banyak makanan” kata Ray. Batinku “Baru kali ini aku bertemu seorang lelaki yang baik”
“Gimana sekolahnya?” tanya Mama sedikit khawatir karena ia mengira bahwa aku tak tahan dengan sekolah

Ada pesan masuk di handphone ku. “Nanti sore, aku tunggu kamu di toko buku biasanya. Jangan sampe nggak dateng ya.” Isi pesan Ray. Sebelum aku pergi ke toko buku. Aku mengerjakan PR yang diberikan oleh Pak Juki. Setelah selesai, barulah aku pergi ke toko buku. Tepatnya pukul 16.30.
Ray telah menungguku di depan toko buku. Dengan menggunakan kemeja rapi. “Bukankah kemarin kita telah pergi ke toko buku ini?” tanyaku pada Ray. “Tidak, aku tidak mengajakmu untuk ke toko buku ini. Tapi aku akan mengajakmu berkeliling menyusuri kota Bandung. Dan mengajakmu ke toko buku yang lebih lengkap dan indah untukmu. Baiklah, ayo naik motorku” jawabnya aku pun di ajaknya berkeling-keliling kota Bandung. Sampai akhirnya, kami tiba disebuah toko buku yang sangat luas. Dan membeli beberapa buku yang kuinginkan.

Karena sudah lelah dan malam, Ray mengantarkanku pulang. “Sampai besok ya Thefany.” Kata Ray. “Iya, terima kasih atas hari ini Ray.” Kataku. “Ya, aku pulang ya. Assalammualaikum” katanya dan meninggalkanku “Waalaikumsalam” jawabku dengan segera masuk menutup pintu pagar. Di dalam, “Dari mana Thefany?” tanya Papa. “Dari toko buku buku yang lebih lengkap dari toko buku yang di sebrang jalan” jawabku. “Pasti sama Ray?” tanya Mama. “Iya, Ma. Kalo bukam Ray, siapa lagi?” jawabku menuju kamar.
“Ray, pulang sekolah nanti, temenin aku ke toko buku yang kemarin yuk? Ada buku yang ingin ku beli” pintaku pada Ray. “Boleh, sekaligus ada yang ingin ku katakan padamu.” Jawab Ray. Setelah jam sekolah selesai, aku dan Ray pergi dengan motor ke toko buku.

Di toko buku. “Ray, kamu mau beli buku apa?” tanyaku. “Nggak, aku nggak mau beli buku. Aku cuma mau temenin kamu doang. Ya udah, kamu pilih-pilih aja dulu bukunya. Aku tunggu di disini ya.” Jawab Ray dan menunggu di sebuah kursi.
Selang beberapa menit. “Ray, ayo pulang. Bukunya udah dapet. Terima kasih ya, udah mau nemenin aku” kataku pada Ray. “Iya, sama-sama. Pulangnya nanti ya, sebentar lagi. Ada yang mau aku omongin sama kamu. Duduk dulu.” Kata Ray. “Oh, ya udah omongin aja.” Kataku dengan senyum. “Sebenernya, aku suka sama kamu.” Kata Ray. Aku terdiam. “Kamu mau nggak jadi pacar aku?” tawar Ray. “Tapi, bukannya kita baru kenal beberapa hari?” tanya balikku. “Bukankah cinta tak mengenal waktu? Tanya Ray kembali. Batinku “Aku nggak tega jika harus menolak Ray, dia terlalu baik padaku. Sepertinya aku juga mencintainya” “Baiklah, aku terima” kataku.

Siang itu, adalah siang yang yang paling indah bagiku. Aku dan Ray pun pulang pukul 15.00. Setibanya dirumahku. “Thefany, makasih kamu sudah mau menerima cintaku. Aku janji, aku akan bahagiakanmu. Aku akan menjagamu. Aku akan selalu mencintaimu” kata Ray. “Ya, aku pun akan melakukan hal yang sama, seperti apa yang kau katakan tadi.” Jawabku. “Aku pulang dulu. Assalamualaikum” kata Ray. “Waalaikumsalam” jawabku.
Berbulan-bulan aku menjalani hidup yang indah bersama Ray. Semua itu terasa sangat indah, dia bener-bener cinta sama aku. Semua ku yang kulakukan selalu bersamanya. Mulai dari berangkat ke sekolah, ke toko buku, semua kami lakukan bersama.

Tak terasa, aku telah lulus SMA, begitu juga Ray. Syukur, hati ini masih mencintai Ray, dan Ray pun sama. 3 tahun kami bersama, menghabiskan waktu berdua. Dan sekarang, kami memilih universitas yang sama, yaitu ITB. Dan memilih jurusan yang sama , yaitu arsitektur.
Setelah beberapa tahun kuliah, kami lulus dengan nilai yang baik. Mama dan Papaku bangga dengan nilaiku. Keluargaku dan keluarga Ray, sepakat untuk mengadakan pernikahanku dan Ray bulan depan. Kami pun menerima kesepakatan itu.

Beberapa bulan setelah menikah, Ray mengalami kecelakaan saat pulang kerja. Kecelakaan itu membuat dirinya harus dirawat di rumah sakit, karena dia mengalami masa kritis. Aku sedih dengan keadaan ini. Aku tak cukup hati untuk menerima cobaan ini.
“Thefany?” panggil Ray dengan keadaan kritis. “Ya!” jawabku. “Mungkin jika aku pergi, tak ada yang bisa mengantarmu ke toko buku lagi. Sebab itu aku merancang sebuah bangunan yang akan ku jadikan sebuah toko buku. Ini hasil rancanganku. ” kata Ray dengan memberikan secarik kertas. Aku terdiam. “Kau harus melanjutkan pembangunan ini! kau harus mengembangkan hobimu membaca dengan membangun sebuah toko buku sendiri! Maaf, jika aku tak bisa menemanimu lagi. Tapi setidaknya kau akan memiliki toko buku sendiri. Kau harus menjalankan niatku ini. Buktikan cintamu padaku!” setelah mengatakan banyak hal tersebut, Ray meninggalkanku untuk selama-lamanya. Aku berjanji, akan menjalankan permintaanmu ini!

5 tahun kemudian, usaha toko bukuku ini sukses. Pengunjung sangat ramai dan puas dengan pelayanan kami. Saat ini aku tengah membangun cabang baru di Palembang, setelah Jakarta, Yogya, dan Makassar. Ray, ini bukti cintaku padamu. Ku harap kau puas dengan kesuksesanku ini. Hingga kau dapat tersenyum lebar disana..

Masa SMA Ku - Masa Remaja Ku




 "Kamu mau gak kalau ntar malem temenin aku?”

“Nemenin kemana sin?”

“Ada deh pokoknya, yang penting kamu mau yah nemenin” melas doi pada gw sambil makin menjerat lengan gw diantara melon-melonnya

“Eh.. ya kita liat ntar malem ya sin, gw soalnya ada kegiatan mendadak nih ntar malem”

“Kegiatan apaan rik?”

“Mau ke panti pijit nih, lengan gw ngilu lu peluk kenceng amit malah kejepit lagi huehehe ”

“Wahaha lu bisa aja rik, yaudah aku masuk ke kelas dulu yah. Inget ntar malem harus nemenin aku”

Setelah pamit, terlepaslah penderitaan lengan gw yang polos tak berdaya yang diperkosa oleh melon-melon si Shinta. Dan terlepas pula penderitaan kolor yang daritadi berperang melawan kuatnya hawa nafsu mesum gw 

Disini gw bingung, semalam si Shinta masih malu-malu ke gw. Nah sekarang, ini cewe kok jadi agresif ya? Apa jangan-jangan doi punya bakat mesum juga? Huehehe  Gw jadi penasaran, Shinta ngajakin gw kemana ntar malem.

==========
==========

Nyampe ke kelas, ternyata pelajaran Olahraga. Sedikit info, kalau di sekolah gw saat pelajaran olahraga itu gurunya cuman dateng ngabsen, trus langsung cabut ke kantor guru lagi. Alhasil bagi murid yang pengen olahraga tinggal kelapangan, bagi murid yang males olahraga tinggal duduk manis di kelas, dan bagi murid yang mesum, tinggal ngeliatin siswi-siswi yang main basket. Kenapa? Kan main basket lari-lari tuh, ya ngeliat pergerakan naik turun dada mereka bisalah dibuat sebagai penghibur hawa nafsu kaum mesum sejati

Dan, sebagai kaum mesum sejati, gw milih buat duduk-duduk di pinggir lapangan basket ngeliatin pemandangan yang adem-adem  tak lupa pula partner mesum senegera dan setanah air yang setia berbagi pengalaman mesum bersama, Tarjok

Dilapangan basket, terlihat beberapa cewe-cewe dari kelas gw sedang asik bermain. Disana ada Putri dan juga Dilla. Sedangkan gw dan tarjok, mulailah menjadi komentator pertandingan tersebut

“Yak bisa kita lihat dilapangan sedang terjadi perebutan bola bung tarjok”

“Yap benar sekali bung erik, terlihat mereka sangat agresif sekali
pergerakan dadanya eh pergerakan bolanya maksud saya bung”

“Dilla membawa bola, menggiringnya terus ke depan.. ohh bola direbut oleh Putri bung.. Dan sekarang Putri membawa bola, dia berlari dengan penuh semangat bung!”

“Bagaimana anda tau dia sedang bersemangat bung erik?”

“Sangat terlihat bung. Pergerakan kaki nya sangat penuh tenaga, ditambah pergerakan kedua dadanya yang seakan-akan ikut menggiring bola bung ”

Lagi asik-asik ketawa bareng si onta, tiba-tiba Shinta dateng kearah gw. Sambil jalan bareng ririn, doi ngomong ke gw..

“Jangan lupa ntar malem ya rik. Pakaiannya yang bagus yah hihi” teriaknya pelan sambil berjalan kearah toilet.

Disini makin bingung lagi gw, apa maksudnya nyuruh gw pake pakaian bagus? Semakin nambah rasa penasaran gw dengan ajakan si Shinta.
Setelah selesai olahraga, gw balik ke kelas. Gak lama, Dilla juga dateng.

“Duh semangat bener mainnya neng, cape yaa” goda gw

“Iya nih, kipasin dong hihi”

Yaudah gw turutin permintaan Dilla. Saat gw mulai ngipasin, doi nutup matanya sambil ngangkat kepala sedikit keatas. Wih, leher putih mulusnya bikin naik nafsu aja njing  Lagi asik menikmati pemandangan, tiba-tiba dilla buka matanya trus ngomong..

“Eh rik tadi waktu olahraga dilla liat kamu ngomong sama Shinta ya?”

“Eh iya.. kenapa dil?”

“Udah lama kenal Shinta?”

“Baru semalam dikenalin sama Ririn. Kenapa dil? Cemburu?”

“Bukan ihh. Dilla udah lama kenal sama shinta sejak smp. Dia itu cewe gak baik rik”

“Maksudnya?”

“Ya setau dilla, shinta itu suka dugem gitu. Malah sering bolos sekolah waktu smp dulu, katanya sih kecapean gara-gara sering pulang malem”

Mendengar perkataan Dilla, gw jadi was-was dengan Shinta. Emang sih gw mesum, tapi buat main-main ke tempat gituan gw asli gak berminat. Bukannya gw munafik tapi emang jujur gak pantes banget remaja seumuran gw main-main ke tempat dugem.

Walaupun sedikit ilfil dengan cerita dari dilla, gw tetap positif thingking dulu dengan ajakan dari Shinta. Mana mungkin doi ngajak gw dugem padahal baru kenal dua hari 

=========
=========

Malam harinya, sesuai janji yang disepakati gw jumpain Shinta di salah satu tempat makan fast food. Setelah makan bareng, doi ngajakin gw buat pergi ke tempat yang dimaksud.

“Emang mau kemana nih sin?”

“Ikut aja hayu buruan”

“Rahasia banget ya?”

“Heeh, gak jauh kok dari sini pokoknya ikut ajah”

Setelah gw iyakan, akhirnya kita berangkat ke tempat yang dimaksud. Setelah setengah jam berlalu, Shinta berhenti di parkiran sebuah gedung yang cukup besar dan dihiasi lampu-lampu berwarna-warni. Awalnya gw gak tau itu tempat apaan, setelah parkir dan berjalan kearah pintu masuk..

Inikan ..!! 
---------------------Bersambung----------------------- 

Cerpen Si nyolot dan Mr. Perfect (1)


by kholifatunannathuengkly


Cinta Si Nyolot Dan Mr. Perfect Part1: Senior High School (repost)

IFY.
Hai Semuanya!! Kenalin nama gue Alyssa Saufika. Manggil gue Ify aja yahh. Biar ga ribet. Okey? Umur gue 15 tahun, hari ini gue masuk SMA Yeyeyey!!! Gue cantik dan manis (PD nih Ify!) Kata orang sih gitu.. hehehe. Kalo kata setan? Gue perfect banget. Hahahaha (Perfect buat jadi setan maksudnya, hehehe). Gue suka banget main piano. Lagi sedih main piano, lagi marah main piano, lagi seneng main piano, lagi kesel main piano. Pokoknya Gue sukaa banget piano! Salah satu sifat gue… Mmm. Kata orang (lagi) ceplas-ceplos. Sebenernya sih ga ceplas-ceplos amat. mereka aja yang lebay! Gue kan cuma ngungkapin apa yang gue pikirin! Lebih parah lagi, gue dikatain nyolot. Padahal perasaan gue nggak nyolot deh…cuma ga mau kalah. Itu aja (Sama aja kali Fy!!) lupain soal “sifat” gue itu. Gue udah janji. Kalo masuk SMA gue bkalan bersikap lebih dewasa (MAsa??). Tapi kayaknya niat baik gue gak direstuin adik gue. Ozy. Dia bilang gue gak akan bisa bersikap dewasa. Emang dasar! Udah sok tau, jail, tukang lawak, ga tau malu.. pokoknya yang Hancur ada di dia deh! (Peace Freenzy! kan cuma cerita hehehehe) Gue sama dia hampir tiap hari berantem. Nyokap gue sampai bosen ngelerai kita. Mama gue manggil kita “IZY” Alias Ify-Ozy. Biar ga ribet. Toh nama kita lumayan mirip. Ok. Lupain adik gue yang sinting, dan ga jelas itu. Pokoknya Gue harus bisa bersikap lebih Dewasa, kan udah SMA. Yeyeyeyey Semangat!!!
* * *
Ify udah siap-siap ke sekolah. Kayaknya udah setengah jam-an dia memperhatikan pantulan wajahnya dicermin. Sesekali dia merapikan seragam barunya Yang sebenernya (menurut penulis) udah sangaaat rapi.
Tiba-tiba terdengar langkah kaki didepankamar Ify, selanjutnya terdengar teriakan.
“Kakaaaaaaaaak, Kakakkkkkkkk Bangung kak!! Ntar telat lohhh!!” Teriak Ozy. Adik Ify, sambi ngedor-ngedor pintu kamar kakaknya. Akhirnya, tanpa permisi, dia masuk kekamar kakaknya.
“Widiiihhhh Tumben udah siap-siap!! Biasanya masih tidur aja kayak kebo!” teriak Ozy takjub (ozy lebaayyy).
Ify gak ngejawab, tapi langsung nimpukin adeknya itu pakai bantal.
“Lo tau sopan santun ga sih? Masuk kekamar orang ga pake permisi, teriak-teriak ga jelas, ngatain orang kebo lagi!” bentak Ify kesal.
“Awww, lo gimana sih Fy? katanya kalo udah SMA, lo mau bersikap ebih dewasa” balas Ozy sambil ngelus-ngelus jidatnya “Mana nimpukin gue pake bantal lagi! untung cuma bantal! Kalo make benda-benda yang keras, trus kepala gue benjol, trus kadar kegantengan gue jadi ilang gimana? mau tanggung jawab lo sama Fans-fans gue??” cerocos Ozy bawel.
‘Duhhhh. Berisik banget tau ga??? Kao udah jelek ya jelek aja. Terima kenyataan! Sok amat sih!” Ify mulai kambuh. Nyolot abis. Tiba-tiba Ozy ketawa, keras banget!
“kenapa lo ketawa?” tanya Ify.
“Hahahaha. Yang kayak gini mau ga nyolot lagi??? Mimpi! baru dipancing gitu aje udah kumat!” ledek Ozy.
“Uhhh OZzyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyy!!” Ify mulai mengejar Ozy. sambil nurunin tanggga mereka kejar-kejaran sambil edek-ledekan.
“Izy!! Makan dulu!” panggil mamanya. Ternyata, tanpa dipanggil, kedua anaknya udah turun dari lantai 2, Ify dengan semangat 45 buat ngulek Ozy, Ozy semangat ’45 buat Ify marah.
“Kalian jangan lari-lari! Ntar jatuh!” peringat mama mereka. Ozy berlari, sembunyi dibelakang ibunya. Tapi sebelumnya, ditarik dulu rambut Ify.
“Heh! rambut gue jangan ditarik!” bentak Ify.
“Kalo udah jelek, jelek ja, terima kenyataan!” jawab Ozy ngutip kata-kata kakaknya.
“Lo tuh yang jelek!” balez Ify kesel.
“Elo!’
“elo!”
“elo!”
“Elo”
“Elo!”
“Elo!”
“Stop!!” kali ini mamanya ikutan teriak (Mama ikutan ya? penulis juga mauu :p)
“Sekarang cepetan kalian makan. Ntar kalian telat!” perintah mamanya. IZy menurut. Tapi Ozy masih tetep jail, dia ngambil Roti dan nempelin roti ke mulut kakaknya (untung, ga naruh selai dulu hehehe)
“Nih, biar nggak bawel agi!” ucap Ozy.
“Ozyyyyyyyyyyyyyyyyy!!!”
* * *
Ok. upain adik Ify yang nyebelin itu, yang hobinya bikin Ify keki setengah mati, dan paling bisa bikin Ify nyolot ga jelas. Tapi, kayaknya tanpa disuruh penulis Ify udah lupa tuh.. hehehehe.
Sekarang dia lagi senyum-senyum ga jelas didepan sekolahnya. Sekolah barunya. Ify mendongak, menatap Spanduk yang ada di atas gerbang sekolah barunya “Welcome to Fariast Senior High School” (Nama sekolah ngarang) Ify tersenyum ngeiat spanduk ntu. ‘SMA choi! udah SMA gue… hehehe ‘ batin Ify girang. Dengan langkah ringan Ify memasuki sekolah barunya. Ify mulai celingukan.
‘Hmmm, pembagian kelas pengumumannya dimana sih?’ batin Ify.
“aa. Pasti di aula!” Ify mulai tebak-tebak berhadiah. Dia kemudian bergegas ke aula, karna ga begitu konsen ma jalannya, Ify nabrak seseorang.
“Brruuukkkk” (bunyi apaan tuh? penulis ga tau -___-) Ify terjatuh. tapi yang ditabrak ga jatuh. Mungkin karna lebih tinggi dari Ify, ato apalah…
“Uhhh” erang Ify sambi mengibaskan tanah yang melekat di sikunya. ada lecet dikit, makanya sakit. Ify mendongak, mau ngeliat siapa yang dia tabrak. Ternyata Cowo! Cowo Cakep! cakep banget malah!. Dia hanya menatap Ify sebentar, kemudian melanjutkan jalannya. Ga meduliin Ify sama sekai! catet! SAMA SEKALI!
Ify cuma bengong-bengong sambil geleng-geleng.
‘Helooo Udah jaman gobalisasi. Cowok cakep tuh harusmnya gentle dong! nolongin gue berdiri kek!’ Batin Ify kesel. Saking keselnya dia upa berdiri. Terus aja lesehan distu..,
“Ngapain lesehan disitu?” tegur seseorang. Ify berbalik. Cowok cakep lagi! Apa sekolah ini sarangnya cowo cakep? Ify ga tau. Yang jeas dia ga ngejawab omongan cowok itu.
“Hei!” Ify kembali ke dunia nya, setelah ditegur cowo cakep ntu lagi.
“Eh, oh iya, mm,” Ify salah tingkah “mau duduk disitu terus? udah diliatin sama yang lain tuh!” ucap cowok itu.
Ify ngeliat ke sekitarnya dan Upss puluhan pasang mata ngeliat ke arah dia!! Uh… malunyaaaaa. Tiba-tiba cowok itu mengulurkan tangan.
“Biar gue bantu.” ucap cowok itu. Ify menyambut uluran tangan cowok itu.
“Thanx” setelah Ify berdiri, dia kemudian membersihka roknya yang udah berdebu.
“Sama-sama. Kamu kelas 10 ya?” tanya cwo itu.
“yup, kamu?” tanya Ify balik
“Aku kelas 12.” jawab cowok itu. Ify tambah malu lagi. Kakak kelas… cakep… gentle… ngeliat dia pada saat yang tidak tepat! Uhhhh.
“oh..mmm boleh nanya gak kak.. pengumuman pembagian kelas dimana yah?” tanya Ify.
“Di aula buat kelas 10… tuh” ucap cowok itu sambil menunjuk ke arah aula.
“Ohh.makasih yah kak!” Ify kemudian setengah berlari ke aula.
“hei!” kakak kelas itu manggil lagi. Ify berbalik.
“Ya?”
“Nama kamu?” tanya kakak kelas itu.
“Ify Kakak?” tanya Ify balik
“Iel” Jawab iel sambil senyum. Senyum yang bikin Ify mau meleleh………..
* * *
Akhirnya setelah mealalui perjuangan panjang, nerobos orang-orang yang berdesakan didepan papan pengumuman, injek-injekan sepatu (yang ini bikin Ify keki banget, kan sepatunya baru!!)
Ify berhasil nyampe tempat paling depan di papan pengumuman. Hampir nyium tuh papan malah!
“Alyssa Saufika” ucapya pelan sambil menaik turun kan jari-jarinya di deretan nama tersebut. “nggak ada, bukan di kelas 10-1” Ify mendesah. Mulai mencari di kelas 10-2.
“Yes!! Ada!!” Ify bersorak senang. Ga peduli sama anak-anak lain yang nutup telinga gara-gara suaranya yang kenceng ntu. Sebodo deh! Ify keluar dari
kerumunan orang-orang itu.
“Fiuhh. Tinggal nyari kelas!” Kata Ify dengan semangat
* * *
Ify memasuki kelas barunya sambil celingukan. Ify melengos. Ga ada yang dia kenal. Udah lumayan banyak yang didalam kelas… sekitar 15 orang lah mungkin… Ify celingukanlagi. Nyari tempat terbaik buat dia. Dia ngeliat tempat di deretan ujung, mepet sama tembok, deket jendela, barisan ke dua dari belakang. Lumayan tuh. Tapi udah ada yang duduk. cewek. Siapa tau, dia belum ada temen duduk. Kan Ify bisa duduk bareng dia..
“hai!” Ify menyapa cewe itu. cewe itu mendongak
“Gue Alyssa Saufika! gue boleh duduk disini ga?” tanya Ify sambil nunjuk tempat disamping cewe itu.
“Silahkan. Gue Sivia Azizah” bales cwe itu.
“thanks” Mereka berdua terlibat percakapan. Seputar perkenalan mereka. ternyata Via tuh pindahan dari Bandung. Jadi dia belum punya temen di jakarta.
Pembicaran mereka terhenti, begitu 2 orang cowok, sama-sama agak gondrong, bedanya yang satu Style-ya harajuku, yang satu manis kaya cewe, masuk kekelas. Mereka berdua, menurut Ify (dan penulis) lumayan cakep ðŸ™‚
“Sial Apa ya gue… udah satu sekolahan sekelas lagi sama nenek sihir… ckckck” Ucap cowo yang bergaya harajuku itu. Sambil ngelirik cewe tomboy yang lagi duduk diatas meja. cewe tomboy itu mendelik.
“Apa lo bilang?? lo pikir gue juga seneng satu kelas sama lo??” bales cewe itu dengan nada tinggi.
“Heh? emangnya lo nenek sihir?? ckckck GR. jadi nenek sihir ja GR!” bales si cowok harajuku santai. cewek tomboy itu berdiri. ngambil ancang-ancang.
“Apa lo bilang???????????” cewe itu
udah bakal ngejar cowo itu,
sayangnya, temennya nahan dia.
“Udahlah Ni… jangan berantem terus kenapa???” bujuk temen si tomby. si tomboy kembali duduk.
“Awas lo!” ucap cewe itu galak.
“Cak, Cak.. lo gimana sih? udah SMA masiiihh aja hobi nyari gara-gara sama Agni” ucap si cowo mais
“Lo tau slogan gue kan? Ga berantem sama Agni sehari, kudisan! gue kan ga mau kudisan!” jawab si harajuku.
“Ntar kena getahnya lo Cak!” Si Manis mempringati.
“Sok lo!”. Ternyata, dua cowok itu duduk dibelkang Ify dan Sivia. Setelah naruh tas si manis langsung nyapa.
“Hai! Boleh kenalan ga?” tanya Cowok manis itu.
“Gue Muhammad RAynald Prasetya! panggil aja Ray Kalian??” tnya cowo itu.
“Gue Via, Sivia Azizah” jawab Sivia sambil terseyum.
“Gue Alyssa saufika. Panggil aja Ify.” jawab Ify
“Gue Cakka Kawekas Nuraga” Cakka-si cowo harajuku- ikutan nimbrung.
“Kalo yang tomboy itu?” tanya Sivia sambil nunjuk cewe yang tadi berantem ma Cakka.
“itu agni. temen SMP kita juga.” jawab Ray.
“ohh” Sivia dan Ify manggut-manggut.
Tiba-tiba kelas sepi lagi. 2 orang cowok (lagi) masuk kelas. Ify, Via, Cakka dan Ray kompak berbalik.
“Wow” Yang masuk kelas aadalh 2 cwo yang cakep dan keren (lagi). Yang satu Berkulit coklat, yang satu putih dan chineese. Ify membelelakan mata.’Cowok itu???????’
* * *
Kelas Ozy ributtt banget. Ya, maklum aja, dikelas ini kan ada dua pelawak paling terkenal di seantero sekolah. Deva sama OZy.
“OZyyyyyyyyyyyyyyyyyy, Devaaaaaaaaaaa. Bisa diem gak sih lo berdua?” bentak keke galak.
“Eh, yang namanya Ozyyyyyyyyyyyyyyyyy sama Devaaaaaaaaaaa, di suruh diem tuh sama keke! perasaan yang ada cuma Ozy sama Deva deh…” celetuk Ozy jail yang bikin sekelas ketawa lagi. Keke merenggut. baru aja mau bikin serangan balasan, Bu uccie masuk kekelas. Sekelas langsung sepiii kaya kuburan.
“selamat pagi anak-anak” sapa Bu Uccie
“Pagi Buuuuuuuuuu” jawab anak-anak serempak.
“Baiklah, hari ini, ibu akan memperkenalkan kepada kalian, anak baru di kelas kalian. Silahkan masuk nak” Persilahkan Bu Uccie. Seorang anak cewek masuk kekelas, kecil, putih dan manis. Ozy langsung terpana. Kayanya bukan Ozy doang.. tapi sekelas.
“Perkenalkan, nama saya Raissa Arif, kalian bisa manggil aku Acha, aku pindahan dari Bandung” Acha memperkenalkan diri (sbelumnya gue mau ngasih tau nih, namalengkap Acha bukan Raissa Arif aja, gue lupa nama lengkapnya hehehe :)).
“Acha itu yang ada dijendela bukan???” celetuk Ozy
“Itu KACHAAAAAA” Sorak anak-anak sekelas
“yang temennya harimau bukan?” celetuk Deva ikut-ikutan
“itu mACHAnnnnnn” sorak anak-anak sekelas lagi. Mereka semua ketawa keras-keras. Emang dasar Pelawak Ozy ma Deva!
“Sudah-sudah! Acha, kamu duduk disamping Keke ya” perintah bu Uccie. Acha menurut, dia berjalan ke tempat yang dimaksud sama Bu Uccie.
“kenalin Gue Acha” acha memperkenalkan diri ketemen barunya itu.
“Gue Gabriel Angeline Thalita Pangemanan. Manggilnya Keke aja” jawab Keke.
“Nama lo panjang ya!” celetuk Acha. Keke mengangguk.
“Boong tuh! nama lengkapnya Keke kemoceng! celetuk Ozy. Keke manyun.
“Kenalin, Gue Ozy, seleb di sekolah ini!” Ozy PD. Acha hanya terseyum kecil.
“Hei, gue ikutan! nama gue Anak Agung Ngurah Deva Ekada Saputra! Noh lebih panjang dari si kemoceng!” Deva juga ikutan nimbrung. Sekarang Acha ketawa lagi. Kocak amat sih temen
barunya.
“Seleb apaan? tukang lawak kali lo!” ledek keke
“Diem lo kemoceng! Gue ga ngomong sama Lo Yee!” Bales Ozy. Sekali lagi, Keke hanya bisa manyun.
“Minggat deh lo berdua!” usir keke
“Ganas amat lo Ke…” ucap Ozy..
“Iya nih.. keke gitu deh..” rajuk Deva sok manja.
“Emang napa? Punya keluhan? nh laporin ke ketua RT setempat!
***** 

cerpen kepentok cinta kakak kelas

 Nama Gue Namira. Gue anak seorang dokter. Umur Gue 17 Tahun dan hobi Gue ngobrol dan cerita apa ajah sama temen-temen yang sayang sama Gue. Gue orangnya cerewet. Kata temen-temen Gue sih. Kalau Gue lagi berbicara sudah seperti bebek yang nyari induknya. Hehehe....

“Pindah Sekolah adalah hal yang menyebalkan buat Gue. Bayangin ajah sudah lima kali Gue pindah sekolah. Dari SD, sampai SMP. Adowh... adowh berapa kali lagi nih Gue musti pindah sekolah?.
Gue pindah sekolah dari derah yang satu ke daerah yang lain. Mulai dari Bogor, Semarang, Bali, Cirebon, dan Jakarta. Maklum ajah Orang Tua Gue dokter yang sering dipindah tugaskan kemana-mana. 
Sekarang sih Gue sudah SMA.. Jadi, kata Nyokap Gue, Gue gak akan pindah lagi. Karena bokap Gue gak akan dipindah tugaskan. Huhhh... Akhirnya sekarang Gue sekolah di Jakarta.”


Ini hari pertama masuk sekolah. Cuacanya cerah! Terlihat dari kanan kiri jalan sekolah yang ramai oleh siswa-siswinya. Banyak yang berkomentar sekolah ini adalah sekolah favorit di Jakarta. Betapa beruntungnya Namira. 
Tapi bagi Namira, Sekolah favorit atau tidak, yang penting adalah pendidikannya. Bukan dari favorit atau tidaknya sebuah sekolah. 

Yang ada dipikiran Namira sekarang adalah bagaimana cara mendekatkan diri pada lingkungan sekolah yang baru ini. 
Biasanya pertama kali masuk sekolah baru, mereka saling tidak bertanya. Hal itu dikarenakan belum saling mengenal. Ini nihhh... yang sangat tidak disukai oleh Namira. 
Pertama masuk sekolah baru pasti ada yang namanya MOS atau Masa Orientasi Siswa. 












“Banyak juga ya murid barunya.” Ujar Namira. 
Ketika Namira mengucapkan kata-kata tersebut, disamping Namira ada seorang cewek. Cewek itu juga adalah salah satu murid baru di SMA ini. Perawakan cewek itu kurus kecil, berkulit putih, dan berambut panjang. Ia menimbal balik ucapan Namira.
“Iya, murid disini dari tahun ketahun memang selalu banyak, maklum ajah namanya juga sekolah favorit.” Timbal cewek tadi.




Namira melirik cewek itu dan berkata, “Dari mana loe tahu?”
“Bokap Gue salah satu penyumbang dana buat sekolah ini.”
“Owhhh...” namira tak melanjutkan ucapannya.
“Oh iya, kita belum kenalan, Nama Gue Rubi.” 

Namira heran mendengar nama cewek itu, ”Rubi? Nama yang aneh...”
“Memang sih kedengarannya aneh, tapi Orang Tua Gue ngasih nama itu karena Rubi itu adalah nama sebuah batu yang sangat berharga dan berharga jual tinggi. Jadi aku ini yang berharga bagi mereka.”
“Hmmm.... Masuk akal!”. Namira.
“Nama loe siapa?” 
“Gue Namira!”
“Senang bisa kenal sama loe Namira.”
Mereka berdua berjabat  tangan. 

Semenjak itu, Namira dan Rubi berteman. Selama MOS mereka berdua selalu bersama. 
“Widiiihh... Ketua Osisinya cakep, Bi?” Namira memberitahukan kepada Rubi bahwa ia melihat Ketua Osis yang menurutnya berwajah enak untuk dilihat. 
“Mana, mana, mana?”
“Itu tuh...” Namira menunjuk salah seorang cowok yang sedang memberi pengarahan kepada anak baru yang mengikuti MOS.
“Wah iya... Bener, bener, bener!”

Ketika mereka sedang serius melihat Ketua Osis yang ganteng, tiba-tiba kakak kelasnya yang bernama Sisil bersama temannya, dengan sengaja menjatuhkan minumannya ke pakaian Namira. 
“Upsss... Sorry.” Dengan wajah yang jutek Sisil menumpahkan minumannya.
“Akhhhh.... Baju Gue.” Namira kebingungan karena pakaiannya basah. 
Rubi membela Namira, “Kalau jalan liat-liat dong! Gimana sih loe.”

Dengan wajah yang nyolot Sisil membalas, ”Ehh! Loe anak baru ya? Anak baru ajah udah nyolot sama kakak kelas, gimana nantinya loe.”
“Gue hargain loe kakak kelas, tapi jangan begini dong, mentang-mentang kita anak baru, jadi loe bisa lakuin kita seenak loe!” Rubi malah tambah nyolot.
Mendengar pertengkaran itu, Ketua Osis yang ganteng itu menghampiri. 
“Ada apaan nih ribut-ribut?”

Sisil langsung memegang tangan si Ketua Osis, “Ini, Adam... Anak baru kelas satu udah nyolot sama Gue!” Sisil memanja. 
Dalam hati Namira, “Ohhh, jadi namanya Adam.”
“Bohong tuh!” Jawab Rubi.
“Yeee.. anak baru ajah udah blagu loe.” Sisil menimbali.

Adam semakin bingung dengan kedian ini.” Sebenernya kejadiannya gimana sih?”
Rubi menjelaskan, “Begini Kak, Kak yang ini (Rubi menunjuk Sisil) numpahin minumannya ke baju teman saya. Bukannya minta maaf, malah marahin kita Kak.”
“Sisil! Apa bener yang dibilang mereka?” Adam bertanya kepada Sisil.
Sisil tidak menjawab, ia kesel dengan Adam karena lebih membela Namira dan Rubi. Akhirnya Sisil dan teman-temannya pergi meninggal mereka bertiga. Adam memberi pertolongan kepada Namira.

“Loe gak apa-apa kan? Nih pake.” Ucap Adam sambil mengeluarkan sapu tangan dari saku bajunya, dan memberikannya pada Namira yang ketika itu berpakaian basah. 
“Gue gak apa-apa kok. Makasih...” Namira mengambil sapu tangan yang diberikan Adam. 
“Maafin Sisil ya?” Adam mewakili Sisil meminta maaf.
“Iya kak.” Namira.
“Kalau boleh tahu nama loe sapa?” Adam melihat Namira.
“Namira nama Gue... dan yang ini temen Gue, Rubi.” Namira memperkenalkan Rubi juga. 
“Nama Gue Adam! Gue duluan ya.” Adam pergi meninggalkan Namira dan Rubi.





Semenjak kejadian itu, Namira menjadi semakin sangat betah bersekolah di SMA  itu. Apalagi karena ada Adam yang banyak dikejar-kejar sama cewek-cewek termasuk Sisil. 
Namanya juga Kakak kelas, apalagi kalau Kakak kelasnya ganteng kaya Adam. 
Keesokan harinya, Namira baru saja turun dari mobilnya. Ternyata Rubi juga baru turun dari mobilnya. Masuk pintu gerbang, ” Namira! Tungguin Gue.” Rubi berlari menghampiri Namira.
Namira melirik kebelakang, “Ternyata loe, Bi. Ayo cepetan!.”

Dengan nafas terengah-engah Rubi tepat sejajar dengan Namira. Langkah kaki Namira terhenti.
“Kenapa loe?” Tanya Rubi.
“Gue kebelet pipis. Hehehe...” 
“Ya udah sana ke toilet. Gue duluan kekelas ya..”
Namira mengangguk, lalu ia berlari menuju toilet. Keluar dari toilet, ”Aduhhh... akhirnya...”
Namira berjalan sambil merapihkan pakaiannya. Tanpa sengaja gelang Namira jatuh, dan Namira tidak tahu akan hal itu. Namira tetap melanjutkan perjalanannya. 

Dibelakang Namira, Adam sedang menuju toilet dan melihat gelang Namira. Diambilnya gelang itu. Adam sempat memanggil Namira, namun Namira tidak mendengarnya dan terus berjalan menuju kelasnya. 
Sampai di kelas, Namira baru sadar bahwa gelangnya tidak ada.
Namira terkihat sedang mencari sesuatu.

“Ra! Loe lagi cari apaan sihh?” Rubi heran.
“Gelang Gue hilang!”
“Gelang apaan?”
“Gelang yang tadi pagi Gue pake.”
“Wah Gue gak tahu, Ra!”

Adam datang membawa gelang Namira. 
“Gelang ini yang loe cari?”
“Hah! Iya... itu gelang Gue. Kok bisa ada di Kak Adam?”
“Aduhhh.. jangan panggil Gue Kak dong. Panggil Gue adam ajah.”
“Iya...”
“Tadi gelang loe jatuh sewaktu didepan toilet, padahal Gue udah manggil loe, tapi loe gak nengok sama sekali. Tadinya Gue juga mau ke toilet. Terus Gue liat gelang loe. Nihhh...' Adam memberikan gelang itu kepada Namira. 
“Tanks ya Kak... Upss maksud Gue Adam.” Namira tersenyum.

Rubi hanya terdiam melihat Namira dan Adam. Sepertinya Adam sudah mulai terlihat tertarik dengan Namira. Tapi Namira tidak menyadari hal itu. 

Jam istirahat. Namira dan rubi pergi ke kantin sekolah. Di kantin sekolah tidak sengaja Namira dan Rubi berpapasan dengan Sisil. Sisil tiba-tiba mengancam Namira, “Eh! Anak baru... Gue peringatin ya sama loe. 
Loe gak boleh deketin Adam, karena Adama milik Gue! Loe inget itu baik-baik.” Sisil langsung pergi.

Rubi meledek, “Apaan sih tuh orang? Gak jelas banget. Udah,  jangan loe dengerin Namira. Anggap ajah angin lalu. Ahahaa...”
Mereka berdua duduk di kantin sambil memesan mie ayam dan bakso dengan minuman es the manis.
Sambil menunggu pesanan mereka datang, Rubi dan Namira bercakap.

“Ra!” panggil Rubi.
“Iya, Bi!Kenapa?”
“Sadar gak loe.”
“Yeee... loe gak liat nih Gue sadar gini....”
“Bukan itu maksud Gue.”
“Terus...'

Makanan dan minuman yang mereka pesan datang.
Namira menyendok mie ayam yang ia pesan.
“Woyyy... Rubi Gue tanya malah diam aja.”
“Maksud Gue, Loe sadar pa gak kalau Adam suka sama loe?”
Namira langsung tersendak dan langsung mengambil air minumannya.

“Ngomong apaan sih loe? Gak mungkinlah adam suka sama Gue.'
“Ra! Di dunia ini apa sih yang gak mungkin? Mungkin ajah dia suka sama loe.”
“Masih banyak kali Bi, cewek yang lebih dari Gue buat Adam.”
“Kurang apa lagi sih loe Ra! Cantik, pinter, baik lagi... Hehehe...”
“Huhhh... kalau loe lagi muji Gue pasti ada maunya nihhh....'
“Gak ko. Gue serius.'
“Udah deh jangan menghayal. Ayok makan!”

Waktu cepat sekali berlalu, hingga saatnya jam pulang sekolahpun tiba. Para siswa siswi berhamburan keluar kelas. Saling mendahului.  Rubi dan Namira berjalan menuju pintu gerbang sekolah.
“Ra! Pulang sekolah loe mau kemana?”
“Gue mau langsung pulang ajah deh...”
“Ke rumah Gue dulu yuk! “
“Gak Ah... Makasih.” Namira menolak.

Adam menghentikan langkah mereka, “Namira! Pulang Gue anterin pulang yah... Mau gak?” 
Tanpa menunggu keputusan Namira, Rubi langsung menjawab, ”Oh... Iya tuh Ra! Loe bareng ajah sama Adam... Gue duluan ya... dadahhh...” Rubi meninggalkan Adam dan Namira. 
Akhirnya Namira pulang bersama Adam. 

“Gue ambil mobil dulu yahhh... sebentar loe tunggu dulu disini ya.”
Namira mengangguk. 
Ketika Namira menunggu, Sisil datang menghampiri Namira yang sedang menunggu sendiri. 
“'Eh! Gue kan udah bilang sama loe... jangan deketin Adam. Loe itu ngeyel yahhh...”
“Sorry yah, Gue gak ngedeketin Adam.” 
“Bohong banget loe. Buktinya Adam selalu nempel sama loe.”

Mobil Adam datang, Adam turun dari mobilnya. 
“Sisil! Loe ngapain lagi sih... Gue udah bilang sama loe, jangan ganggu Gue.”
“Tapi Gue suka sama loe adam.” 
“Ra! Ayok kita pulang. “ Adam menarik tangan Namira masuk kedalam mobil.
Jalanan macet. Biasa... Ibu Kota Jakarta, sangat identik dengan macet. Kaya'nya tanpa macet, namanya bukan Jakarta. 

Adam melihat Namira yang hanya diam di melihat keluar kaca mobil.
“Ra! Jangan loe ambil hati ya omongan Sisil tadi.”
Namira melihat Adam yang sedang menyetir mobilnya. 
“Kenapa loe gak terima Sisil ajah, dia cantik!”
“Gue gak suka sama dia.”
“Terus...?”
“Gue suka sama loe, Ra!”
“Hah!”

Mendengar perkataan Adam tadi, Namira hanya terdiam. Yang ada dipikiran Namira sekarang, apa yang harus dia katakan nanti pada Adam. Seandainya Adam meminta jawabannya. 
“Ra! Belok kanan atau belok kiri nih... Rumah loe dimananya? “
“Belok kiri, tiga rumah dari belokan, itu rumah Gue.”
Adam melanjutkan perjalanannya. 

Sampai tepat di depan rumah Namira. Namira turun dari mobil Adam.
“Adam! Loe gak mau mampir dulu?” Namira menawarkan adam untuk singgah dulu di rumahnya.
“Gak usah Ra! Gue langsung pulang ajah. Salam ajah ya buat Nyokap Bokap loe.”
“Ok. Tanks ya... Udah nganterin Gue sampai rumah. Dahhh....” Namira melambaikan tangannya. 

Mobil Adam melaju meninggalkan rumah Namira. 
Namira selalu teringat dengan ucapan Adam, bahwa ia suka pada Namira. Tapi Namira berfikir, apa jadinya ia kalau seandainya Adam dan dia.........???

Namira menelpon Rubi. Biasa namanya juga sama-sama cewek pasti Curhat (Curahan Hati).
“Halo!”
“Iya, Ada apa ya Ra?”
“Bi... Adam bilang kalau dia suka sama Gue.” 
“bagus dong.”
“Ko bagus sih..?”
“Iyalah bagus... Loe mau cari dimana sih cowok kaya Adam? Baik, ganteng, Ketua Osis pula. Apalagi dia Ketua Osis, nama loe pasti kebawa sama dia. Wiiihhhh.. Namira cowoknya Ketua Osis.Hehehe...” Canda Rubi. “Ceritanya loe ngeledek Gue nihhh?”
“Hehehe.... Gue seneng ajah kalau temen Gue dapet cowok kaya Adam.”
“Dapet? Loe kira Gue nemuin si Adam apa... pake dapet segala.”
“Weits... Jangan marah-marah gitu dong. Tar cantik loe luntur  tuh...”
“Terus Gue musti gimana nih?”
“Ya terima ajah... Apalagi sih yang loe tunggu... Dia udah bilang suka sama loe. Baguskan dia udah cerita ke loe tentang perasaannya.”
“Gue pikir lagi deh”
“Ok. Semoga ajah jawabn loe gak ngecewain Gue dan Adam ya...”
“Iya...”
Namira menutup teleponnya. 

Sampai malam hari Namira masih memikirkan apa yang harus dia katakan besok pada Adam. Tidur pun Namira gelisah. 
Disisi lain Adam juga sedang memikirkan Namira, “Kira-kira apa jawaban Namira....”

Paginya. Seperti biasa, Namiradatang berbarengan dengan Rubi. Ada yang aneh dari Rubi pagi ini. Ternyata, Rubi berganti gaya rambut.
“Ihhh, Rubi potong rambut nih ceritanya. Ahaha....” Namira tertawa lepas.
“Bagus gak?”

Namira memberikan dua jempol pada Rubi. 
“Berarti Gue ada perubahan, gak kaya loe yang gak ada perubahan. Hehehe....  “
“Apaan tuh maksudnya?”
“Gak ada maksud apa-apa kok, just kidding...”

Tidak terasa sudah dua bulan lamanya Adam menanti jawaban Namira. Sekarang Adam sedang gencarnya belajar karena sebentar lagi dia akan menghadapi Ujian Nasional. Bagi pelajar Ujian Nasional adalah pembicaraan yang mengerikan. Banyak dari para pelajar yang tidak lulus hanya karena satu mata pelajaran yang tidak lulus. Adam tidak mau hal itu terjadi padanya. 

“Ra! Ke Mading (Majalah Dinding)  yuk?”
“Ngapain?” 
“Udah ayok ikut ajah...” Rubi menarik tangan Namira.

Sampai di depan Mading, mereka berdua saling melirik. Ternyata di Mading ada pengumuman From Nigth. From Night akan dilaksanakan pada hari Sabtu, pukul 08.00 WIB. 
“Terus apa hubungannya sama Gue?” Namira menggaruk kepalanya. 
“Ya adalah... adowh....”
“Apa?”
“Loe harus kesana. Sama Adam. “
“Itukan buat kelas tiga.”
“Udah gak apa-apa.”

Hanphone Namira berdering, dilihatnya dari layar ponsel message dari Adam.
“Gue tunggu di depan kelas loe ya? Sekarang!”
Membaca message itu, Namira langsung berlari menuju tempat yang dimaksud Adam. 
“Ra! Mau kemana loe?” Rubi bingung melihat temannya yang pergi begitu saja.

Ucapan Rubi tidak dihiraukan oleh Namira. Dia terus berjalan menuju depan kelas yang dimaksud Adam. 
Terlihat dari kejauhan Adam yang sedang menunggu Namira. Tampak semakin dekat sekarang, dan sampai dihadapan Adam.
“Ada apa Adam, loe manggil Gue kesini?”
“Gue mau minta kepastian dari loe Ra!”
“Kepastian apa?”
“Kepastian jawaban loe ke Gue.”

Namira terdiam berpikir sejenak. Memikirkan jawaban apa yang akan terucap dari mulutnya. Akhirnya, Namira berucap, “Gue mau nerima loe! Asalkan....????”
“Asalkan apa?”
“Asalkan loe lulus nanti.”
“Kalau Gue gak lulus? Berarti Gue gak diterima jadi cowok loe?”
“Meybe! Loe dah kaya mau ngelamar kerjaan ajah, pake keterima atau gak.”
“Gue juga punya pertmintaan sama loe?”
“Apa?”
“Loe harus pergi ke From Night sama Gue.”

Namira mengangguk setuju. Dua-duanya sama-sama serasi. Mungkin ini cara Namira memotifasi Adam supaya ia giat belajar dan lulus nantinya. 
Upaya yang bagus. Selesai sekolah nanti, mungkin Adam akan melanjutkan kuliah.

Hari berganti hari. Sabtu yang ditunggu pun datang. From Night!
“Aduhhhh... Kemana ya hight hils Gue?” Namira mencari sepatunya yang menurut perasaannya, ada di lemari pakaian. Tetapi tidak ada. 

Dari luar pintu terdengar ketokan, “Tok, tok, tok...” Masuklah Rubi dengan membawa sepasang sepatu. Cocok dengan gaun Namira yang berwarna putih pendeh. 
“Nih pake sepatu Gue!”
“Wahhh, Tanks banget ya.”
“Cantik banget loe, Kalau udah pulang dari From Night 
cerita-cerita ke Gue ya...”
“Siiipppp dehhh.”
Klakson mobil Adam sudah terdengar. 
“Pangeran loe udah nunggu tuh di luar.”
Namira tersenyum, “Gue pergi dulu ya.”
“Ok. Good Luck ya.”

Malam ini Namira terlihat cantik dengan gaunnya yang berwarna putih. Rambutnya yang hitam dibiarkan terurai panjang dengan jepitan yang berkilau. 
Adam pun tidak kalah. Dia juga memakai jas berwarna hitam. Terlihat ganteng sekali. 
Mereka berdua terlihat cocok sekali, Ganteng dan Cantik.”
From Night malam ini sangat Istimewa. Terlihat dri semua pasangan, hanya Adam dan Namira yang sangat terlihat cocok. 

Adam dan Namira melewati malam yang tidak bisa dilupakan bagi mereka berdua. From Night malam ini berakhir hingga pukul 11.00 WIB malam. Melihat dari wajah para siswa-siswi yang lain, sepertinya mereka puas dengan acara From Night malam ini. Wajah mereka tampak berseri-seri. Menghilangkan streesss setelah Ujian Nasional. Tapi mereka akan berhenti tersenyum ketika mendengarkan pengumuman kelulusan pada hari Senin besok. Was-was apabila nantinya tidak lulus. 

Hari ini adalah hari yang dinanti para siswa-siswi kelas tiga. Selama tiga tahun mereka berjuang untuk bisa lulus dengan nilai yang memuaskan. Agar tidak mengecewakan nantinya. 
“Adam...” Panggil Namira.
Adam yang sedang berjalan menuju kelasnya, terhenti setelah mendengar suara Namira memanggilnya. 
“Namira menghampiri, ”Adam, sukses ya buat hati ini... Semoga loe lulus!”
Mendengar ucapan Namira, Adam tersenyum bahagia. “Iya... Amin..”

Tiba saatnya pengumuman kelulusan. Bukan hanya  Adam saja yang sedang risau menanti hasil kelulusan, tapi juga Namira. 
Surat kelulusan pun dibagikan satu persatu. Dalam Amplop berwarna putih, didalamnya tertulis... lulus atau tidaknya siswa-siswi tersebut. Nama Adam sudah dipanggil untuk menerima surat kelulusan tersebut. 
“ADAM.” Panggil guru yang membagikan surat tersebut. 
Adam maju dan mengambil surat kelulusan itu. Surat itu tidak segera dibukanya, karena ia ingin membuka surat itu bersama Namira. 

Kebetulan sekali Namira melintas didepan kelas Adam. Dipanggilnya Namira, dan dipersilahnya duduk bersama Adam untuk membuka suratnya. 
Hati Adam berdebar-debar membuka surat tersebut. Dengan pelan tapi pasti, surat itu keluar dari Amplopnya. 

Dibukanya kertas yang berada di dalam Amplop. Hasilnya....
Di kertas itu tertulis, “LULUS”. Seketika itu juga Namira melompat kegirangan. Adam hanya terdiam melihat Namira senang, karena dia lulus. 
“Yeeee.... Adam loe Lulus...” Namira mencubit pipi Adam.
“Iya... Gue Lulus.”

Banyak siswa-siswi yang berhamburan keluar kelas mengabarkan bahwa mereka Lulus. Bahagianya mereka yang Lulus. Diantara kesenangan mereka yang lulus, ada juga yang bersedih karena tidak lulus. 
Mereka yang Lulus, mengekspresikan luapan kegembirannya dengan cara mencorat-coret baju sekolahnya. Saling memberikan tanda tangan di baju masing-masing, sebagai kenang-kenangan kelulusan. 
Baju Sekolah mereka sekarang terlihat warna-warni oleh pilok. 

Namira menepati janjinya, bahwa ia akan menerima Adam jika Adam Lulus Ujian. Ternyata, Adam Lulus! 
Bahagia Adam kini berlipat ganda. Disamping Ia Lulus Sekolah, Ia juga mendapatkan Namira. 
Bagi Namira, hari ini adalah hari terbaik baginya dan Adam.  Ternyata, di Sekolah Namira yang baru Ia mendapatkan cinta Kakak kelasnya.   
 
Blogger Templates