Social Icons

Pages

Kamis, 02 Februari 2017

SAFINAH MAHABBAH





SAFINAH MAHABBAH
Oleh M. Zuhri Ni'am

“Allahu Akbar… Allahu Akbar!”
“Allahu Akbar… Allahu Akbar!”
Alunan Adzan membahana di seluruh penjuru Kota Pontianak khususnya di Jalan Sepakat II yang memiliki beberapa masjid dan surau. Tidak terkecuali pula Surau Umar milik Asrama Mahasiswa Kabupaten Kubu Raya. Sosok-sosok bernyawa tergeletak tak beraturan di depan Televisi. Sungguh dua pasang mata mereka bak di lem hingga mereka tak mendengar alunan indah dari Khozin yang menyeru untuk menghadap kepada sang Ilahi. Udara pagi terasa menelusuk tulang hingga mendorong tepi mataku untuk menarik semua bagian mata agar terpejam kembali. Gerak tubuhku juga turut menyempurnakan posisi tidurku agar semakin terasa nyaman. Musim hujan ini memang membuat aku selalu terlena dalam kenikmatan tidur. Cuaca dingin memaksaku untuk bermalas-malasan menghadap kepada Sang Pencipta.
”Asyhadu anlaa ilaaha illalloh…!”
”Asyhadu anlaa ilaaha illalloh…!”

Seruan itu semakin terdengar di telingaku. Akhhh, terasa berat sekali mataku ini. Seluruh badanku terasa lelah setelah semalaman mengerjakan tugas Evaluasi Pembelajaran yang harus kukumpulkan hari ini. Aku berusaha mengunci lagi kedua mataku, aku hendak terbang lagi ke alam kenikmatan.
“Asyhadu annaa muhammadar rasululloh ….!”

Akhirnya badanku ku angkat, berusaha untuk bangun, mataku ku celek kan agar tidak terkatup lagi. Ku langkahkan kakiku menuju pintu kamar, kemudian menuju kamar mandi untuk mensucikan diri guna menghadap kepada sang ilahi. Kesejukan semakin menjalar ke seluruh tubuhku tatkala air mulai membasahi tangan dan mukaku. Walaupun dalam suasana dingin mencekam, sebagai seorang muslim aku harus tetap menjalankan kewajibanku. Memang terkadang aku sering menunda dalam melaksanakan sholat, tetapi aku selalu berusaha untuk sholat di awal waktu agar lebih utama. Alhamdulillah, sekarang aku hidup di lingkungan yang taat dalam menjalankan sholat. Bisa dibayangkan bagaimana jika aku hidup di luar asrama, mungkin aku sering meninggalkan sholat karena tidak ada teman yang mengingatkanku. Aku bersyukur bisa tinggal di asramaku tercinta Asrama Mahasiswa Kabupaten Kubu Raya.

Perkenalkan namaku Amri. Aku seorang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Kota Pontianak. Aku juga salah seorang putra daerah yang akan turut berjuang untuk Kubu Raya yang terdepan dan berkualitas bersama organisasi yang aku banggakan yaitu Primaraya (Perhimpunan Mahasiswa Kabupaten Kubu Raya).

Dalam hal lain, Aku juga bersyukur mempunyai kekasih yang selalu mengingatkanku tentang sholat. Sebut saja Zuhriyah. Zuhriyah juga seorang mahasiswi di salah satu perguruan tinggi di Kota Pontianak. Gadis solehah ini mengontrak bersama keluarganya di Jalan Sungai Raya Dalam. Dia adalah seorang gadis yang cantik, baik fisiknya maupun hatinya. Zuhriyah memang wanita yang taat beragama, dia tidak pernah absen untuk selalu mengingatkanku sholat. Terkadang aku berfikir jika kehilangan Zuhriyah dan teman-teman di asrama, apakah aku masih bisa menjaga sholatku. “Akhhh, semoga itu tidak terjadi” gumamku dalam hati.

Fajar semakin menyingsing sempurna, keindahan pagi ini tidak sebanding bahagianya aku mencintai Zuhriyah. Mungkin karena itulah Allah sering menegurku. Aku sering merasa kurang sehat. Setiap hari hati ini selalu mengingat Zuhriyah, karena dia adalah wanita yang sangat ku cintai. Wanita itu memiliki ruang yang sangat besar di hatiku. Sedangkan Tuhan tidak begitu besar. Sehingga Tuhan sering menegurku. Mungkin karena Tuhan cemburu karena aku lebih mencintai makhluknya daripada mencintai Allah. Seharusnya cinta ku pada Zuhriyah tidak sebesar cintaku pada Allah.

Seperti biasa, aku bercakap-cakap dengan Zuhriyah melalui SMS sambil menunggu Bibi si penjual kue datang. Karena aku selalu sarapan kue yang setiap pagi berjualan keliling. Asrama Mahasiswa Kubu Raya salah satu tempat persinggahannya.
“Kue Kue “ Dengan alunan suara nan mengayun-ayun itulah yang selalu terdengar ditelingaku tatkala jam sudah menunjukan kira-kira pukul 06.30 menit. Aku masih tetap sms an dengan Zuhriyah. Aku sangat menyayanginya.
“Assalamu’alaikum, Selamat Pagi sayang !” sms ku terhadap Zuhriyah sambil senyum-senyum sendiri.
“Waalaikumsalam, Pagi juga, kuliah nggak hari ini mas ?” sambil makan kue ku baca sms dari wanita pujaanku ini.
“Kuliah, bentar lagi, sekarang lagi makan kue nih. Sayang mau nggak ?” kutambahkan emotion senyum untuk memperindah sms ku kepadanya.
“Owh, nggak kuliah nih, nggak ada dosen, mungkin nanti ke pasar sebentar. Gag mau ah, masih kenyang, karena tadi udah makan indomie. Jadi sekarang ngantuk lagi. Hehe “ ujarnya. Aku bisa menebaknya, makanan mahasiswa kalau tidak tempe tahu, telur goreng, ya mie … hehe
”Ya udah, tidur aja deh, Mas mau berangkat kuliah dulu ya. Jangan lupa sarapan nasi ya. Baik-baik di rumah.” Kataku sambil mengemaskan bukuku yang akan kubawa ke kampus. Aku begitu menyayanginya. Bahkan aku berniat untuk menikahinya jika aku sudah lulus kuliah. Dia lah wanita satu-satu nya yang sangat kucintai. Aku tak ingin berpisah darinya. Aku tahu kalau pacaran itu di larang dalam agama, tapi aku sudah terlanjur cinta. Aku tidak mau kehilangan dirinya, kalau aku memutuskan hubungan pacaran dengan Zuhriyah sampai-sampai cintaku padanya sangat membutakan hatiku untuk berfikir lebih realistis hingga cinta tersebut melebihi cintaku pada Allah Swt. “Akhhhh,,, sungguh keterlaluan diriku ini ….” Pikirku dalam hati sambil mengusap keningku.

Kehidupanku dan Zuhriyah bagai dua sisi mata uang yang terkadang berubah-ubah. Sedih dan dan senang. Dari sisi ekonomi aku memang seorang pemuda yang miskin. Makan saja hanya berlauk tempe, kadang juga hanya dengan telur goreng. Tetapi aku sudah merasa cukup dengan kehidupan ku sekarang. Aku bersyukur kepada Allah.

Orang tua ku sudah menunjukan kalau mereka merestuiku dengan Zuhriyah. Begitu juga dengan orang tuanya. Kami juga sudah sama-sama saling mencintai. Saat itu tidak ada lagi wanita yang sanggup mengisi ruang hatiku karena ruang tersebut sudah dipenuhi oleh benih-benih cinta milik Zuhriyah. Aku sungguh bahagia. Tetapi aku sering berfikir, aku sekarang sangat mencintainya, belum tentu dia akan menjadi istriku. Sedangkan karena cintaku pada Zuhriyah membuat aku sedikit melupakan Allah dan melanggar ketentuan agama. Zuhriyah juga pernah bilang agar kita tidak pacaran dulu, namun aku selalu menolaknya karena aku takut kehilangan dirinya.
“Ya Allah, berilah hamba-Mu ini petunjuk. Apa yang seharusnya hamba perbuat ? Hamba sangat mencintainya, namun apakah dia jodoh hamba kelak ?” itulah Do’a ku yang selalu ku ucapkan setiap hendak memejamkan mata di malam hari. Aku sadar akan kekeliruanku saat ini. Tapi aku bingung harus berbuat apa.

Tak lama setelah aku pulang kuliah, awan yang sendari tadi mendung, kini berubah dingin. Hujan lebat mengguyur, ditingkahi cahaya kilat nan menyala-nyala yang menerangi langit hitam pekat. Rumput-rumput di depan Asrama Mahasiswa Kubu Raya tampak tidak kuat menahan terpaan angin, seluruh daunnya, batangnya, bergoyang keras bak Ratu Goyang Dangdut Inul Daratista yang sedang bergoyang di atas panggung.
“Tiang listrik! Tiang listrik!,” tiba-tiba Susandi menunjuk-nunjuk ke depan sambil mengaruk-garuk perutnya yang kurus. Matanya menunjukan rasa cemas yang berlebihan. Tampak tiang listrik di depan asrama kami memercikkan api, kabelnya turun, mengendor. Semua menahan nafas, takut akan terjadi kebakaran.
“Harvest nya kebakar nggak ya ?” Tiba-tiba Prasetyo menyeletuk dengan raut muka yang tampak tegang disertai dengan tetesan air mata menyusuri tiap lekuk-lekuk mukanya.

Dengan raut muka yang masam dan tampak marah sehingga tulang pipinya kelihatan. Bang Handri memarahi Prasetyo sambil tangannya yang kurus menunjuk ke muka Prasetyo.
“Husss, sempat-sempatnya kamu ngurusi harvest dalam kondisi kayak gini. Minum Fruit Tea aja sana di dalam kamar” Ujarnya. Mendengar kata-kata bang handri, Prasetyo langsung menunjukan muka yang ciut.
“Ya Allah, selamatkan kami ! Selamatkan kami !” Syahadat mulai terisak, menangis deras, ketakutan teramat sangat seolah mencekik lehernya hingga ia setengah mati menahan lehernya yang tersengal-sengal.
Susandi, Prasetyo, Bang Handri dan Syahadat adalah teman-temanku di asrama yang saat itu berada di asrama. Mereka juga terlihat kecemasan yang amat hingga kedua kelopak mata mereka kelihatan membesar disertai dengan melelehnya cairan dari mata mereka.

Badai telah berlalu hanya dalam hitungan menit, namun telah berhasil membuat kami panik. Asrama kembali tenang. Tiang listrik sudah tidak menunjukan kemarahanya kepada kami. Namun angin berhasil memporak-porandakan beberapa baliho dan papan reklame, serta menerbangkan beberapa atap rumah kost, termasuk atap Asrama Mahasiswa Kabupaten Kubu Raya.

Aku teringat akan Zuhriyah, dia tadi pergi ke pasar dan belum pulang ke rumahnya. “Semoga tidak terjadi apa-apa padanya Ya Allah” aku merasa khawatir karena hujan begitu deras menyerang Kota Pontianak. Rembesan air di dinding turut menjadi saksi bisu kekahwatiranku pada Zuhriyah pada siang itu.

Begitu hujan reda, Datanglah Nuryadi dengan basah kuyup dan raut muka seperti terkoyak-koyak masuk ke dalam asrama sambil menendang-nendang tembok dekat tangga. Samar-samar ku dengar bahwa ada kecelakaan antara sepeda motor dengan truk di Jalan Ahmad Yani I. Aku khawatir sekali terhadap keselamatan Zuhriyah. Kekhawatiranku memuncak ketika Zuhriyah tidak membalas SMS ku yang menanyakan kabarnya apakah sudah sampai di rumah apa belum. Dengan raut muka harap-harap cemas, kustarter vega lusuh milik ku, mesin berbunyi halus, tanpa konsentrasi yang penuh, ku tancap gas dan motorku melaju dengan kencang menuju lokasi tempat kecelakaan tersebut. Samar-samar kulihat wanita berjilbab tergeletak penuh darah di samping truk yang menabrak.

Aku terhenyak. Kaget lapis kuadrat plus kebingungan di sela-sela kerumunan orang dipinggir jalan tatkala ku saksikan dari agak kejauhan yang tertabrak cirri-cirinya mirip sekali dengan Zuhriyah.
“Sayang…, kamu baik-baik saja kan? Keringatku bercucuran tatkala wanita yang tergeletak tersebut ternyata Zuhriyah. Air mata menetes di pipiku membasahi seluruh tubuhku, seakan bermandikan air mata. Tak tega nya hati ku melihat wanita yang kucintai tergeletak tak berdaya di pinggir Jalan Ahmad Yani depan Kantor Gubernur Kalbar ini.
“Ssst, cukup, jangan banyak bicara dulu. Kita akan ke rumah sakit,” ujarku memarahi salah seorang pria yang selalu bertanya siapa diriku dan dimana keluarganya. sambil menciumi kepalanya ku bopong dia ke dalam ambulan menuju rumah sakit umum dr. Soedarso Pontianak. Aku sudah lupa bahwa dia bukan muhrimku, tetapi yang ada dalam pikiran ku saat itu hanyalah menolong dan menolong sang pemenuh ruang hatiku.
“Sayang…, sabar yah! Sebentar lagi kita sampai.” Aku terus menggenggam erat tanganya.
“Mas! Jangan sampai kamu meninggalkan shalat ya !, Aku tidak apa-apa koq mas.” Itulah kalimat yang ku dengar dari mulut mungilnya. Suara yang terpatah-patah membuatku mengeluarkan keringat dingin membasahi sekujur tubuhku. Aku menggigil. Perasaanku tak karuan bercampur bangga karena di sela-sela kritis dia masih mengingatkan diriku akan kewajibanku sebagai seorang muslim.
“Iya Sayang insyaallah, tapi Adek jangan tinggalkan mas ya …” Suaraku bergetar bagaikan kesetrum listrik sambil mengusap darah yang menempel di pipi tembemnya.

Dengan mata terlihat sayup-sayup Zuhriyah mengerang kesakitan. “Mas, sakit…. Adek tak kuat lagi …. Maafkan adek mas …” Ungkapnya.
“Sabar ya, kita sudah sampai di Rumah Sakit … Adek pasti sembuh … Sabar sebentar ya sayang …” Aku mencoba menenangkan dirinya. Aku tak tega melihat Zuhriyah dalam keadaan kritis. “Ya Allah, sembuhkanlah kekasihku ini, Jangan ambil dia dariku Ya Allah …”
Sayang, aku mencintaimu. Meski dingin terus menerjang, awan berubah hitam, dan mataku lembab. Aku tetap mencintaimu. Sangat mencintaimu. Aku tak mau kehilangan dirimu sayang.

Ketika hendak diturunkan dari mobil ambulan, Aku menangis tak karuan tatkala menyaksikan Zuhriyah sudah tergeletak tak menghembuskan nafas dalam mobil ambulan. Suster yang berada di sampingnya sudah memastikan bahwa Zuhriyah sudah meninggal dunia. Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Aku bagaikan mayat hidup saat itu. Urat nadi masih berdenyut tetapi tidak bisa berbuat apa-apa lagi.

Dengan menggunakan ambulance yang tadi, aku langsung membawa Zuhriyah ke rumahnya yang berada di Jalan Sungai Raya Dalam. Aku kemudian menghubungi orang tuanya karena sejak tadi aku belum sempat menghubunginya. Serasa tulang-tulang rusuku remuk menyaksikan wanita yang memenuhi ruang hatiku ini tak menghembuskan nafas lagi.

Tatkala sampai di rumahnya, orang tua Zuhriyah menyambutnya dengan teriakan histeris menyaksikan anak bungsunya sudah menghadap sang Ilahi. Mataku sudah tak bisa terbendung lagi untuk memuntahkan lahar dingin yang tak pernah habis-habisnya. Entah sudah berapa liter lahar dingin yang ditumpahkan oleh kedua mataku ini. Dengan kondisi yang lemah, ibunya memeluk anaknya dengan erat seakan tak rela atas kepergian Zuhriyah yang dianggapnya terlalu cepat.
“Tuhan, kini wanita yang kucintai telah pergi untuk selamanya. Dia telah kembali kepada-Mu. Terimalah dia di sisi-Mu ya Allah …” ujarku di samping makam wanita yang kucintai itu. Pelan-pelan air mata ini kembali membasahi pipiku yang tembem ini. Tulang ini rasanya sudah tak bersum-sum lagi, otot-otot ini serasa tak mempunyai kekuatan untuk menggerakkan seluruh anggota tubuhku. Tak tergambarkan kesedihanku pada saat itu.
“Aku berjanji akan mengingat kata-kata terakhirmu, Insyaallah aku akan menjaga shalatku, terima kasih atas semua nasehatmu kepadaku sayang. Kehadiranmu di sisiku membawa banyak perubahan walaupun karena besarnya cintaku padamu, aku sedikit melupakan Tuhan. Tapi itu salahku, bukan salahmu. Engkau wanita yang solehah.”

Kini aku sadar, cintaku kepadanya selama ini sangat berlebihan melebihi cintaku kepada Allah Swt. Allah sangat menyayangi hambanya. Mungkin dengan Allah mengambil Zuhriyah dan menjauhkannya dariku, bisa membuat diriku semakin mendekatkan diri kepada Allah. Aku memang salah, seharusnya aku tidak terlalu mencintainya sebelum aku menikah dengannya. Aku juga seharusnya tidak berpacaran, karena itu sangat di larang dalam Agama Islam.
“Huh, Menyesal sungguh tak ada gunanya.” Gumamku dalam hati sambil memejamkan kedua bola mataku yang tak henti-hentinya mengucurkan air mata.
Aku bersyukur, dibalik semua ini ternyata ada hikmahnya. Sekarang aku tidak lagi memikirkan cinta dunia, terutama kepada makhluk Allah. Aku kini lebih focus kepada Kuliahku dan Aku juga sudah tidak membuat Tuhan cemburu karena aku sudah tidak lebih mencintai makhluk-Nya daripada mencintai Allah Swt. Mungkin jika ini tidak terjadi, aku akan tetap terbuai dalam cinta dunia, mungkin ruang di hatiku akan sedikit untuk Allah. Sehingga aku selalu terjajah oleh cinta seorang wanita yang bukan muhrim yang pada akhirnya menguasai diriku.

Aku akan selalu berusaha menjadi laki-laki yang baik, agar kelak mendapatkan wanita yang baik-baik pula seperti Zuhriyah yang kini sudah tenang di sisi-Nya. Namun aku tak mau berpacaran, aku takut kepada Allah, karena kini aku tahu pacaran adalah hubungan yang tidak diridhoi Allah. Aku yakin Allah akan menunjukan jalan kepada ku akan kehidupanku selanjutnya.

Setelah berpisah darinya, aku semakin mengerti arti cinta. Cinta yang hakiki hanya kepada Allah. Sedangkan cinta kepada makhluknya hanyalah sementara. aku tidak boleh mencintai makhluk-Nya melebihi cintaku kepada-Nya. Aku berdoa agar kelak aku dapat mencintai seorang wanita yang cintanya kepadaku tidak melebihi cinta-Nya kepada Allah.

Sesungguhnya apa yang kita anggap baik belum tentu baik menurut Allah. Begitu juga sebaliknya, apa yang kita anggap buruk, belum pasti buruk menurut Allah. Kita harus yakin, Allah pasti mengetahui apa yang terbaik buat hamba-Nya. Yang harus kita lakukan sebagai hamba Allah hanyalah Berdo’a, Usaha, Ikhtiar, dan Tawakal.

Musibah ini kunamai nahkoda, Zuhriyah kunamai perahu. Aku adalah penumpangnya. Perahu akan turut kemana nahkodanya pergi. Nahkoda akan mengarahkan kemana perahu tersebut pergi. Perahu itu membawa sang penumpang ke sebuah tempat yang dapat membuat sang penumpang lebih dapat mendekatkan diri kepada Allah, walaupun harus mengorbankan dirinya terhempas oleh hentaman ombak di lautan. Perahu itu kunamai “Safinah Mahabbah” (Perahu Cinta). Karena perahu tersebut telah mengorbankan diri serta cintanya untuk keselamatan penumpangnya serta kembali kepada cinta yang hakiki yaitu cinta kepada Allah, Rasul, serta jihad di jalan Allah. Semoga Bermanfaat !

*** TAMAT ***

Rabu, 01 Februari 2017

AKU INGIN BERJILBAB SEPERTI KAKAK (... KISAH NYATA MENYENTUH HATI ...)

Posted By: Yusri Kombih

ha



Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ...

Ada segores pedih saat ku ukir namamu dik…, Perih. Seakan ribuan belati menusuk ke hati, meninggalkan gumpalan sedih di lubang rasaku.. Penyesalan yang tak berujung, yang membuatku merutuki diri ini yang begitu ego diri. Allah…, Ampuni aku.. Adik, maafkan kakak….

Aku mengenalmu pertama kali ketika kami masih berpakaian putih abu-abu, dan berlanjurt di tingkat kuliah. Aku masih teringat sinar matamu saat aku memasuki kelasmu, dan kamu mengajak kami dan teman-temanmu memanfaatkan waktu kalian di sela waktu luang dalam sebuah majlis ilmu. Kajian jum’at, yang rutin ku jalankan bersama teman-teman akhwatku di rohis.

Sayangnya, sepertinya teman-temanmu tidak begitu merespon, mereka lebih suka menghabiskan waktunya dengan bergosip dan hal-hal yang tidak bermanfaat, tapi kamu berbeda. Kamu terlihat istimewa. Kamu datang, dengan wajah penuh riang. Dik, sampai sekarang aku masih ingat senyuman yang tak penah lepas dari wajahmu.

Senyuman yang dapat menghilangkan segala penat dan lelahku karena tugas-tugas yang menumpuk, program kerja di rohis yang begitu padat, rapat-rapat dan pertemuan yang begitu melelahkan. Tapi kamu…, yah kamu tetap riang dan seolah mengajarkan kami kakak-kakakmu untuk tetap semangat dan menikmati dunia dengan riang.

Kamu semakin dekat pada kami, kamu begitu mudah menyerap segala pengetahuan yang kami berikan kepadamu. Kamu cerdas dik. Mungkin karena belajar dengan hati, kamu begitu mudah menerima kebaikan. Kamu hanif dik, hatimu begitu lembut dengan kebenaran… Allahu akbar, aku malu dik saat menyadari betapa banyak kesombongan di hati ini, tak seperti kau yang sangat bersahaja.

Aku mulai menyadari, dirimu sangat berbeda dengan teman-temanmu. Kamu begitu dekat dengan kami, senior-seniormu, bahkan sangat manja, berbeda dengan teman-temanmu yang cukup segan kepada kami. 

Tapi aku suka sifatmu dik, aku seolah memiliki adik baru. Kamu sangat perhatian pada kami, terutama padaku. Itu yang ku rasa dulu, setiap di sela jam istirahat, kamu pasti selalu membawa coklat untukku, dan berbisik padaku:

“Kak, jangan bilang sama kak iva yah, aku cuma kasih kakak. He he he.” Katamu dengan wajah penuh rahasia. Aku tertawa, menyambutnya juga dengan wajah tak kalah licik. Ha ha ha ( mb.iva mungkin kamu ingat itu…lucunya adik kita yang satu ini.

Tapi ternyata aku salah, kau melakukan hal yang sama pada mb.iva juga. Kami tertipu, tetapi kami tetap senang. Begitulah caramu membuat kami merasa begitu kamu cintai. Allah, begitu banyaknya dia mengajari kami.Hari itu kamu mendatangiku, dengan wajah penuh semangat lebih dari biasanya. Kamu bertanya kepadaku:

“Kak, aku mau kayak kakak. Menutup aurat dengan sempurna.” Allahu Akbar ! aku menyambut dengan begitu bahagia. Aku sampaikan pada uphi, Hilda dan ade, serta akhwat-akhwat yang lainnya. 

Mereka merespon dengan begitu bahagia. Kau memintaku menemanimu membeli kain, tentu saja aku mau. Subhanallah, bahagianya hatiku saat itu. Serasa tiada hari terindah melebihi ketika aku pergi bersamamu pada hari itu.

Beberapa hari kemudian kamu datang dengan wajah cemas. Katamu, keluargamu tidak senang dengan perubahanmu, bahkan mereka pernah menyembunyikan jilbabmu. Kamu pun kini ragu dengan pilihanmu. Aku mencoba meyakinkanmu bahwa Allah lah sebaik-baik penolong. Tak ka nada yang bisa menyakitimu dalam lindungan-Nya. Kamu menangis.

Kemudian aku mengajakmu ke mushola. Kita shalat dhuha, dan selesai shalat kamu berkata mantap, “Aku mantap untuk memakainya kak.” Subhanallah, ya Allah, Engkau penguasa hati makhluk-Mu…

Keesokan harinya, kamu dengan jilbab lebarmu, dengan wajah yang sangat berbahagia. Aku memeluk dan menciummu dengan penuh sayang. Aku mencubit pipi tembemmu yang besemu merah, semua akhwat memelukmu dengan bahagia, ahlan wa sahlan yaa ukhti, semoga kamu terjaga dalam busana syar’i ini.

Kamu pun smakin dekat padaku, sangat perhatian pada kami smua, tak pernah seingatku kamu tak datang menjengukku setiap kali aku sakit. Kamu selalu datang walau dalam kondisi sangat lelah.. Dik, kakak sangat bangga padamu..

Kamu semakin aktif, semua amanah yang diberikan mampu kamu kerjakan dengan penuh semangat. Bahkan, rasanya tanpa kamu, kami sangat kerepotan. Kami sangat sayang padamu dik.

Tak terasa 2 tahun kebersamaan kita…. Aku lulus, dan harus meninggalkan kampus kita tercinta, meninggalkan rohis MPM KARAMAH (Mahasiswa Pencinta -Mushallah Kerukunan Remaja Mushallah Aliyah) yang kami rintis dari awal dengan penuh perjuangan, akhwat-akhwatku, adik-adik mentorku, perjuangan kami. Aku harus meninggalkan mereka semua.

Termasuk kamu dik. Kamu menangis, kamu meminta kami agar tak meninggalkan kalian. Yah, kami berjanji akan lebih sering mengunjungi. Tak akan berhenti memperhatikanmu dan yang lain. Tapi, ternyata….

Semua hanya janji, kami masuk dalam lingkungan kampus, yang kesibukannya menumpuk, terlebih aku mengambil fakultas paling sibuk di antara semua fakultas yang ada… Aku tak menepati janji, aku ingkar padamu dik. Allah, ampuni aku…

Aku melupakanmu, aku mulai sibuk di lembaga dakwah kampusku, yang juga meminta perhatian yang sangat besar. Kuliah-kuliahku, lab-labku yang membuatku tak punya waktu untuk yang lain, termasuk padamu. Aku mulai melupakanmu, tapi kamu sering sekali menelponku.

Yah…telpon-telponmu dik.. .Allah, jika mengingat ini, sungguh penyesalanku seakan tak ada habisnya. Kamu begitu sering menelponku, menceritakan semua keadaan di SMU kita, tentang keluargamu yang semakin menentangmu, tentang saudaramu yang sangat membencimu, tentang tidak adanya orang yang mau mendengarkan seluruh keluh kesahmu.

Bahkan terkadang, kamu meneleponku sampai dua jam. Dan aku yang begitu egois, mulai bosan dengan semua keluhanmu. Aku yang terkadang begitu lelah dengan rutinitasku, yang hanya mencuri waktu untuk istirahat, juga harus terganggu dengan teleponmu. Ampuni hamba ya Allah…, aku mulai menghindarimu, tak ku jawab telepon-teleponmu, tapi kamu sekalipun tidak marah. Ya Allah…

Suatu hari, kamu datang ke rumah dengan wajah letih, tak ku temukan keceriaan itu lagi. Ada yang aneh pada dirimu dik, aku sangat terkejut melihatnya…

Wajahmu yang dulu penuh semangat dan selalu dihiasi senyum,keceriaan, yang biasanya mampu mengobarkan semangat orang-orang di sekitarmu. Kini kamu begitu berbeda, wajahmu begitu pucat, loyo, tanpa semangat hidup seperti dulu.

Tubuhmu dik…, Allah… ada apa dengan dirimu dik ? dulu kamu begitu gemuk menggemaskan, dengan pipi tembem yang sangat lucu hingga matamu yang sipit akan semakin kecil saat dirimu tersenyum. 

Dulu kami (akhwat-akwhat) di rohis sering menyebutmu “Roti donatku” dan kamu akan membalasnya dengan wajah cemberut, yang kemudian diikuti dengan merajuk… tapi kini, kamu sangat kurus dik… sakit kah dirimu ? ini memang pertemuan pertama kita setelah aku lulus, selama ini kita hanya berkomunikasi melalu telepon..

Dulu setiap kali kita berkumpul kamu akan menceritakan semua pengalamanmu padaku, bibirmu akan terus berceloteh tanpa henti, dengan riang dan semangat… aku selalu menjadi pendengar setiamu… tapi kini kamu hanya diam membisu, tercenung tanpa berkata apa-apa….

Saat ku tanya kamu dari mana ? kamu hanya menjawab dengan singkat bahwa kamu hanya kebetulan lewat setelah pulang tarbiyah… lalu selebihnya kamu hanya diam… Dik, tahukah kau, betapa banyak yang ingin ku tanyakan kepadamu? tapi aku tak ingin menambah penatmu dengan pertanyaan-pertanyaanku. Jadi ku biarkan saja kamu dalam diammu… hingga akhirnya kamu tertidur… Aku menatap wajahmu yang teduh dalam tidurmu… dik, sebenarnya apa yang terjadi denganmu ?

Lalu kamu pun pamit, pergi tanpa sedikitpun cerita sebagaimana lazimnya….

Aku kembali dalam duniaku, Kuliahku, labku, amanah dakwahku… Dan.. Ya Rabb, aku kembali melupakanmu dik, hingga kemudian aku menerima sebuah telepon dari temanmu, “Kak, Diana sakit, sudah 1 minggu dia tidak masuk sekolah, kayaknya parah, kalau bisa kakak sempatkan waktu untuk menjenguknya, dia selalu menanyakan kakak dan akhwat-akhwat yang lain.” aku tercenung di ujung telepon, tak tahu harus berbuat apa..

Saat aku dan akhwat-akhwat lain tiba di rumahmu, segera kami ke kamarmu, kamar sempit yang pengap. Hatiku miris…, aku baru kali ini ke rumahmu dik. Rabb, aku baru menyadari betapa aku tidak memperhatikan saudaraku yang memberiku parhatian luar biasa selama ini. 

Hatiku perih melihat keadaanmu, tubuhmu begitu kurus seperti seonggok tulang berselimut kulit, aku bahkan tak mampu mengenalimu, tubuhku bergetar, dadaku sesak menahan tangis, air mataku jatuh tak mampu ku bendung..

Aku mendekatimu, kamu berusaha tersenyum tapi yang ku lihat adalah ringisan menahan sakit. Aku mencoba menahan perasaanku. Aku memelukmu, mencium keningmu, akhwat yang lain pun melakukan yang sama… kamu tersenyum, mencoba menggapai tanganmu, ku raih dan ku genggam tangan kurusmu… ku mencoba menghiburmu dengan berbagai cerita lucu, kamu tertawa, akwat-akhwat pun tertawa, tapi aku menangis di sini.

Di lubuk hati terdalamku, meratapi keacuhanku…,Ketika ingin pamit, kau ingin menahanku, maafkan kakak dik, harusnya dulu aku menemanimu lebih lama dalam kesakitanmu…

Aku mencoba bertanya pada ibumu kenapa kamu tidak dibawa ke Rumah Sakit, dan kembali ku temukan jawaban yang menghempaskan perasaanku hingga hancur berkeping-keping, kau menderita kanker kelenjar getah bening. Dan karena ekonomi, tak punya biaya, kamu hanya di bawa ke puskesmas. Kamu sudah pernah dibawa ke RS tapi di keluarkan karena tak punya biaya…

Rabbana, apa gunaku selama ini, inikah ukhuwah yang aku dengang-dengunkan selama ini? inikah ikatan persaudaraan bagai satu tubuh yang selalu aku ikrarkan dalam setiap majelis yang aku bawakan? inikah kasih sayang yang aku serukan? Tidak, aku harus melakukan sesuatu untukmu dik… 

Saat itu segera aku bertanya kepada kakakku, dan katanya aku harus mengambil surat keterangan tidak mampu untukmu agar kamu dapat segera di rawat secara gratis…Tunggu aku, aku akan berusaha… ku bisikkan padamu bahwa aku pasti kembali…

Aku kembali menjengukmu dik bersama hilda dan uphi serta beberapa akhwat lain. Aku belum berhasil menyelesaikan urusan surat miskin itu, ternyata harus dengan berbagai macam prosedur, tapi aku akan berusaha dik…Kali ini kondisimu semakin memburuk. Aku memelukmu dan dan kamu berkata “Ini kakak yang cengeng itu yah?” kamu tersenyum.. 

Aku terperanjat, Rabbana… Dik apa kamu sekarang tidak bisa melihatku ? kamu tersenyum dan berkata, “Kak, afwan kalo bicara suaranya di kencengin yah, aku sudah tidak bisa melihat dan mendengar lagi.”

Tubuhku bergetar, aku tahu wajahku pucat pasi saat itu, aku pun tak bisa membendung tumpahnya air mataku, aku menangis. Para akhwat menarikku menjauh darimu. Dalam pelukan akwat, aku tumpahkan segala rasaku, sedihku, penyesalanku, dan ketakutanku… aku takut kau tak mampu bertahan dik… sungguh aku sangat takut kehilanganmu.

Tiba-tiba kamu tidak sadarkan diri, tak lama kemudian kamu siuman lagi, begitu seterusnya…

Allah, kurasakan aroma sakaratul maut semakin dekat di ruangan ini… ku raih tangan ringkihmu.. inilah tangan yang dulu sering memelukku dari belakang, menutup mataku dan menyuruhku menebak siapa dia, dan tentu saja aku tahu, tak ada tangan yang segemuk punyamu dik, saat aku menjawab, “Pasti si roti donat” kamu tertawa… tapi kini tangan itu tak mampu bergerak lagi… Aku usap air mata di pipimu dik, kamu menangis, apakah kamu merindukanku, merindukan kami saudaramu, yang telah melupakanmu ? sudihkah kau memaafkan kami dik ?

Aku mendekatkan bibirku ke telingamu, aku tak tahu apakah saat itu kau sadar atau tidak. Aku bisikkan kalimatullah. Aku menuntunmu menyebut nama-Nya “Laa Ilaaha illallaah…laa Ilaaha illallah…” bibirmu bergerak dan aku mendengarmu berkata “Allah…Allah..” 

Rabbana inikah sakaratul maut… sesakit inikah…??? Ya Rabbal izzati… Allahummagfirlahu, Allahummarhamhu… Ampunilah dia, Rahmatilah dia…Aku baru selesai shalat subuh, yang kemudian aku lanjutkan dengan Al-Ma’tsurat dzikir pagi. Hari ini aku berencana mengambil surat keterangan miskin untukmu, yang dijanjikan selesai hari ini, aku sangat bersemangat.

Kamu akan segera di rawat dik. Saat baru saja aku hendak mandi, telepon berbunyi, ternyata dari ukhti Uni, mungkin dia mengajak menjengukmu lagi, tentu saja aku mau, tapi aku salah, berita yang aku terima sungguh sangat membuatku terguncang.. “Ukhti, adik kita Diana… Innalillahi wa innailaihi Rojiun”

Aku tak mau berburuk sangka ” Uni, kamu ngomong apa sih ? ada apa ? ngomongnya jangan nangis gitu dong…?” kataku mencoba menenangkan diri .

“Diana ukh, dia sudah nggak ada, dia meninggal tadi malam jam 01.00, kita doakan yah.. nanti kita sama-sama melayat ke rumahnya” 

Rabbana… aku terdiam, tak mampu berkata-kata, serasa ada benjolan besar di tenggorokanku yang siap meledak, aku terdiam, tak ku hiraukan uni yang terus memanggilku dan terus menyuruhku bersabar.. aku terduduk.. menangis.. aku tumpahkan segala kesedihanku, penyesalanku, keacuhanku, ketakpedulianku, keegoisanku…

Wajahmu terus berkelabat dalam benakku, senyummu, tawamu, manjamu, semangatmu… aku terus menangis…

Baru saja jenazahmu di bawa dari rumahmu. Ibumu sejak tadi tak sadarkan diri. Kakakmu yang kamu bilang membencimu ternyata sangat mencintaimu, dia yang merawatmu selama kamu sakit. Dik, begitu banyak orang yang datang melayatmu, menghantar jenazahmu, mensholatimu.. .aku hanya bisa diam menatap iringan membawamu ke tempat pembaringanmu meninggalkan kami…

Dik, kakak tak mampu menemanimu lagi seperti dulu, tak akan ada lagi telepon-teleponmu dan smsmu yang kini dan hingga kini ku rindukan dan selalu ku nanti tapi aku tahu hanya akan berbalas kesedihan. Tak ada lagi coklat-coklat kejutan rasa cintamu pada kami… Tak ada lagi cerita-ceritamu tentang masalah-masalahmu yang kini dan hingga kini selalu ku nantikan dan ku tahu hanya berbalas kecewa.

Dik, maafkan kakak, Semoga kau tenang disana, semoga kau dapat menahan himpitan kubur yang kita semua akan merasakannya. Rabbana… Lapangkanlah kuburnya, terangilah dengan cahaya-Mu, jauhkanlah dia dari adzab kubur… Bukakanlah pintu jannah-Mu, sungguh dia adalah mujahidah-Mu, dia adalah tentara yang memperjuangkan agama-Mu..

Ku tahu saat ini begitu banyak dari kami menangisi kepergianmu mujahidah, namun aku pun yakin, ribuan penduduk langit bersorak menyambut kedatanganmu dan ribuan malaikat menaungimu dalam hamparan sayapnya… dalam kedamaian di sisi Rabbmu… Pergilah adikku… kakak ridho..

“Kak, apa aku juga bisa disebut mujahidah ? aku kan tidak berperang” …tertawa…

“Tentu saja dik, setiap orang yang memperjuangkan agama Allah dan mati dalam keyakinan pada-Nya adalah seorang mujahid-mujahidah.” …

“Kak, aku mau berjilbab lebar seperti kakak, pantas nggak yah? aku kan gendut…?” …katamu tersenyum malu…

“Kau akan sangat cantik dengan busana syar’i dik, masih adakah yang lebih penting dari kecantikan di mata Allah…?”

….Kau tertawa…

“Aku mauuuuu cantiiik di mata Allah…” …Tertawa riang….

*** Untuk adikku Diana tenanglah disana, dalam perlindunganNya, tak akan ada yang mampu menyakitimu dik…” 

Wallahu a'lam bishshawab, ..
... Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati kita yang telah lama terkunci ...

~ o ~

Semoga bermanfaat dan Penuh Kebarokahan dari Allah ...
Silahkan DICOPAS atau DI SHARE jika menurut sahabat note ini bermanfaat ....

Cerita Cinta Menyentuh Hati - Aku Ingin Mencintaimu Dengan Sederhana


BY ADMIN SELASA, 10 APRIL 2012 1 COMMENT
Setiap cinta memiliki cerita yang berbeda-beda , ada yang menjalani cinta dengan keadaan yang baik namun juga ada yang dalam keadaan buruk misalkan saja tidak di setujui oleh orang tua dll. Cerita cinta yang menyentuh hati biasanya akan membuat pelakunya selalu ingat dan tak akan terlupakan karena sangat berkesan, itulah jalan cerita yang di bawa setiap orang berbeda-beda dan kita harus tetap mensyukuri setiap apa yang ada pada diri kita.

Bagi kalian yang ingin membaca cerita cinta menyentuh hati mungkin cerita yang nanti akan saya share kepada anda dapat membuat anda terpaku ( sok tau nih saya.hheee ) , Inilah lakon / perjalanan cinta yang memiliki cerita cinta menyentuh hati bagi siapa saja yang membacanya. Jadi nikmatilah cerita cinta di bawah ini :


Aku memandang kalender yang terletak di meja dengan kesal. Sabtu, 30 Maret 2002, hari ulang tahun perkawinan kami yang ketiga. Dan untuk ketiga kalinya pula Aa’ lupa. Ulang tahun pertama, Aa’ lupa karena harus rapat dengan direksi untuk menyelesaikan beberapa masalah keuangan perusahaan. Sebagai Direktur keuangan, Aa’ memang berkewajiban menyelesaikan masalah tersebut. Baiklah, aku maklum. Persoalan saat itu memang lumayan pelik.

Ulang tahun kedua, Aa’ harus keluar kota untuk melakukan presentasi. Kesibukannya membuatnya lupa. Dan setelah minta maaf, waktu aku menyatakan kekesalanku, dengan kalem ia menyahut,” Dik, toh aku sudah membuktikan cintaku sepanjang tahun. Hari itu tidak dirayakan kan tidak apa-apa. Cinta kan tidak butuh upacara…”

Sekarang, pagi-pagi ia sudah pamit ke kantor karena harus menyiapkan beberapa dokumen rapat. Ia pamit saat aku berada di kamar mandi. Aku memang sengaja tidak mengingatkannya tentang ulang tahun perkawinan kami. Aku ingin mengujinya, apakah ia ingat atau tidak kali ini. Nyatanya? Aku menarik napas panjang.

Heran, apa sih susahnya mengingat hari ulang tahun perkawinan sendiri? Aku mendengus kesal. Aa’ memang berbeda dengan aku. Ia kalem dan tidak ekspresif, apalagi romantis. Maka, tidak pernah ada bunga pada momen-momen istimewa atau puisi yang dituliskan di selembar kertas merah muda seperti yang sering kubayangkan saat sebelum aku menikah.

Sedangkan aku, ekspresif dan romantis. Aku selalu memberinya hadiah dengan kata-kata manis setiap hari ulang tahunnya. Aku juga tidak lupa mengucapkan berpuluh kali kata I love you setiap minggu. Mengirim pesan, bahkan puisi lewat sms saat ia keluar kota. Pokoknya, bagiku cinta harus diekspresikan dengan jelas. Karena kejelasan juga bagian dari cinta.

Aku tahu, kalau aku mencintai Aa’, aku harus menerimanya apa adanya. Tetapi, masak sih orang tidak mau berubah dan belajar? Bukankah aku sudah mengajarinya untuk bersikap lebih romantis? Ah, pokoknya aku kesal titik. Dan semua menjadi tidak menyenangkan bagiku. Aku uring-uringan. Aa’ jadi benar-benar menyebalkan di mataku. Aku mulai menghitung-hitung waktu dan perhatian yang diberikannya kepadaku dalam tiga tahun perkawinan kami. Tidak ada akhir minggu yang santai. Jarang sekali kami sempat pergi berdua untuk makan malam di luar. Waktu luang biasanya dihabiskannya untuk tidur sepanjang hari. Jadilah aku manyun sendiri hampir setiap hari minggu dan cuma bisa memandangnya mendengkur dengan manis di tempat tidur.

Rasa kesalku semakin menjadi. Apalagi, hubungan kami seminggu ini memang sedang tidak baik. Kami berdua sama-sama letih. Pekerjaan yang bertumpuk di tempat tugas kami masing-masing membuat kami bertemu di rumah dalam keadaan sama-sama letih dan mudah tersinggung satu sama lain. Jadilah, beberapa kali kami bertengkar minggu ini.

Sebenarnya, hari ini aku sudah mengosongkan semua jadual kegiatanku. Aku ingin berdua saja dengannya hari ini dan melakukan berbagai hal menyenangkan. Mestinya, Sabtu ini ia libur. Tetapi, begitulah Aa’. Sulit sekali baginya meninggalkan pekerjaannya, bahkan pada akhir pekan seperti ini. Mungkin, karena kami belum mempunyai anak. Sehingga ia tidak merasa perlu untuk meluangkan waktu pada akhir pekan seperti ini.

”Hen, kamu yakin mau menerima lamaran A’ Ridwan?” Diah sahabatku menatapku heran. ”Kakakku itu enggak romantis, lho. Tidak seperti suami romantis yang sering kau bayangkan. Dia itu tipe laki-laki serius yang hobinya bekerja keras. Baik sih, soleh, setia… Tapi enggak humoris. Pokoknya, hidup sama dia itu datar. Rutin dan membosankan. Isinya cuma kerja, kerja dan kerja…” Diah menyambung panjang lebar. Aku cuma senyum-senyum saja saat itu. Aa’ memang menanyakan kesediaanku untuk menerima lamaranku lewat Diah.

”Kamu kok gitu, sih? Enggak senang ya kalau aku jadi kakak iparmu?” tanyaku sambil cemberut. Diah tertawa melihatku. ”Yah, yang seperti ini mah tidak akan dilayani. Paling ditinggal pergi sama A’ Ridwan.” Diah tertawa geli. ”Kamu belum tahu kakakku, sih!” Tetapi, apapun kata Diah, aku telah bertekad untuk menerima lamaran Aa’. Aku yakin kami bisa saling menyesuaikan diri. Toh ia laki-laki yang baik. Itu sudah lebih dari cukup buatku.

Minggu-minggu pertama setelah perkawinan kami tidak banyak masalah berarti. Seperti layaknya pengantin baru, Aa’ berusaha romantis. Dan aku senang. Tetapi, semua berakhir saat masa cutinya berakhir. Ia segera berkutat dengan segala kesibukannya, tujuh hari dalam seminggu. Hampir tidak ada waktu yang tersisa untukku. Ceritaku yang antusias sering hanya ditanggapinya dengan ehm, oh, begitu ya… Itupun sambil terkantuk-kantuk memeluk guling. Dan, aku yang telah berjam-jam menunggunya untuk bercerita lantas kehilangan selera untuk melanjutkan cerita.

Begitulah… aku berusaha mengerti dan menerimanya. Tetapi pagi ini, kekesalanku kepadanya benar-benar mencapai puncaknya. Aku izin ke rumah ibu. Kukirim sms singkat kepadanya. Kutunggu. Satu jam kemudian baru kuterima jawabannya. Maaf, aku sedang rapat. Hati-hati. Salam untuk Ibu. Tuh, kan. Lihat. Bahkan ia membutuhkan waktu satu jam untuk membalas smsku. Rapat, presentasi, laporan keuangan, itulah saingan yang merebut perhatian suamiku.

Aku langsung masuk ke bekas kamarku yang sekarang ditempati Riri adikku. Kuhempaskan tubuhku dengan kesal. Aku baru saja akan memejamkan mataku saat samar-samar kudengar Ibu mengetuk pintu. Aku bangkit dengan malas.

”Kenapa Hen? Ada masalah dengan Ridwan?” Ibu membuka percakapan tanpa basa-basi. Aku mengangguk. Ibu memang tidak pernah bisa dibohongi. Ia selalu berhasil menebak dengan jitu.

Walau awalnya tersendat, akhirnya aku bercerita juga kepada Ibu. Mataku berkaca-kaca. Aku menumpahkan kekesalanku kepada Ibu. Ibu tersenyum mendengar ceritaku. Ia mengusap rambutku. ”Hen, mungkin semua ini salah Ibu dan Bapak yang terlalu memanjakan kamu. Sehingga kamu menjadi terganggu dengan sikap suamimu. Cobalah, Hen pikirkan baik-baik. Apa kekurangan Ridwan? Ia suami yang baik. Setia, jujur dan pekerja keras. Ridwan itu tidak pernah kasar sama kamu, rajin ibadah. Ia juga baik dan hormat kepada Ibu dan Bapak. Tidak semua suami seperti dia, Hen. Banyak orang yang dizholimi suaminya. Na’udzubillah!” Kata Ibu.

Aku terdiam. Yah, betul sih apa yang dikatakan Ibu. ”Tapi Bu, dia itu keterlaluan sekali. Masak Ulang tahun perkawinan sendiri tiga kali lupa. Lagi pula, dia itu sama sekali tidak punya waktu buat aku. Aku kan istrinya, bu. Bukan cuma bagian dari perabot rumah tangga yang hanya perlu ditengok sekali-sekali.” Aku masih kesal. Walaupun dalam hati aku membenarkan apa yang diucapkan Ibu.

Ya, selain sifat kurang romantisnya, sebenarnya apa kekurangan Aa’? Hampir tidak ada. Sebenarnya, ia berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakanku dengan caranya sendiri. Ia selalu mendorongku untuk menambah ilmu dan memperluas wawasanku. Ia juga selalu menyemangatiku untuk lebih rajin beribadah dan selalu berbaik sangka kepada orang lain. Soal kesetiaan? Tidak diragukan. Diah satu kantor dengannya. Dan ia selalu bercerita denganku bagaimana Aa’ bersikap terhadap rekan-rekan wanitanya di kantor. Aa’ tidak pernah meladeni ajakan Anita yang tidak juga bosan menggoda dan mengajaknya kencan. Padahal kalau mau, dengan penampilannya yang selalu rapi dan cool seperti itu, tidak sulit buatnya menarik perhatian lawan jenis.

”Hen, kalau kamu merasa uring-uringan seperti itu, sebenarnya bukan Ridwan yang bermasalah. Persoalannya hanya satu, kamu kehilangan rasa syukur…” Ibu berkata tenang.

Aku memandang Ibu. Perkataan Ibu benar-benar menohokku. Ya, Ibu benar. Aku kehilangan rasa syukur. Bukankah baru dua minggu yang lalu aku membujuk Ranti, salah seorang sahabatku yang stres karena suaminya berselingkuh dengan wanita lain dan sangat kasar kepadanya? Bukankah aku yang mengajaknya ke dokter untuk mengobati memar yang ada di beberapa bagian tubuhnya karena dipukuli suaminya?

Pelan-pelan, rasa bersalah timbul dalam hatiku. Kalau memang aku ingin menghabiskan waktu dengannya hari ini, mengapa aku tidak mengatakannya jauh-jauh hari agar ia dapat mengatur jadualnya? Bukankah aku bisa mengingatkannya dengan manis bahwa aku ingin pergi dengannya berdua saja hari ini. Mengapa aku tidak mencoba mengatakan kepadanya, bahwa aku ingin ia bersikap lebih romantis? Bahwa aku merasa tersisih karena kesibukannya? Bahwa aku sebenarnya takut tidak lagi dicintai?

Aku segera pamit kepada Ibu. Aku bergegas pulang untuk membereskan rumah dan menyiapkan makan malam yang romantis di rumah. Aku tidak memberitahunya. Aku ingin membuat kejutan untuknya.

Makan malam sudah siap. Aku menyiapkan masakan kegemaran Aa’ lengkap dengan rangkaian mawar merah di meja makan. Jam tujuh malam, Aa’ belum pulang. Aku menunggu dengan sabar. Jam sembilan malam, aku hanya menerima smsnya. Maaf aku terlambat pulang. Tugasku belum selesai. Makanan di meja sudah dingin. Mataku sudah berat, tetapi aku tetap menunggunya di ruang tamu.

Aku terbangun dengan kaget. Ya Allah, aku tertidur. Kulirik jam dinding, jam 11 malam. Aku bangkit. Seikat mawar merah tergeletak di meja. Di sebelahnya, tergeletak kartu ucapan dan kotak perhiasan mungil. Aa’ tertidur pulas di karpet. Ia belum membuka dasi dan kaos kakinya.

Kuambil kartu ucapan itu dan kubuka. Sebait puisi membuatku tersenyum.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Lewat kata yang tak sempat disampaikan

Awan kepada air yang menjadikannya tiada

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Dengan kata yang tak sempat diucapkan

Kayu kepada api yang menjadikannya abu. *

For vieny, welcome to your husband’s heart.

*dikutip dari Aku ingin mencintaimu dengan sederhana karya Sapardi Djoko Damono.



Sumber : Majalah Ummi, edisi 12/XIII/2002 & http://ceritacinta.net/2007/11/01/aku-ingin-mencintaimu-dengan-sederhana/

Kisah nyata Cerita tentang Cinta sejati yang berakhir sedih.


 Kali ini saya akan menuliskan sbuah ceita yang saya saring dari para narasumber yang dngan kebaikannya mau berbagi cerita dngan kita semua, ini adalah kisah nyata dari sepasang kekasih yg tinggaal di kota BATAM,,
Jngan lupa sebelum membaca siapkan tisu dulu ea?? Hehehehe.
Beginilah kisahnya.
Ă€dit begitulah nama anak remaja yang bernama lengkap Aditya saputra ini, sudah 4 tahun dia menjalani hubungan bersama kekasih nya putri {putrie pabella}..
Hubungan yang begitu romantiss, harmonis, damai ,tentram , penuh ketulusan dan senyum kebahagiaan diantara mereka.. mereka masih pelajar di salah satu universitas tarnama di pulau BATAM, di kampusnya, adit dikenal sebagai anak laki-laki yang periang dan penuh keusilan terhadap teman teman nya.. dibalik semua keusilannya sifat adit jauh berbeda terhadap putri kekasih nya itu. Adit begitu sopan dan penuh kesabaran menghadapi keegoisan kekasih nya,, karna adit begitu tulus mencintai kekasihnya itu..
“baginya tidak ada seorang wanita manapun yang sanggup membuat dia tersenyum  dalam menjalani kehidupan ini”
setiap hari adit selalu menunggu putri di depan pintu gerbang kampus untuk mengantarkannya pulang.. sampai pada hari itu adit mendapat tugas menjadi panitia ospek di kmpus..Waktu itu sekitar jam 14.45 wib, adit dengan maksud mau minta ma’af, menelfon kekasih nya putri…….
Putri      : dengan lembut menjawab telfon dari adit.!! Hallo dit…..!!
Adit    : halo jg cynk.. maaf ea yank tadi aq dapat tugas dari pak ronal menjadi kakak pembimbing ospek di kampus q… jdi gk sempat jemput kamu.. gak papa kan,,??
Putri     : iya gak papa kok yank. (dengn jawaban sedikit kecewa )
Adit    : terus tadi kamu plg sama siapa ???
Putri     : sendirian aja kok yank!!
Adit    :  tadi sewaktu aq dijalan pulang aku liat cewek boncengan dengan cowok pake motor. N mereka mesra banget.. Itu kamu atau cuma perasaan aq aja yah??? Tanya adit krna bingung.
Putri      : knp kamu gk percaya gitu sih am q???  kan dah ku bilang aq plg gk sama siapa2, dan plg kuliah tdi aq gk ada keluyuran kok….. (menjawab dengan nada tinggi)
Adit     :syukurlah kalo ternyata begitu.( jawab  adit dgn hati yg masih penuh tanda Tanya {?}
Putri      :dengar ya aq tu paling gk suka dituduh2 yg enggak2..  apalagi ma kamu.
Adit    : koq kamu udh mulai kasar gini ma aq yank.? Klo bkn  kamu ya udah sih, Aku kan cm tanya baik2 ma km? Knp jwaban nya harus kek gitu.. aq ini cwo km. Bkn TKI loh yank.. jawab adit karna mau ngibur kekasih nya itu..
Putri      : terserah kamu aja. Gak penting.. tutt.,, tutt,, tuutt
telvon pun terputus begitu saja.
°^°^°^°^°^°^°^°°°^°^°^°^°^°^°^°^°^°^°^°^°^°^
Putri yg begitu perhatian.. tiba2 brubah smenjak itu. Putri jadi cuex dan terkesan gk peduli lagi ma hubungan mereka.
(Jelas saja putri brubah, Krna dia telah menemukan cwok yg mempunyai  materi lebih dri pada adit. )
Sampai2 putri pun telah lupa dengan hubungan mereka.  Hingga pada tnggal 16 januari, hari itu adalah hari yg d tnggu adit karna kekasih nya berulang tahun pada hari itu.
Adit bermaksud ingin memberi kejutan pada pitri,
Adit pun datng ke rumah putri tanpa memberi tau nya terlebih dahulu, sampai di rumah putri, dari kejauahan tampak seorang pemuda tampan sedang bercanda mesra dgn kekasih nya itu. “ah. Aq gk mau ada salah paham, plingan itu sepupu nya putri (tegas adit dlm hati ny) adit dngn perasaaan bahagia dan dengan bermodalkan senyuman itu datang  menghampiri pintu depan rmh putri.
Adit            : assalamua’alaikum put,,,
Putri            : walaikumsalam…….. mau ngapain kamu kesini..?
cwok itu       : siapa dia put..?
Putri            : oh .. kenalin dia temen putri.. dit kenalin ini cwo baru ku..?
Adit            : tiba2 tubuh nya menjadi kaku lemah tak berdaya mendengar ucapan kekasih nya itu, bagai mana tidak diri nya yg masih menyandang status pacar putri tiba2 harus mendengar dan menyaksikan lansung kenyataan pahit dari kekasihnya sendiri, serentak adit pun menghembus napas panjang sambil mengucapkan “aq kesini cman mau ucapin slamat ulang tahun buat kamu put.. dan q sudah nyiapkan kejutan spesial,,, tp nanti disaat yg tepat baru kamu buka yah. Jangan sekarng..
Putri              : udahlah, gak usah sok perhatian ma aku… aku gak butuh perhatian kamu kok..!!
Cwo itu       : emg nya kamu siapa.? Pake ngatur2 dia segala.. aq ajj cwo nya gk pernah ngatur2 si putri.
Adit            : (dengan tampang kecewa) aku cuma teman biasa nya koq bang..ya sudah kalo begitu aku pulang yah put.. moga bahagia..
°^°^°^°^°^°^°^°^°^°^°
Hari pun berganti, gk terasa udah dua bulan berlalu.
Adit anak yg periang dan usil itu pun brubah drastis menjadi pendiam, dua minggu kemudian adit tidak muncul di kampus dan rumah nya pun terlihat sepi, Ternyata adit sudah 2 minggu dirawat di rumah sakit. Dalam setengah kesadarannya adit selalu memanggil nama putri.. putri… dan putri..(kekasihnya) hingga pada akhir nya orang tua adit bercerita kpd sohib nya yang bernama dinal tentang nama putri yg slalu dipanggil2 nya..
ayah    : nal, kamu tau tidak tentang nama putri yg slalu dipanggil adit.?? Tanya ayah kpd dinal.
dinal    : iya yah, aku tau tentang nama itu.. nanti aku coba telvon dia dan minta dia untuk kesini.
ayah    : baiklah nal, terimakasih.”
dinal adalah teman karib adit, apa pun dilakukannya demi kebahagiaan teman nya itu, adit sering curhat tentang putri,, dan dia memang takut kehilang putri..
” seraya ayah nya pun masuk ke ruangan tempat adit di rawat, terihat suasana haru disana dengan ibu dan ka2k cewe nya yg sedikit demi sedikit menjatuhkan butiran air mata ke lantai melihat adit lemah tak berdaya..
°^°^°^°^°
Siang itu juga dinal menelvon putri.
dinal   : halo put,,, kamu bisa ke rs gk put?? kalo perlu aku jemput kamu sekarang juga put..??
Putri     : duh nal. Aku kan ada les tambahan, emang siapa yang sakit.?. Tanya putri dengan bingung.
dinal  : kamu gak tau yah kalo adit udah 2 minggu di rawat di rumah sakit..
Putri    : serius lah kamu nal..!! tuh kan dari tadi pagi aku memang ada perasaan yang gk enak ma dia..
dinal  : aq serius put.. dua hari ini dia slalu menyebut nama kamu, cepat lah kamu kesini put..
Putri    : iya nal aku ke rs sekarang,,,,
dengan tampang ketakutan dia menuju rs sambil berdoa untuk adit yg melemah.
Putri pun berlari menuju kamar adit yg sudah tampak ayah dan keluarga besar adit beserta dinal du2k di luar menanti kedatangaannya..
Putri   : assalamuailaikum..
Adit : adit pun tersadar karna mendengar suara putri. wa’alaikumsalam,,,  kamu tau darimana aku disini put?
Putri   : dinal yg kasi kabar ma aku.. kamu sakit apa dit?? Kenapa km masuk rs gak bilang2 sama aku..
Adit  : ini cm penyakit  biasa kok put.. aku gk bilang krna aq gk mau ganggu kbahagiaan mu ..
Putri   : gak ko dit..km gak akan buat aku terganggu.. sambil memegang tangan adit  dengan erat.
Adit : aku cuman ingin kamu tau ,, kalo aku sangat mencintai mu.. bahkan aku relakan hati ku demi kebahagian cinta mu.. “AKU MENCINTAIMU PUTRI” bahkan nanti, setelah aku pergi aku akan tetap mencintaimu. ( terang adit dengan suara yg begitu pelan )
Putri   : maaf kan aku ya dit?? Aku telah menghianati cinta kita, Aku khilaf dit.. ternyata cwo itu cuman berniat menyakiti aku,, menghancurkan hubungan kita,, selama ini aku tidak sadar kalo aku sudah punya kamu yg begitu tulus mencintai ku..
Adit ; aku  sudah memaafkan km kok put, aku cm ingin kamu tau kalo aku sangat menyayangi mu.. lalu adit pun menggam tangan putri begitu erat.
“ayah.. ibu .. kakak … panggil adit .. lalu mereka perlahan medekati adit..
iya sayang… jawab ibu nya,,
“hari ini adalah hari yg paling bahagia untuk ku.. karna aku bisa berkumpul dengan kalian orang yg sangat aku cintai..  dan jika nanti aku pergi jangan ada alasan untuk menangisi kepergian ku..
Putri    : kamu jngan ngomong gitu dit?? Kenapa ucapanmu aneh begitu??
Adit  : kurasa sudah sa’at nya kmu buka kado yg aku kasih buat km waktu itu.
Putri    : iya nanti pasti aku buka..
Adit     : aq sayang km put,, aq sayang ibu, ayah, kakak dan kamu nal.
Putri    : ea.. kami jg sangat menyayangi mu..
Adit  : tuhan terimakasih engkau telah mengabulkan do’a ku..
lalu perlahan mata nya mulai menutupi dunia sambil berkata.
” sampai kapan pun sayang ku kan slalu ada di hati mu. Karna nama ku terukir indah di hati mu yg terdalam
Adit pun menghembuskan nafas terakhir nya sambil tersenyum.
Serentak  keluarga besar mulai bergelinangan air mata menyaksikan kepergian adit..
Putri : jangan tinggalkan aku dit.. bangun dit… bangun dong dit……. Aditttttttt……………
“ teriak putri sambil memeluk tubuh orang yg begitu dicintainya.
Ibu adit pun memeluk putri yg saat itu menangis histeris..
sudah lah nak,, adit sudah mendahului kita semua, kita do’a kan yg tebaik untuk nya..
sebenarnya adit mengidap penyakit kangker stadium akhir, doketer bilang seharusnya dia dapat bertahan 4 bulan lagi, Tapi mendadak adit minta dipindah kan keruangan yang biasa saja, katanya ingin menghabiskan waktunya bersama orang orang yang dicintainya..   semoga adit di terima dengan layak di sisi tuhan nak.. tutur ibu sambil menangis tersedu sedu..
amiinn ya allah ya tuhann ku. {jawab keluarga besar adit yg betada di situ}
Tampak disana suasana haru menyrlimuti ruang rawat adit, begitu sulit melepas kepergiannya, begitu indah kenangan saat dia masih di sini.
sampai saat dimandikan dan saat adit dimakamkan dia slalu tersenyum menatap dunia..
Turut hadir keluarga besar putri kekasih nya menghadiri pemakaman adit. {suasana sedih pun tak terelakkan lagi }
°^°^°^°^°^°^
Satu mingggu kemudian setelah pemakaman adit, putri yg masih belum kuat untuk membuka kado itu akhir nya memberanikan diri untuk membuka nya, Ternyata kado itu sebuah cincin yg sangat diinginkan putri waktu jln di suatu mall bersama adit, serta sepucuk surat yg di tulis adit.
To : my love.
“TUHAN.. terimaksi enggkau telah memberikan bidadari yg begitu cantik untuk ku..
Terimakasi engkau telah mengajarkan arti cinta sejati kepada ku hingga saat nya nanti, sa’at engkau berkehendak lain.. 
Aku tidak akan meminta engkau menyembuh penyakitku, aku cuma ingin semua orang yg aku cintai hadirr dalam pelukanku.. kurasa semua itu sudah cukup.
Put,, belajar lah untuk selalu tersenyum kpd siapa pun put.. walau engkau begitu membencinya,karna senyum adalah awal dari kebahagian mu.. 
Walau raga ku terpisah dengan arwah ku.. namun cinta kukan tetap abadi untuk mu.
™putri aku mencintaimu
Lalu putri pun  duduk  dilantai kamarnya sambil menangis berjam jam dengan penyesalan yg ia lakukan..makasih dit.. aku akan blajar tersenyum untuk mu dan org yg q cintai, dulu km yg slalu membuat qu tersenyum,begitu indah kenangan bersama mu,begitu sulit untuk ku menemukan pengganti mu,, namun kini ku kan slalu membuat mu tersenyum di alam sana, aku mencintaimu adit.. SELAMANYA.
THE END.
NB : Jangan pernah menyia2kan orang yang benar2 tuluz menyayangi mu demi harta, bayangkan begitu indh sebuah cinta yg dijlani dengan ketulusan. 
Andai di dunia ini banyak orang yg menjalani cinta dengan senyum, ketulusan tanpa memandang materi, pastilah orang itu adalah orang yg paling beruntung karna dapat merasakan arti cinta sejati dan jangan lah engkau menyianyiakan ketulusan cinta itu karna kebahagiaan itu tergantung pilihan kita masing masing,,
Provil.
Penulis : yogga arviyan.
Ttgl       : kendal 11- april – 1985
Hoby    : menulis , browsing , basket dan balapan liar.
Tokoh favorit : ipin & upin.
Email. : cahayaarviyan2@gmail.com
 
Blogger Templates